
Seperti janji ustad Zaki pada Zahra, pagi ini sengaja ustad Zaki mengajak Zahra ke pesantren.
"Kenapa harus pagi-pagi mas?" tanyanya pada sang suami.
"Mas sebenarnya nggak tahu jadwalnya ustadzah Nafis, jadi nggak pa pa ya kalau nanti mungkin sedikit nunggu!?" ucap ustad Zaki khawatir, tapi ia juga tidak ingin sampai hari ini istrinya tidak bertemu dengan ustadzah Nafis.
"Nggak pa pa deh, tapi ada ruang tunggunya kan? Atau kalau tidak tempat yang nyaman untuk menunggu dan tidak membuat kerusuhan di pesantren!"
"Nanti dek Zahra tunggu di ruang guru aja ya!"
"Tapi kan nggak enak sama ustad -ustad yang lain!?"
"Nggak pa pa, kebetulan kalau pagi ustadnya nggak begitu banyak, mereka biasanya sibuk di kelas!"
"Kalau di taman gimana?"
"Takutnya lama dek, nanti dek Zahra kepanasan!?"
"Nggak pa pa, ngajak Sampek lima jam kan!?" Zahra masih dengan keras kepalanya.
"Baiklah, tapi mas harus ke kelas dulu, paling lama empat puluh lima menit jadi jangan kemana-mana ya sampai mas kembali!?"
"Iya mas!?"
Ustad Zaki pun akhirnya meninggalkan Zahra di taman, semua santri sudah masuk ke kelasnya masing-masing.
Pesantren milik abinya ustad Zaki memang sekalian ada sekolah umumnya, jadi para santri tidak perlu sekolah ke luar untuk pelajaran umumnya. Jika pagi mereka akan sekolah umum dan sorenya akan di tambah dengan pelajaran pesantren dan malamnya akan di tutup dengan mengaji Al Qur'an.
Zahra memilih duduk di salam satu bangku yang ada di tepi taman, matahari hari ini bersinar cukup cerah hingga membuat hawa dingin di kota Bandung sedikit berkurang.
Sembari menunggu, ia membunuh rasa bosannya dengan bermain gedgetnya.
Dari kejauhan, ustad Farid yang baru saja datang begitu terkejut melihat Zahra yang berada di lingkungan pesantren,
"Ya Allah, mimpi apa aku semalam, Sampek pagi-pagi gini harus ketemu sama Painem!?" keluh ustad Farid, ia pun memilih jalur aman.
Agar Zahra tidak menyapanya, ia pun hendak berbalik dan lewat belakang,
"Ustad Parid!?"
Tapi panggilan itu berhasil menghentikannya, rupanya Zahra menyadari kedatangan ustad Farid. Ia pun segara berdiri dan menghampiri ustad Farid.
"Assalamualaikum, ustad Parid!"
"Waalaikum salam!?" jawab ustad Farid dengan begitu judes.
"Judes banget, pagi-pagi galak gitu. Jauh ntar jodohnya!?"
__ADS_1
"Amit Amit, Amit Amit ..., tega bener doainnya!" keluh ustad Farid.
"Abis lihat Zahra kayak lihat hantu aja, langsung kabur!?"
"Nggak gitu, memang sedang terburu-buru!"
"Alasan, oh iya Zahra hampir lupa." Zahra pun mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan di berikan pada ustad Farid, "Ini uangnya aku kembalikan, kembaliannya ustad Parid ambil aja!?"
"Emang ada kembaliannya, yang ada aku buntung gara-gara dorong motor!?" gumam ustad Farid lirih.
"Apa ustad?" tanya Zahra yang tidak begitu mendengar apa yang di ucapkan ustad Farid.
"Enggak, nggak pa pa, ya sudah terimakasih. Lain kali jangan nyusahin lagi. Dan satu lagi nama saya Farid, bukan Parid, pakek F bukan pakek P, ingat ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!?"
Ustad Farid pun dengan cepat meninggalkan Zahra yang masih terdiam di tempatnya,
"Ustad Farid galak-galak lucu ya, pantes banget jadi temennya mas ustad!" gumam Zahra, ia pun kembali duduk di tempatnya dan kembali memainkan ponselnya.
Tapi baru lima belas menit ia duduk, ia kembali berdiri saat melihat seseorang yang tengah ia tunggu-tunggu akhirnya muncul juga.
"Itu ustadzah Nafis!?" gumamnya begitu senang, ia pun segera berjalan menghampiri wanita dengan gamis dan hijab panjangnya, begitu pas di tubuhnya.
"Assalamualaikum, ustadzah Nafis!"
Zahra pun segera mengibaskan tangannya, "Bukan ustadzah, saya_!" Zahra bingung harus mengatakan apa, kemudian ia mengeluarkan buku dari dalam tasnya,
"Ini ustadzah, sebenarnya saya ke sini khusus mau nungguin ustadzah buat minta tanda tangan!" ucapnya sambil mengulurkan buku karya Nafiz_Z.
"Ohhh!" ustadzah Nafis pun tersenyum ramah, "Sebaiknya kita duduk dulu deh!" ucapnya sambil mengajak Zahra duduk kembali di tempatnya yang tadi.
"Kalau boleh tahu siapa nama adek?" tanya ustadzah Nafis dengan masih memegangi bukunya. Ia menatap Zahra sambil tersenyum.
"Zahra, ustadzah!"
"Zahra, namanya bagus. Panggilnya kakak aja, kan Zahra bukan santri sini, jadi panggil kakak nggak pa pa!"
"Jangan dong ustadzah, nggak sopan namanya!?"
"Nggak pa pa, tapi kalau kamu nyaman gitu juga nggak pa pa, aku nggak maksa..Oh iya, aku nggak pernah lihat kamu, kamu dari mana?"
"Saya dari Blitar!"
"Blitar?" mendengar nama Blitar, ustadzah Nafis cukup terkejut dan Zahra pun menganggukkan kepalanya.
"Sama siapa? Kan Blitar jauh? Kamu masih sekolah kan?" tanya ustadzah Nafis bertubi-tubi.
__ADS_1
"Assalamualaikum!?" sapa seseorang membuat Zahra mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan dari ustadzah Nafis.
Zahra dan ustadazha Nafis pun menoleh ke sumber suara dan rupanya itu ustad Zaki.
"Waalaikum salam!" jawab sabar dan ustadzah Nafis bersamaan.
Ustadzah Nafis pun segera berdiri dan di ikuti oleh Zahra,
"Ustad Zaki!?" ucap ustadzah Nafis terkejut, apalagi saat ustad Zaki berjalan ke arahnya.
Bukan_, rupanya bukan ke arahnya, tapi ke arah Zahra. Ustad Zaki segera merangkul bahu Zahra,
"Rupanya kalian sudah ketemu, baguslah aku tidak perlu susah-susah mencari ustadzah!?" ucap ustad Zaki sambil mengalungkan tangannya di bahu Zahra dan hal itu berhasil menjadi pusat perhatian ustadzah Nafis.
"Ustad_!" ustadzah Nafis sampai terpaku di buatnya, ia tidak tahu apa hubungan mereka tapi melihat bagaimana dekatnya ustad Zaki dengan gadis bernama Zahra menyiratkan mereka ada hubungan yang cukup dekat.
"Oh iya, hampir lupa. Kenalkan ustadzah, dia Zahra, istri saya!?" ucap ustad Zaki memperkenalkan Zahra sambil tersenyum menatap Zahra.
"Tadi sudah kenalan mas, iya kan ustadzah?"
"Iya!" jawab ustadzah Nafis singkat, ia masih tidak menyangka. gadis di depannya adalah istri ustad Zaki, usia mereka jelas terpaut jauh, Zahra masih anak sekolahan.
"Oh iy, buku itu. Kemarin saya mencarikannya untuk istri saya, dia ingin sekali meminta tanda tangan ustadzah Nafis!"
Mendengar itu, ustadzah Nafis tersenyum, meskipun saat ini siapa yang tahu dengan hatinya.
"Aku seneng banget ternyata ada yang menyukai bukuku!?" ucap ustadzah Nafis sambil beberapa kali membubuhkan tanda tangan ke dalam buku itu, tapi terlihat sesekali ia mengusap sudut matanya dengan hijabnya yang panjang,
"Sudah!?" ucap ustadzah Nafis sambil menyerahkan kembali bukunya pada Zahra,
"Aku seneng banget bisa ketemu kamu, Zahra! Tapi maaf banget hari ini aku sedikit terburu-buru, semoga lain waktu kita bisa ketemu lagi,"
"Nggak pa pa ustadzah, aku sudah seneng banget bisa ketemu ustadzah!"
"Baiklah, saya harus pergi. Assalamualaikum!*
"Waalaikum salam!" jawab ustad Zaki dan Zahra bersamaan barulah ustadzah Nafis meninggalkan mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1