
" Mata kamu kenapa, Zak? Ummi lihat dari tadi pagi kayak kurang tidur?" tanya ummi yang tengah sibuk menyiapkan makanan untuk sang putra.
Zaki mengusap pipinya dan memang terasa berat matanya. Karena semalam tidak bisa tidur, ia pun akhirnya memutuskan untuk telponan dengan sang istri hingga larut malam bahkan sampai pagi. Ia hanya tertidur setengah jam sebelum akhirnya bangun lagi untuk sholat tahajud dan seperti biasa, ustad Zaki tidak pernah tidur lagi setelah sholat tahajud, ia akan melanjutkan dengan mengaji dan sholat subuh.
"Zaki hanya kurang tidur aja, ummi!?"
"Udah kangen banget ya sama Zahra?" tanya ummi sambil mengerlingkan matanya menggoda sang putra.
"Nggak gitu ummi!" sanggah ustad Zaki dengan wajah malu-malu nya, karena nyatanya ia sudah ketahuan.
"Sama ummi nggak usah malu, kali Zak! Abi kamu dulu juga suka gitu kalau ummi tinggal lama. Sampai sekarang pun masih sama," ucap ummi sambil membayangkan kenangan-kenangan indah bersama suaminya.
"Oh iya, ngomong-ngomong dari tadi Abi nggak kelihatan, Abi kemana ummi?" dari pada menjadi bulan-bulanan umminya, ustad Zaki memilih mengalihkan pembicaraan, lagi pula memang semenjak pulang dari masjid, ia tidak menemukan abinya.
"Ummi lupa bilang ya tadi?" tanya ummi dan Zaki pun mengangukan kepalanya, "Abi kamu dapat undangan ke Jakarta, jadi harus berangkat pagi-pagi sekali tadi habis dari masjid. Dan ummi di minta Abi kamu kalau hari ini kamu nggak sibuk, suruh gantiin Abi kamu ngajak di pesantren."
"Ohhh! Nggak kok ummi, hari ini kebetulan Zaki nggak ngisi materi di seminar."
"Ohhhh, jadi nggak wajib setiap hari datang trus ngisi acara ya?" tanya ummi lagi, ustad Zaki yang mulai menyantap sarapannya pun kembali menghentikannya,
"Iya ummi, karena Zaki pemateri termuda di sana jadi Zaki dapat jadwal paling banyak, dan juga Zaki sengaja percepat jadwalnya kalau ada waktu kosong sengaja Zaki isi, buat bisa cepet habis materi Zaki."
"Ngebet banget!? Nggak ada rencana buat nyuruh Zahra yang ke sini nyusulin kamu?"
"Kan Zahra nya masih magang, ummi."
"Kata Abi kamu, magangnya Zahra di tempat kamu? Jangan ketat-ketat lah sama istri sendiri, bolos beberapa hari juga nggak pa pa, kan yang ngasih nilai kamu!"
"Apaan sih ummi, itu artinya Zaki ngajarin dek Zahra jadi nggak tanggung jawab, ummi."
"Sekali-kali Zaki!"
"Kalau sekali-kali, jatuhnya ntar jadi dua kali, tiga kali dan seterusnya ummi!"
"Kamu tuh ..., ummi emang nggak pernah menang kalau debat sama kamu. Nggak kebayang gimana jengkelnya Zahra ngadepin kamu!?" ucap ummi sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, dan ustad Zaki hanya tersenyum menanggapi ucapan umminya.
"Oh iya, Zak!" panggil ummi lagi begitu mengingat sesuatu.
Zaki kembali menghentikan makanannya dan menatap ke arah ummi,
"Iya! Ada apa, ummi?"
__ADS_1
"Kata Abi kamu kemarin kamu dapat surat dari ustadzah Nafis ya?"
Ustad Zaki pun akhirnya benar-benar menghentikan makannya,
"Iya ummi!"
"Lalu, bagaimana menurutmu?"
"Ya nggak gimana-gimana ummi!"
"Ummi tahu bagaimana sejak dulu, kenapa kamu selalu menolak lamaran kyai Ramli, dan sekarang_!"
"Dan sekarang pun sama ummi!" ucap ustad Zaki segera memotong ucapan umminya,
"Jadi kamu sudah benar-benar memutuskannya?"
"Iya, Zaki sudah menentukan jawabannya semenjak Zaki memutuskan untuk menerima lamaran dek Zahra, dan semenjak itu semua lamaran yang datang ke Zaki otomatis Zaki tolak termasuk punya kyai Ramli."
Ummi pun tersenyum dan mengusap bahu putranya, "Ummi tahu, kamu putra ummi yang berprinsip. Pesan ummi, jangan pernah menyakiti hati wanita yang sudah kamu nikahi. Dia akan menjadi ummi anak-anak kamu kelak, ratukan dia seperti kamu meratukan ummi."
"Insyaallah!"
***
Hal itu tentu membuat pesantren menjadi sangat heboh, terutama para santriwati.
"Ya Allah Zaki. mbok ya setiap hari gini, pesantren kan jadi adem kalau ada kamu!"
"Ya nggak bisa Rid, lagi pula apa gunanya ada kamu di sini."
"Adanya aku nggak ngaruh Zak. Atau gini aja deh, bagi tuh kegantenganmu sedikit sama aku!"
"Astaghfirullah hal azim, Farid. Bersyukur sama Allah masih di kasih nyawa!"
"Astaghfirullah hal azim, tadi khilaf."
Beruntung ada Farid, jadi ustad Zaki tidak terlalu kesepian menggantikan abinya mengajar di pesantren selama abinya pergi ke Jakarta.
Rencananya sang Abi selama tiga hari di Jakarta untuk memenuhi undangan lomba hafidz para santri, jika maju ke final bisa jadi lebih lama lagi, bisa sampai satu Minggu.
Selesai mengajar, mereka sengaja menghabiskan waktu ngobrol di taman belakang pesantren yang langsung menghadap ke pengunungan, pemandangannya cukup menyejukkan mata.
__ADS_1
Mereka duduk di Gasebo yang berbuat dari bambu, semilir angin menyapu kulit, membuat siapapun bisa terlena karenanya,
"Ingat nggak dulu kita sering sembunyi di sini kalau habis nyuri mangganya pak Budi!?" ucap Farid sambil mengenang kenakalan mereka saat kecil dan ustad Zaki tersenyum,
"Kalau ingat itu jadi ngerasa bersalah sama pak Budi, bagaimana kabar pak Budi sekarang?"
"Sudah dua tahun ini pak Budi di ajak anaknya ke Semarang, rumahnya sekarang di jadikan tempat kos anak sekolah!"
"Sayang sekali!?" ustad Zaki kembj melihat ke arah gunung, tampak matanya menerawang jauh dan Farid pun jadi tertarik untuk melakukan hal yang sama.
"Kamu sudah tahu belum kalau ustadzah Nafis_!" tanya Farid membuat ustad Zaki dengan cepat menoleh ke arahnya.
"Ke Malaysia sama keluarganya!" potong ustad Zaki dan kembali mengarah ke depan.
"Kok malah sudah tahu, kamu masih suka kepoin ustadzah Nafis ya?" tanya Farid penasaran.
"Astaghfirullah, enggak lah Rid, Abi yang bilang!" ustad Zaki tidak mau jika farid sampai berpikir macam-macam tentangnya.
"Kamu sudah benar-benar nggak cinta lagi sama ustadzah Nafis?"
"Kami tidak berjodoh, Rid!" ustad Zaki segera mempertegas.
"Aku pikir kamu sengaja menolak lamaran kyai Ramli karena kamu merasa minder sama ustadzah Nafis dan pergi mondok di jawa timur. Tapi ternyata kamu malah nikah duluan,"
"Allah yang menentukan dengan siapa kita berjodoh, Rid. Kita sebagai hambaNya hanya bisa merencanakan, tetap keputusan terbesar di tangan Allah dan insyaallah aku bahagia dengan takdir yang sudah Allah tetapkan padaku."
"Tapi ini sungguh mengagetkan buat aku, mungkin bukan hanya aku tapi semua orang yang mengenalmu!"
Ustad Zaki kembali tersenyum dengan tenangnya, dan tidak berniat menjawab ucapan Farid, ia lebih tertarik mengambil gambar pemandangan itu dengan kamera ponselnya lalu mengunggahnya ke sosial media pribadinya.
...Segala yang datang dan pergi ada maksud dan tujuannya, Allah menempatkan kita pada situasi tertentu karena Allah ingin melihat bagaimana kita bisa bersabar dalam keadaan itu dan menjadi hambaNya yang pandai bersyukur....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...