Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Perasaan lama yang terusik kembali


__ADS_3

Baru saja berjalan beberapa langkah dari mushola, tiba-tiba langkahnya seperti tertahan saat seorang wanita berdiri sekitar dua puluh langkah dari tempatnya, ingin rasanya berbalik dan melewati jalan lain tapi wanita itu terlanjur melihatnya.


Ustad Zaki pun terpaksa perlahan melangkahkan kakinya ke depan, wanita itu tempat tersenyum padanya.


Kini langkahnya semakin mengikis jarak diantara mereka, ustad Zaki perlahan berhenti saat jarak mereka sudah semakin kecil,


"Assalamualaikum, ustadzah Nafis!" sapanya sambil mengulas senyum, sejenak memandangnya lalu dengan cepat ustad Zaki menundukkan pandangannya.


"Waalaikum salam, ustad Zaki!" jawab ustadzah Nafis dan membalasnya dengan senyum yang tidak kalah anggun dengan suaranya.


"Bagaimana kabar ustadzah_?" tanya ustad Zaki, tapi belum selesai ustadzah Nafis lebih dulu memotong ucapannya.


"Nafis saja, saya masih sama seperti dulu. Atau mungkin ustad Zaki yang sudah berubah!"


"Insyaallah saya juga masih sama, tapi maaf saya tidak bisa memanggil hanya nama saja!"


"Bisa kita ngobrol sebentar?" tanya ustadzah Nafis.


***


Akhirnya kini ustad Zaki dan ustadzah Nafis sudah duduk bersama di salah satu rumah makan tidak jauh dari tempat diadakannya seminar, selain karena untuk melanjutkan obrolan mereka, mereka juga sengaja untuk mengisi perut. Sepertinya ustadzah Nafis juga belum sempat makan siang.


"Bagaimana kabar ustad Zaki?" tanya ustadzah Nafis begitu mereka menyelesaikan makannya, "Rasanya masih tidak percaya akhirnya kamu menjadi ustad!"


"Alhamdulillah saya baik, Alhamdulillah juga karena Allah memberi kesempatan pada saya dan orang mempercayai saya untuk menyampaikan dakwah pada mereka pastinya dengan cara saya."


"Aku tahu pasti ustad Zaki akan menjadi ustad yang sukses, ustad yang di senangi para jama'ah nya."


Ustad Zaki hanya tersenyum menanggapi ucapan ustadzah Nafis,


"Kalau tidak keberatan, ustadzah Nafis bisa memanggil ku seperti dulu saja, rasanya belum terlalu pantas menyandang gelas ustad."


"Insyaallah ustad Zaki sudah cukup pantas untuk panggilan itu."


Setelah itu mereka saling terdiam, ustadzah Nafisah tampak memilih fokus pada lalu lalang di jalanan sore ini,


"Aku dengar ustad Zaki sudah menikah ya?" tanyanya kemudian, tampan wajahnya menyimpan sendu yang dalam.


Ustad Zaki mengangukan kepalanya,


"Selamat ya!" ucapnya lagi dan seulas senyum terukir di bibirnya, "Abi kemarin sempat menanyakan ustad Zaki, kalau ada waktu ustad Zaki bisa kan menemui Abi?"


"Insyaallah akan saya usahakan, ustadzah."

__ADS_1


"Sudah sangat sore, kalah begitu saya permisi, assalamualaikum!" ucap ustazah Nafis sambil beranjak dari duduknya.


"Waalaikum salam!" jawab ustad Zaki, ia sama sekali bergeming di tempatnya menatap kepergian ustadzah Nafisah.


Maafkan aku karena mungkin bukan aku yang menjadi takdir ustadzah Nafisah ...


***


POV ustadzah Nafisah


Hari ini aku tidak pernah berfikir atau berfirasat apapun, aku hanya diminta ustad Ramli untuk menggantikannya karena ia tidak bisa hadir di salah satu acara.


Tapi kedatanganku kali ini benar-benar sesuatu yang tidak terduga.


Sudah lama sekali, hampir lima tahun dan kami tidak pernah bertemu, kini kami kembali di pertemukan di dalam satu acara.


Rasanya hatiku begitu hangat bisa melihat senyumnya lagi, wajahnya kini bersih tampak bersinar dengan kemeja putihnya, tapi seketika sebuah kenyataan yang baru saja aku dengar beberapa Minggu lalu mematahkan hatiku.


Penantianku selama lima tahun ini seolah kandas, aku tidak tahu doa siapa yang paling kuat hingga bahkan bisikku di dalam sujudku tidak mampu mematahkan doa orang lain yang telah berhak memilikimu.


Zaki ....


Nama itu selalu aku sebut dalam doaku, bahkan aku sampai hafal bagaimana doa itu tidak pernah berubah selama ini.


Aku sampai penasaran, sebenarnya apa doanya hingga orang lain yang memilikinya.


Dosa Kah jika sampai saat ini aku masih berharap apa yang aku dengar kemarin bukanlah sebuah kebenaran?


Jika iya, aku ingin melamarnya sekali lagi.


Kami duduk berhadapan, tapi tidak saling menyapa, kami berada dalam satu forum tapi rasanya begitu jauh.


Hingga sore ini aku memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dulu, ingin rasanya segera bertanya tentang statusnya saat ini tapi ternyata itu begitu berat.


Dan jawaban itu benar-benar tidak ingin aku dengar,


"Selamat ya!" rasanya seperti pisau yang menghunus ulu hatiku saat mengatakan hal itu,


Ternyata sesakit ini, ya Allah maafkan aku karena tidak bisa menerima apa yang sudah menjadi takdirmu, aku masih berharap aku bisa menjadi jodoh seorang Zaki.


"Ya Allah aku begitu penasaran, wanita seperti apa yang berhasil meluluhkan hatinya!"


Air mataku tidak mampu terbendung lagi, ku tumpahkan seluruhnya di dalam taksi agar nanti saat sampai di rumah aku bisa tersenyum kembali,

__ADS_1


Ya Allah, berilah keikhlasan di hati hamba Mu yang rapuh ini ...


***


Ustad Zaki tidak mau berlama-lama di tempat itu, ia segera menyambar kembali tasnya. Ia meninggalkan sepeda motor milik abinya di parkiran gedung tempatnya seminar, untuk itu ia harus kembali lagi ke sana untuk mengambil motor.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai kembali di pesantren, sesampai di rumah sudah masuk waktu magrib.


Segera ustad Zaki mandi dan bersiap berangkat ke masjid dan kembali lagi istirahat setelah isya' itupun ia tidak langsung ke kamar, ia menyempatkan waktu sebentar untuk sekedar mengobrol dengan Abi dan ummi nya.


"Hahhhhh ....!" ustad Zaki segera merebahkan tubuhnya yang lelah karena seharian beraktivitas di atas tempat tidur, tapi rasanya matanya belum bisa terpejam sebelum ia menghubungi sang istri, sebelum rasa rindunya terobati.


"Assalamualaikum, dek!" ustad Zaki segera tersenyum lebar begitu melihat wajah sang istri yang memenuhi layar ponselnya. Seketika lelahnya seharian terobati dengan menatap wajah sang istri.


"Waalaikum salam, kenapa sampai semalam ini? Zahra kira lupa kalau punya istri!?" keluh Zahra dan rasanya ingin sekali mencubit wajah manja istrinya.


"Ya nggak lah dek, kalau bisa sih mas pengennya kasih tulisan nih di dada mas!"


"Tulisan apa?"


"Ini ustad tampan sudah punya istri, jadi jangan ganggu ya!"


"Apaan sih, nggak gitu juga kali. Oh iya mas, tadi Zahra sudah lihat postingan mas dmustad di inst*gr*m loh, mas ustad hebat bisa duduk sejajar dengan orang-orang hebat itu."


"Alhamdulillah, mas juga nggak nyangka! Mas kira hanya acara kecil tapi ternyata acara yang luar biasa."


"Jadi beneran itu kyai Hasyim yang sebenarnya di undang, bukan mas ustad?"


"Mas nggak tahu dek, kata kyai Hasyim sih begitu. Mungkin ini memang rejeki mas, dek! Bisa duduk bersebelahan dengan orang-orang hebat seperti mereka."


"Mas tahu nggak, ada ustadzah Nafis juga kan? Seneng deh, besok mintain tanda tangan ya!?"


Ustad Zaki begitu terkejut dengan pertanyaan Zahra.


Bagaimana dek Zahra bisa kenal dengan ustadzah Nafis?


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2