
Setelah dua minggu berlibur, rasanya cukup lama meninggalkan sekolah.
Kedatangannya di sekolah langsung di sambut oleh sahabatnya, karena Zahra sengaja melarang Nur datang ke rumah karena sudah pasti tidak akan bisa bertemu dengannya, lagi pula juga tidak akan leluasa karena rumah masih banyak tamu, maklum ustad Zaki termasuk orang penting di kampung Zahra.
"Ya Allah , tambah segera aja!" ucap Nur sambil memeluk sahabatnya itu.
"Masak sih?" tanya Zahra sambil memperhatikan dirinya dari bayangan yang di pantulan oleh kaca jendela yang ia lalui.
"Dikit!?" ucap Nur lagi sambil melepaskan pelukannya dan Zahra pun mendekat ke arah jendela, memastikan yang dikatakan Nur benar,
"Iya benar, perasaan nggak banyak makan di sana!"
"Pengaruh hormon kali!?" ucap Nur ceplas ceplos.
"Hormon apa?"
"Hormon udah nikah!"
"Bisa aja kamu, oh iya nomor ujianku gimana?"
"Beres!!! Memang ustad Zaki nggak ngomong?"
"Ngomong apa?"
"Kalau nomor kamu sudah di ambilkan!"
"Enggak! Emang kebiasaan dia,suka banget main rahasia-rahasia an. Ohhh iya gimana Bayu?"
"Masih kepo aja!?"
"Enggak, cuma nanya!"
"Bayu pindah sekolah!"
"Hahhhh, kan cuma tinggal satu bulan aja sekolahnya, kenapa pindah?"
"Nggak tahu, masih patah hati kali. Dia katanya pindah ke Surabaya, balik ke kelas 2!"
Hehhh ....
Zahra menghela nafas, "Kasihan sekali dia!"
"Jangan kasihan, ntar tumbuh lagi butir-butir cinta loh!"
__ADS_1
"Nggak akan, kan udah ada mas ustad yang ganteng!"
Mereka pun terus mengobrol sambil berjalan ke kelasnya, ujian hari ini sudah akan di mulai, para siswa berpakaian lebih rapi dari pada hari biasanya, sekolah juga lebih sepi karena kelas sepuluh dan sebelas tidak masuk.
"Tadi beneran?" tanya Zahra lagi memastikan.
"Apanya?"
"Bayu?"
"Ya iya lah, tapi jangan khawatir. Kalau mau ketemu lagi sama dia, dia masih bakal balik ke sini buat ngurus surat kepindahannya, karena sudah musim ujian makanya guru masih menarik ulur, kasihan juga kan kalau harus ngulang!"
"Sok tahu banget!?" Zahra mencebirkan bibirnya.
"Nggak percaya banget, aku dapat bocoran dari guru tahu!"
"Ohhh iya, lupa kan kamu OSIS!"
"Nah itu tahu!"
Akhirnya bel masuk berbunyi, mereka terpaksa berpisah karena tidak satu kelas. Satu kelas biasanya di jadikan dua kelas saat ujian, jadi Zahra dan Nur tidak bisa bersama-sama lagi.
***
"Biasa mas!?"
Ustad Zaki menghentikan kegiatannya begitu mendengar jawaban dari sang istri,
"Biasa gimana?"
"Biasa, ya seperti biasa_, susah!!!" ucap Zahra sambil nyengir membuat ustad Zaki mengusap kepalanya yang tidak mengenakan hijab. Zahra memang belum bisa mengenakan hijab saat di rumah, ia hanya memakainya saat keluar rumah atau sedang ada tamu.
"Nanti belajar ya, biar besok jauh lebih mudah. Insyaallah nanti mas luangkan waktu buat temenin dek Zahra belajar!"
Mati aku ...., batin Zahra.
"Nggak usah mas, kan biasa kalau malam Selasa gini mas ada rutinan pengajian sehabis isya', jadi Zahra bakal belajar sendiri. Kan kalau nungguin mas ustad kemalaman, Zahra ngantuk dong!"
Ustad Zaki tersenyum dan meraih tangan Zahra,
"Dek, yakinlah usaha dan doa kita akan indah pada waktunya. Mas cuma ingin dek Zahra merasa bahagia, jika menurut dek Zahra itu sudah cukup maka mas juga nggak akan maksa!"
"Ihhhh kok gitu sih mas ngomongnya!?"
__ADS_1
"Mas salah ngomong ya?"
"Enggak!"
"Trus, Zahra kan jadi ngerasa bersalah kalau nggak belajar yang bener!"
Ustad Zaki kembali tersenyum dan mengecup punggung tangan Zahra,
"Nah tahu kan, bersyukur itu sulit dek. Tapi mensyukuri nikmat yang di berikan oleh Allah itu indah!"
Grudakkkk
Zahra tiba-tiba berdiri dari duduknya hingga tubuhnya mampu menggeser kursi yang ia duduki, ia meletakkan telapak tangannya di pelipis seperti sedang hormat.
"Baiklah, ustad Zaki yang terhormat. Zahra mu ini akan belajar yang sungguh-sungguh!"
"Ya Allah dek, pelan-pelan saja. Nggak ada yang sakit kan?" tapi ustad Zaki malah terlihat khawatir sambil mengusap punggung dan perut Zahra.
"Apaan sih mas, nggak pa pa. Kursinya kan cuma nyempil dikit! Palingan kalau sakit yang sakit kursinya. Sudah mas ustad sekarang berangkat aja ke masjid, Zahra mau sholat ashar trus lanjut belajar, lanjut sholat magrib lanjut belajar di lanjut lagi sholat isya trus lanjut_!"
"Belajar?"
Zahra menggelengkan kepalanya, "Tidur! Kan belajarnya udah!"
"Baiklah, semampu dek Zahra saja, jangan di paksakan. Kalau capek langsung tidur!"
"Berarti boleh absen sholatnya dong?"
"Kecuali yang itu."
"Siap mas ustad!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1