Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pengajian 2


__ADS_3

Satu per satu jama'ah mulai memasuki masjid hingga lantai masjid itu hampir penuh.


Setelah dilihat-lihat, barulah Zahra menyadari sesuatu,


Kenapa jama'ah nya kebanyakan remaja ya? Semua senyum-senyum cari muka lagi ...


Tiba-tiba Zahra kesal melihat para remaja itu senyum-senyum nggak jelas pada ustad Zaki sambil cari perhatian.


Pantas aja semangat banget ngasih materi pengajian, jama'ah nya bening-bening semua ...


Akhrinya Zahra teringat sesuatu, ia kembali mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang seharusnya berada di sana,


Hahhhh, kayaknya si Imah nggak datang nih, syukur deh ...


Ia merasa lega karena tidak bisa menemukan keberadaan Imah, tapi senyumnya melebar begitu melihat Nur yang baru saja masuk, dengan reflek Zahra melambaikan tangannya.


"Nur!?"


Seketika suaranya yang keras memenuhi penjuru masjid membuat Zahra kembali jadi pusat perhatian, beberapa dari mereka awalnya tidak menyadari jika ada Zahra di sana tapi karena ulah Zahra sendiri mereka jadi tahu keberadaan Zahra begitu juga dengan Nur,


"Ehh itu nggak salah, si Zahra?"


"Iya, itu beneran Zahra. Nggak kepanasan apa datang ke pengajian!"


"Mungkin sama ustad Zaki sudah di rukyah kali setiap hari!"


"Cari muka kali sama ustad Zaki, biar di bilang istri yang berbakti!"


"Iya, istri Sholehah!"


Seketika terdengar beberapa jamaah saling berbisik menggunjing keberadaan Zahra di sana.


Memang ini pertama kalinya Zahra mengikuti acara seperti ini.

__ADS_1


Dalam setahun Zahra hanya dua kali datang ke masjid, yaitu di dua hari raya umat Islam, idul Fitri dan idul adha itu pun butuh bujukan yang luar biasa dari Bu Narsih.


Bukan Zahra namanya jika tidak kebal dengan segala gunjingan miring tentang dirinya, asal tidak menjelekan keluarganya baginya tidak masalah, terbukti ia masih bisa senyum sekarang.


Beruntung umi tidak memperhatikan gunjingan orang-orang di sekelilingnya karena ia tengah sibuk berbincang dengan ibu-ibu di sebelahnya.


Karena melihat ada tempat yang masih kosong di samping Zahra, Nur pun memilih memilih menghampiri Zahra. Ia berjalan dengan.menunduk meminta jalan pada orang-orang yang duduk di depan Zahra,


"Assalamualaikum, zah!"


"Waalaikum salam!"


"Aku nggak nyangka kamu di sini!"


"Kenapa? Mau ngomongin aku kayak mereka?" tanya Zahra sambil mengangkat dagunya menunjuk ke arah gerombolan remaja-remaja putri nan heboh mengambil foto suaminya.


"Ya enggak lah, justru aku seneng. Akhirnya kamu mau datang juga. Kalau gini kan aku jadi punya teman!"


"Aku sendiri Zahra." keluh Nur yang memang tidak pernah punya teman untuk di ajak bicara seperti dirinya berbicara dengan Zahra saat ini.


"Husssttttt, pengajian mau di mulai!" tiba-tiba umi menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri, memberi isyarat pada Zahra untuk diam.


"Iya, umi!"


Nur gagal fokus, ia tampak berpikir keras untuk mencari jawaban siapa wanita berpakaian syar'i yang terlihat begitu dekat dengan sahabatnya itu, hingga akhirnya ia tidak tahan untuk tidak bertanya pada Zahra. Ia pun mendekatkan bibirnya ke daun telinga Zahra yang tertutup hijab,


"Ibu itu siapa?" bisiknya.


Zahra pun bergantian mendekatkan bibirnya ke daun telinga Nur,


"Uminya ustad Zaki!"


Ya Allah, pantesan ustad Zaki ganteng banget, umi nya aja cantik gitu ...

__ADS_1


Akhirnya semua jamaah terdiam ketika MC acara membacakan mukhodimah dan menyebutkan runtutan acaranya. Hanya semacam simbolis karena acaranya hanya akan di isi dengan bacaan ayat suci Al Qur'an dan penyampaian materi pengajian oleh ustad Zaki.


Zahra begitu terkejut ketika MC menyebutkan sebuah nama yang akan menjadi pembaca ayat suci Al Qur'an,


Imah ....


Semua terlihat hikmat mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an yang merdu dari Imah, Zahra hanya bisa terdiam terpaku, apalagi saat ini Imah duduk begitu dekat dengan ustad Zaki. Hal itu membuat Zahra semakin tidak suka.


Apalagi bisik-bisik dari beberapa ibu-ibu di belakangnya yang membuat hatinya semakin panas,


"Masyaallah suara Imah memang bagus, pantes banget bersanding dengan ustad Zaki!"


"Iya, satu cantik satunya lagi ganteng!"


"He'eh, ustad Zaki susah pinter ganteng lagi, cocok banget sama Imah yang juga pinter."


Bisik-bisik itu benar-benar berhasil membuat kuping Zahra panas, ia segera menoleh ke belakang dan menatap tajam pada ibu-ibu itu membuat mereka terdiam seketika. Sepertinya mereka lupa jika Zahra adalah istri dari ustad yang baru saja di jodoh-jodohkan dengan Imah.


Nur yang menyadari sahabatnya itu tengah terpancing amarah, ia pun segara menggema tangan Zahra,


"Sabar Zah, anggap ujian jadi istri ustad tampan!" bisiknya membuat Zahra kembali menatap ke depan.


"Enak aja jodoh-jodohin suami orang, mereka nggak mikir kalau suaminya di jodohin sama perempuan lain." gerutu Zahra dan itu di dengar oleh umi, umi tersenyum tipis mendengarkan gerutuan dari menantunya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2