Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Lupa rasanya


__ADS_3

"Apanya?" tanya Zahra penasaran.


"Nanti ya, assalamualaikum!". ustad Zaki segera mengakhiri ya, ia sudah tertinggal sholat berjamaah, walaupun di masjid tapi ia juga tidak bisa berjamaah karena sudah berlalu lima belas menit yang lalu.


"Waalaikum salam!" jawab Zahra pasrah. Ia hanya bisa menatap punggung suaminya yang berlalu dari hadapannya.


"Kenapa sekarang rasanya beda ya?" gumamnya pelan, ia merasakan kenyamanan saat dekat dengan ustad Zaki. Rasa itu entah sejak kapan datangnya, tapi yang pasti ia merasa nyaman.


Seperti biasa ustad Zaki akan ke masjid untuk mengajar anak-anak ba'dha ashar dan mengajar para remaja ba'dha magrib, biasanya baru akan kembali ba'dha isya'. Tapi sekarang ustad Zaki sudah meminta seseorang untuk menemani Zahra selama dia tinggal ke masjid.


Seorang janda tidak jauh dari rumah mereka bernama Marni, selain menemani Zahra saat sore hari ia juga membantu membersihkan rumah di pagi hari saat Zahra dan ustad Zaki pergi, jika pagi ia akan datang dua hari sekali tapi jika sore ia akan datang setiap kali ustad Zaki memangilnya.


Seperti biasanya, menjelang magrib Bu Marni akan datang hingga ustad Zaki kembali baru pulang.


"Assalamualaikum, nduk Zahra!" sapaan akrabnya pada Zahra,


"Waalaikum salam! Budhe Marni, tumben sudah datang?" Zahra tengah duduk di teras rumah sambil menunggu waktu magrib.


"Iya, hari ini Weni sedang ada kerja kelompok di rumah temannya, dari pada saya sendiri di rumah mending kesini saja menenin nduk Zahra!" jawabnya dengan lugas, kebetulan Bu Marni tidak julit seperti tetangga-tetangga yang lainnya hingga cukup membuat Zahra nyaman.


Weni sebenarnya seumuran dengan Zahra, hanya saja mereka bersekolah di sekolah yang berbeda, Weni sekolah tidak terlalu jauh dari kampung mereka, hanya di tempuh dengan jalan kaki saja sudah sampai berbeda dengan sekolah Zahra yang harus naik angkot dulu agar sampai ke sana.


"Duduk dulu sini, budhe. Temenin Zahra ngobrol!" Zahra menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya.


Bu Marni pun akhirnya melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh Zahra, mereka pun duduk bersama sambil menikmati suasana sore di pedesaan yang asri, angin semilir membuat suasana semakin damai.


"Weni juga sudah mau lulus kalau nggak salah ya budhe?" tanya Zahra untuk memulai pembicaraan.


"Iya, nduk. Sebentar lagi juga PKL."


"Sama dong kalau gitu budhe, Zahra juga. Weni sudah dapat tempat buat magang belum budhe?" tanyanya antusias, karena sampai sekarang Zahra belum mendapatkan tempat magang yang cocok.


"Katanya ada si dekat pasar, sebuah rumah makan kalau nggak salah. Katanya di sana menerima banyak anak magang karena rumah makannya cukup besar, cabangnya juga lumayan sudah banyak."


"Yang bener budhe!? Zahra malah belum dapat!"


"Kalau nduk Zahra mau, coba nanti budhe tanyakan sama Weni masih masih bisa ikutan magang di sana nggak! Soalnya seinget budhe, Weni bilang masih terima anak magang."


"Wahhhh kalau ada Zahra mau, Zahra seneng banget pasti budhe!"


Kemudian Bu Marni terdiam, mengingat sesuatu,


"Tapi, bukannya biasanya sama Nur?" Zahra dan Nur seperti tidak terpisahkan.


"Nggak lah budhe, Zahra pengen ganti suasana, lagi pula Nur kan anak OSIS jadi sudah langsung di rekomendasikan dari sekolah nggak kayak Zahra yang mesti nyari sendiri!"

__ADS_1


"Tapi nggak masalah kan?" tanya Bu Marni ragu, ia takut membuat persahabatan Zahra dan Nur terganggu.


"Nggak lah budhe, Nur itu anaknya satai. Nggak ngambekan pokoknya!"


Akhirnya pembicaraan mereka harus terhenti setelah suara azan magrib berkumandang, mereka masuk ke dalam rumah dengan aktifitasnya masing-masing.


Seperti biasa, Bu Marni akan sholat di ruang sholat yang ada di rumah itu, sedang Zahra memilih sholat di kamar, hingga menunggu waktu isya' barulah Zahra keluar dari kamar. Dan seperti biasanya, sembari menunggu Bu Marni akan memasak atau membereskan dapur rumah Zahra.


"Ya ampun budhe, nggak usah repot-repot gitu. Biar Zahra aja yang bersihin!" ucap Zahra saat keluar kamar dan melihat Bu Marni yang masih sibuk di dapur.


"Nggak pa pa, nduk. Ini cuma sedikit. Oh iya, ini sudah budhe gorengin tempe menjes, Pumpung hangat ayo di makan!" ucapnya sambil meletakkan sepiring besar tempe menjes yang masih hangat.


Zahra pun berjalan cepat di duduk di dekat Bu Marni yang masih sibuk dengan pekerjaannya,


"Seneng banget, ini kayak gorengan yang di buat ibuk!" ucap Zahra sambil mencomot satu lembar tempe menjes yang masih panas tidak lupa dengan cabai rawit hijaunya.


"Jadi ingat, gimana kabarnya kang Warsi, apa sudah lebih baik sekarang? Kayaknya saya jarang ketemu di ladang!"


"Alhamdulillah budhe, sudah lebih baik. Memang sama ibuk nggak boleh sering-sering pergi ke ladang, takut kumat lagi!"


"Alhamdulillah kalau begitu,"


Bu Marni tiba-tiba duduk tepat di depan Zahra, ia menatap Zahra dengan senyum teduhnya meskipun tertutup dengan wajah kusam dan kerutnya, tapi masih terlihat jika wanita di depannya itu cantik.


"Ada apa budhe?"


"Kenapa budhe?"


"Mutiara yang murni itu memang tidak seperti batu kali yang tampak bersih, tanpa lumpur dan terlihat mengkilap, tapi mutiara murni itu adanya di dasar lumpur, masih di tutup oleh cangkang yang juga tidak bersih."


"Maksudnya apa sih budhe? Zahra nggak ngerti!"


"Kamu itu bagai mutiara yang masih tertutup lumpur, nduk. Suatu saat, jika lumpur itu sudah bersih pastilah semua akan bisa melihat keindahan mu!"


"Heeee!" Zahra hanya tersenyum, ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Bu Marni. "Oh iya budhe, Zahra hampir lupa. Kebetulan Zahra bawa oleh-oleh buat budhe dan Weni."


Zahra mengambil paper bag yang ada di sebelahnya dan menyerahkannya pada Bu Marni,


"Ini apa nduk?"


"Cuma cemilan dan ada baju, kalau baju mas ustad yang pilihin, semoga budhe suka!"


"Terimakasih, nduk!" Bu Marni tampak begitu senang menerima oleh-olehnya.


Hingga akhirnya ustad Zaki kembali dan Bu Marni pun berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


Kini Zahra dan ustad Zaki sudah duduk di depan tv sambil menikmati gorengan buatan Bu Marni,


"Tadi sudah dek, punya bu Marni?"


"Sudah!" jawab Zahra dengan mulut yang masih penuh dengan gorengan,


"Bu Marni tadi ngomongin apa? Kayaknya serius banget!" tanya ustad Zaki sambil menatap Zahra.


"Nggak ada, cuma nanyain keadaan bapak!"


"Besok kita berkunjung ke sana ya, sekalian kasih oleh-olehnya! Bawakan juga yang buat Nur!"


"Iya!" Zahra menjawab dengan santai, tapi kemudian ia teringat sesuatu, "Oh iya mas, Zahra boleh tanya ya?"


"Hmmm, tanya aja dek!"


"Yang tadi pagi, apa itu artinya Zahra sudah tidak perawan? Atau malah yang semalam?"


"Yang mana?" ustad Zaki pura-pura tidak mengingatnya.


"Yang tadi malam! Kenapa mas ustad telanjang? Nggak pakek baju pas bangun tidur!"


"Ohhh itu! Bukan apa-apa!" jawab ustad Zaki dengan santainya.


"Jangan-jangan kita sudah_! Trus di langit tadi pagi ya?"


Dek Zahra benar-benar imut kalau lagi panik begitu ..., rasanya begitu menyenangkan menggoda istri kecilnya.


"Iya! Kita sudah melakukan banyak hal tadi malam, masak dek Zahra lupa sih!"


"Yang bener?!"


"Beneran dek!"


Yahhh kenapa aku ketiduran, jadi nggak ingat kan rasanya gimana!



Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2