Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
POV ustad Zaki (2)


__ADS_3

Segera ku letakkan tas ranselku di samping tempat tidur, walaupun hanya sebentar tetap saja rasanya ingin merebahkan tubuhku. Beruntung tadi sudah sempat melaksanakan sholat ashar di bandara,


Aku pun segera merebahkan tubuhku, baru beberapa detik dan mata ini hampir saja terpejam tapi ingatanku kembali melayang pada gadis yang sudah membuat hatiku tertambat.


Segera ku paksa tubuh ini untuk kembali bangun, walaupun mata ini berat tapi seakan tidak menjadi penghalang. Ku tarik kembali tas ranselku agar lebih dekat, tanganku dengan cekatan merogoh saku depan rangsel, mencari benda pipih yang telah aku matikan sejak dua jam lalu.


Setelah menemukannya, aku segera duduk bersila di atas tempat tidur, tanganku begitu lihai menekan tombol power ponselku, segera senyumku tersungging setelah muncul gambar sebuah merk kenamaan dari salah satu produk elektronik muncul, rasanya tidak sabar ingin melihat wallpaper yang aku pasang di layar depan ponselku.


Senyumku semakin lebar saat akhirnya gambar itu muncul. Gadis manja yang mengenakan hijab berwarna coklat susu yang begitu cantik,


"Kenapa aku begitu cepat merindukannya!?" gumamku sambil menatap layar ponselku dan aku menungging beberapa saat agar sinyal stabil kembali, rupanya sudah ada balasan darinya.


Dengan cepat jari ini menggeser ke aplikasi pesan, nama yang selalu aku rindukan untuk aku sebut muncul di urutan paling atas,


Dek Zahra


Nama yang menurutku begitu indah,


//Hati-hati ya, jangan lupa nanti kalau sampai langsung hubungi aku, kalah tidak jangan harap aku akan membalas pesan mas ustad lagi, salam ????, salam apa ya? Kalau rindu, jangan deh, mas ustad kan baru berangkat, masak sudah rindu,. Gimana kalau salam sayang aja, dari Zahra yang Ter♥️♥️♥️//


Selalu saja, dia selalu berhasil membuat aku tersenyum. Kadang aku merasa seperti seusianya, ikut tertawa lepas tanpa beban. Dia benar-benar berhasil mengalihkan duniaku, aku tidak pernah menyangka secepat ini Allah membolak-balik kan hatiku.


Masih jelas teringat bagaimana pandanganku tentang gadis yang resmi aku nikahi beberapa bulan lalu itu, tapi dengan cepat pandangan itu berubah, dia bukan seperti yang aku pikirkan di awal, dia jauh lebih baik dari yang tidak pernah aku duga dan semakin hari aku semakin dibuat terkesima dengan kebaikannya, keistimewaannya.


"Katanya mau istirahat, kok malah lihat hp sambil senyum-senyum sendiri!?" pertanyaan itu seketika menyadarkan ku, entah sejak kapan ummi ada di kamarku,


"Ummi?!"


Ummi segera duduk di sampingku dan aku pun menggeser dudukku agar ummi lebih leluasa duduk,


"Ummi tadi padahal sudah ketuk pintu beberapa kali, tapi kayaknya kamu lagi asik lihatin hp, ada apa? Sudah kangen ya sama Zahra?"


Aku tersenyum, mungkin tanpa aku katakan pun ummi pasti sudah tahu,


"Ummi maklum sih, kalian memang pengantin baru. Rencana berapa lama di sini?"


"Insyaallah dua Minggu ummi, tapi kalau acaranya bisa di percepat, mungkin Zaki akan pulang lebih cepat!"


Hehhh ....


Ummi terlihat menghela nafas, ia mengusap punggung tanganku yang ada di pangkuanku,

__ADS_1


"Ummi sebenarnya ingin kamu tinggal lebih lama di sini, tapi tidak ada Zahra, jadi lebih cepat akan lebih baik. Kasihan Zahra kalau di tinggal sendiri terlalu lama."


"Iya ummi!"


***


Aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke masjid, Abi sudah menungguku di bawah.


"Ayo bi!?" ajakku sambil membetulkan sajadah yang ada di bahuku.


"Ayo!"


Kami sengaja jalan kaki ke masjid, jarak rumah Abi dengan masjid tidak begitu jauh karena masih satu komplek dengan pesantren.


"Bagaimana pesantren, bi?" tanyaku untuk memulai pembicaraan, kami memang tidak seakrab seperti kebanyakan ayah dan anak, ya bisa dibilang aku lebih dekat dengan ummi, mungkin karena aku anak laki-laki.


"Alhamdulillah, beberapa waktu lalu beberapa santri juga sudah memenangkan lomba tafsir kitab!"


"Alhamdulillah kalau begitu Abi!"


"Minggu depan juga para ustad ustadzah mengirim beberapa santri untuk ujian tahfid."


Memang tidak heran jika pesantren ini cukup diminati karena prestasinya dapat diperhitungkan.


"Zak,"


Tiba-tiba nada panggilan Abi berubah dalam, sepertinya ada hal serius yang ingin beliau katakan,


"Ada apa, bi?"


"Kemarin kyai Nur menanyakan kamu!"


Aku segera menoleh pada Abi, memastikan sesuatu, "Lalu Abi jawab apa?"


"Abi sudah mengatakan kalau kamu sudah menikah, Abi juga katakan kalau kamu juga akan pulang hari ini!"


"Nanti biar Zaki, bi. Yang temui langsung kyai Nur."


"Itu lebih bagus! Sudah azan, ayo!" Abi mengajakku mempercepat langkah kami agar segera sampai di masjid.


Terlihat masjid itu sudah ramai para jama'ah, sebagian besar jamaah adalah anak pesantren dan beberapa masyarakat sekitar.

__ADS_1


Yang bertugas mengumandangkan azan pun juga anak-anak pesantren bergiliran, dan nanti sahabis magrib sambil menunggu waktu isya', biasanya ada salah satu ustad yang mengisi pengajian singkat dan aku merindukan suasana itu.


Setelah menyelesaikan doanya, para jama'ah saling bersalaman. Aku yang duduk di barisan paling depan bersebelahan dengan Abi tiba-tiba pria di sebelahku membisikan sesuatu padaku, aku yakin dia salah satu ustad di pesantren jika dilihat dari penampilannya.


"Maaf ustad Zaki, saya di minta para ustad untuk meminta ustad Zaki mengisi pengajian malam ini, kami harap ustad Zaki tidak keberatan."


Aku sedikit terperangah, tapi segera aku normal kan. Bagaimana bisa? Aku tidak punya persiapa apapun.


Abi pun menepuk punggungku memberi dukungan dan ustad tadi juga tampak begitu berharap, rasanya tidak enak jika harus menolaknya,


"Baiklah, saya siap ustad!"


Seperti yang mereka harapkan, aku menggeser dudukku sedikit lebih di depan dan duduk di belok meja kecil yang sudah di sediakan, ini untuk pertama kalinya aku mengisi pengajian di pesantren Abi, sebelumnya aku tidak pernah merasa siap untuk melakukannya karena menurutku di sini banyak ustad-ustad sepuh yang lebih pantas berada di tempatku saat ini.


***


"Kenapa pulangnya malam, bi?" tanya ummi saat menyambut kedatangan kami dari masjid.


"Ngobrol dulu ummi sama para ustad, mereka penasaran sama Zaki, iya kan Zak?" tanya Abi padaku dan aku hanya mengangukkan kepalaku sambil tersenyum.


"Penasaran sama kegantengan Zaki ya bi?" tanya ummi lagi seketika membuat aku tertawa, terkadang memang tingkah ummi mengingatkanku pada sosok Zahra, sepertinya Abi jatuh cinta sama ummi karena tingkahnya yang ceplas ceplos seperti itu.


Zahra, sedang apa ya sekarang?


"Abi, ummi, Zaki ke kamar dulu ya!" ucapku sambil meninggalkan mereka.


"Nggak makan dulu?" tanya ummi dari bawah saat aku sudah sampai di lantai atas.


"Nanti aja ummi, ummi sama Abi makan dulu aja!" teriakku dari atas tidak mau kalah dari ummi.


Aku pun segera mengambil ponselku yang tadi aku cas sebelum berangkat ke masjid,


Sedikit.kecewa karena aku tidak melihat ada satu pesan pun masuk dari Zahra,


Apa dia tidak merindukanku?


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2