Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 18


__ADS_3

Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah, Zahra hafal dengan rumah itu. Walaupun selama ini tidak pernah bermain ke rumah itu, ia tahu itu rumah siapa.


"Loh mas, kenapa kita ke sini? Ada yang kita tunggu di sini?" tanya Zahra.


Bukannya menjawab pertanyaan Zahra, Imron memilih membuka pintu mobil dan turun, diikuti juga dengan bapaknya.


Imron juga langsung membukakan pintu untuk ibunya,


"Adek kamu aja le, ibuk tak liwat sana nanti." tolak Bu Narsih agar Imron membukakan pintu untuk Zahra dibandingkan dirinya, karena Zahra pasti lebih kerepotan saat turun dari mobil dengan keadaan tubuhnya yang sekarang.


Imron pun nurut pada ibunya, ia pun kembali berlari mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Zahra, tapi Zahra malah menahan agar pintu tidak terbuka.


"Nggak mau, jawab dulu pertanyaan zahra, kenapa kita ke sini?" tanya Zahra keras kepala.


"Keras kepala sekali, nanti juga tahu." keluh Imron.


"Nggak suka ya main rahasia-rahasia an, kenapa kita ke rumah Ina?"


Sejak kecil hubungan Zahra dengan gadis bernama Ina tidaklah baik membuat Zahra enggan untuk ikut turun.


"Ayo lah nduk, nanti kalau sudah di dalam kamu juga tahu. Nggak mesakne ibuk selak kepanasen Iki." keluh Bu Narsih sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah merasa kepanasan karena saat ini jam sepuluh pagi, udara menuju ke panas-panasnya.


Akhirnya Zahra menyerah, ia pun turun dengan dibantu kakak laki-laki nya kemudian di susul oleh Bu Narsih.


"Nihh, kamu bawa ini." ucap Imron sambil mengulurkan sebuah benda membuat mata Zahra membulat sempurna,


"Ini_?" tanya Zahra bingung, meskipun begitu ia ia tetap menerimanya, satu kotak besar kue donat sudah berpindah ke tangannya, ia melihat ke arah ibunya yang ternyata juga sudah membawa rangkaian buah segar di tangannya.

__ADS_1


Kemudian manik manik matanya pun kembali menelisik ke arah mobil, entah karena ia terlalu fokus pada sang kakak atau apa hingga ia tidak menyadari kalau di belakang tempat duduknya ada beberapa kotak kue yang sudah di hias sedemikian rupa. Hingga dugaan Zahra kuat mengarah ke sana.


"Nggak enak nduk kalau bertamu nggak bawa apa-apa," ucap Bu Narsih lagi setelah menyadari arah tatapan Zahra.


"Ini maksudnya apa buk?" tanya Zahra lagi masih merasa bingung.


Tapi kebingungannya belum sampai kejawab, tiba-tiba sebuah mobil lagi berhenti di samping mobil Imron. Dan Zahra hafal betul itu mobil siapa,


seperti dugaannya, sang pemilik mobil pun keluar dan menghampiri mereka,


"Assalamualaikum," sapanya sambil berjalan menghampiri orang tuan Zahra,


"Waalaikum salam," dia mencium punggung tangan pak Warsi dan Bu Narsih kemudian mengulurkan tangannya ke arah Zahra dan Zahra dengan reflek mencium punggung tangannya.


"Mas ustad, bukannya katanya masih di Tulungagung?" tanya Zahra dengan wajah bingungnya karena suaminya seharusnya masih berada di Tulung agung saat ini, tapi malah sudah berada di depannya saja.


"Mas tunda besok saja," jawab ustad Zaki santai kemudian ia menatap ke arah Imron,


"Alhamdulillah sudah."


"Kalau begitu kita masuk sekarang?" tanya ustad Zaki lagi memastikan.


"Baiklah. Ayo!" jawab Imron sedangkan pak Warsi dan Bu Narsih makmum saja,


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Imron lirih setelah menghela nafas berkali-kali.


Melihat kebingungan di wajah istrinya, ustad Zaki pun segera menggandeng tangan sang istri dan mengapit lengan Zahra diantara lengan dan tubuhnya, kemudian menekuk dan mencium punggung tangannya, memberi senyuman terhangat untuk sang istri.

__ADS_1


"Biar mas bawakan ya," ucapnya kemudian sambil mengambil kotak kue dari tangan Zahra, membiarkan tangan kanannya membawa dua kotak kue sekaligus.


Walaupun masih ragu, tapi dengan senyum dan perhatian yang di berikan oleh sang suami membuat perasaan Zahra sedikit lebih nyaman, ia pun akhirnya ikut saja.


Pak Warsi dan Bu Narsih berjalan di depan diikuti Imron dan paling belakang ada ustad Zaki dan Zahra sedangkan di jejeran paling belakang ada Amir yang ternyata ikut bersama ustad Zaki.


Setelah mengucap salam, dari dalam langsung menyahut. Itu suara orang tua Ina.


"Waalaikum salam, mari silahkan masuk."


Karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri membuat Zahra tidak menyadari jika pintu sudah terbuka sedari tadi hingga menampakkan dua orang tua Ina.


Pak Warsi dan rombongannya pun akhirnya masuk sambil menyerahkan bingkisan yang berada di tangan masing-masing.


Sepanjang ini, Zahra masih bertanya-tanya dengan apa yang sedang terjadi. Ia juga tengah menerka-nerka dengan dugaannya sendiri.


Sepertinya mereka juga sudah siap dengan kedatangan dari keluarga pak Warsi hingga di ruang tamu yang tidak begitu luar itu kini sudah di gelar karpet lengkap dengan snack-snack yang berjejer rapi di atas karpet.


Akhirnya kini mereka duduk melingkar dengan snack-snack di depannya, seseorang pun juga muncul dengan menyajikan minuman untuk mereka.


Ustad Zaki begitu sigap membantu Zahra yang jelas kesusahan saat harus duduk di bawah.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2