Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Aku kembalikan padaMu


__ADS_3

Ceklek


Perlahan pintu terbuka dan seorang dokter keluar dari ruangan itu, ia masih memakai pakaian lengkap pasca operasi.


"Bagaimana dok?" tanya ustad Zaki dengan begitu khawatir.


"Alhamdulillah operasi berjalan lancar,"


"Alhamdulillah!!" ucap ustad Zaki dengan suara yang bergetar sambil menakupkan kedua tangannya di wajahnya.


Begitu juga dengan kedua orang tua Zahra, mereka sampai saling berpelukan karena bersyukur atas selamatnya anak dan mungkin salah satu calon cucunya.


"Sebentar lagi suster akan membawakan janin yang telah berhasil di keluarkan, pihak keluarga bisa membawanya pulang untuk di kuburkan!"


"Baik dok!"


Rasa syukur itu sedikit melukai hati saat mendengar keterangan dokter yang terakhir. Tapi semua sudah ada porsinya masing-masing dan manusia tidak bisa serakah.


"Kalau begitu saya permisi!"


Ustad Zaki hanya menganggukkan kepalanya,


setelah dokter berlalu tiba-tiba ustad Zaki kehilangan kekuatan kakinya, ia terduduk di lantai sambil menatap pintu yang setengah terbuka, kekuatan yang coba ia kumpulkan sedari tadi rasanya telah habis.


Plekkk


Pak Warsi memegang bahu menantunya,


"Ustad, ini sudah menjadi kehendak Allah, kita hanya harus lebih bersabar menghadapinya!"


"Enggeh pak,"


Benar saja, setelah beberapa menit seorang perawat keluar dari ruang operasi dengan membawa sebuah kantong plastik.


"Maaf, ini janin yang telah di keluarkan. Pihak keluarga di mohon untuk membawanya pulang!"


"Baik sus!"


Dengan tangan yang bergetar ustad Zaki menerima kantong itu, tangannya tergerak untuk melihat isi kantong itu, ternyata segumpal darah yang sudah di bungkus kain kasa dengan darah segar yang masih memenuhi kain kasa.

__ADS_1


Ya Allah, ku kembalikan apa yang bukan menjadi hak ku ya Allah, Engkau yang memberi kehidupan dan Engkau juga yang berhak untuk mengambilnya, innalilahi wa innailaihi Raji'un


"Nak bawalah pulang, minta Amir membantu mengurusnya, biarkan ibukmu ikut pulang, ngurus perkoro brokohan, masiho sek Rupo getih tapi Yo tetep bakal bocah (Mengurus upacara brokohan (genduri yang biasanya di lakukan jika ada yang baru melahirkan atau di sebut genduri barokahan), walaupun masih berupa darah tetap saja bakal bayi)!"


"Enggeh, pak!"


Akhirnya malam itu juga ustad Zaki memutuskan untuk pulang dengan Bu Narsih dengan membawa bakal janin yang sudah berhasil di keluarkan oleh dokter.


Meskipun sudah malam, kedatangan mereka di rumah langsung di sambut oleh beberapa tetangga termasuk Bu Marni, Bu Narsih sengaja langsung ke rumah putrinya untuk mempersiapkan acara brokohan besok pagi, beruntung Bu Marni sudah menyiapkan beberapa keperluan untuk acara brokohan jadi mereka tinggal memasaknya.


Sedangkan ustad Zaki segera mensucikan bakal janin itu hingga tidak ada lagi darah yang menempel di sana dan membungkusnya dengan kain kafan kecil agar tidak kemalaman di makam, dengan di temani Amir ia pergi ke makam untuk menguburkannya. Beruntung jalan ke makam cukup mudah dan dekat dengan pemukiman.


Selesai menguburkannya, ustad Zaki pun mengaja Amir ke mushola terdekat karena memang ia belum sempat sholat isya'


"Terimakasih ya Mir!" ucapnya saat mereka selesai sholat, ustad Zaki kembali memakai sendal dan jaketnya.


"Sama-sama ustad!"


"Untuk beberapa hari ini mungkin saya tidak bisa mengajar di madrasah, tolong kamu gantikan saya sementara ya Mir setidaknya sampai keadaan Zahra lebih baik!"


"Iya ustad, pasti! Insyaallah nanti malam saya akan ke rumah sakit biar pak Warsi gantian pulang, ustad!"


"Terimakasih banyak Mir, "


"Ohhh iya Mir, aku langsung ke rumah sakit lagi ya, keburu larut. Tolong sampaikan pada bu Narsih ya!" ustad Zaki sengaja membawa motor sendiri dan tidak berboncengan dengan Amir agar bisa langsung kembali ke rumah sakit.


"Iya ustad!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah mengucapkan salam, ustad Zaki pun segera menaiki motornya dan berlalu meninggalkan Amir yang masih berdiri di tempatnya.


Ustad Zaki benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Zahra, ia yakin sekarang zahra sudah di pindahkan ke ruang perawatan karena ini sudah lebih dari dua jam sejak ia meninggalkan rumah sakit.


Setelah memarkirkan motornya, langkahnya begitu cepat melewati lorong-lorong rumah sakit, tidak lupa ia bertanya pada pihak resepsionis tentang keberadaan istrinya. Dan benar saj Zahra sudah di pindahkan dari ruang operasi sejak setengah jam yang lalu.


"Assalamualaikum, pak!" sapanya pada pak Warsi yang tengah menunggu Zahra yang belum sadarkan diri karena pengaruh anestesi ya g di berikan padanya.

__ADS_1


"Waalaikum salam!" jawab pak Warsi dengan suara rendahnya, meskipun Zahra berada di kamar kelas satu dengan hanya di tempati Zahra sendiri, tetap saja ia tidak ingin membuat keributan di sana.


"Bagaimana pak dengan dek Zahra?"


"Belum sadar, kata dokter mungkin nanti tengah malam!"


"Sebentar lagi pak Dul akan datang menjemput bapak, bapak pulang saja ya, istirahat! Biar saya di temani Amir!"


"Baiklah,"


Akhrinya pak Dul datang bersamaan dengan Amir, Amir menggantikan pak Warsi menemani ustad Zaki.


"Ustad istirahat saja, nanti kalau Zahra bangun, ustad saya bangunin!" ucap Amir, ia yakin pastilah ustad Zaki belum istirahat sedari pagi.


"Tidak pa pa, aku belum ngantuk. Kalau kamu ngantuk tidur aja dulu, nanti kalau aku sudah merasa ngantuk kamu aku bangunin!"


"Aku juga belum ngantuk ustad, kalau begitu aku menunggu di luar ya ustad, kalau ada apa-apa panggil saja aku, atau kalau enggak telpon saja!"


"Iya!"


Akhrinya Amir meninggalnya. ustad Zaki berdua dengan Zahra yang masih terkulai lemah dengan slang infus yang masih terhubung dengan pergelangan tangannya.


Ustad Zaki menggeser duduknya agar bisa lebih dengan dengan sang istri, ia mengusap puncak kepala Zahra yang mengenakan hijab, berdiri dan mencondongkan tubuhnya agar bisa meninggalkan kecupan di kening sang istri, cukup lama ia tidak berniat untuk menjauhkan bibirnya dari kening sang istri.


"Terimakasih dek," bisiknya, "Terimakasih karena sudah menjadi wanita yang tegar dan kuat di sampingku!"


Ustad Zaki kembali duduk, ia menautkan jari jemarinya Dangan jari jemari Zahra, sedikit menarik tangan Zahra agar terangkat dan mencium punggung tangannya, mendiamkan tangan Zahra agar tetap berada di pipinya, hatinya begitu was-was menunggu saat Zahra kembali sadar. Ingin segara melihat senyum cantik zahra.


Wajah pucat Zahra semakin membuat wanita itu cantik alami, mungkin karena rasa sayang nya hingga membuat kecantikan Zahra semakin terpancar di mata ustad Zaki.


"Aku menunggumu dek, bangunlah!"


Meskipun ingin, tapi ia tengah menahan tangannya agar tidak mengusap perut rata Zahra karena di sana.masih ada luka bekas operasi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2