
Wajah ustad Zaki menegang, tangannya terlihat mulai meremas ponselnya setelah sambungan telpon dari Bayu terputus.
Nur yang masih berada di dekatnya terlihat begitu penasaran sampai ia lupa berhadapan dengan siapa saat ini,
"Ustad, ustad sudah tahu kan sebenernya keadaan Zahra yang sebenarnya, Zahra kenapa ustad?" tanyanya dengan bibir yang mulai bergetar, ia sudah membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.
"Iya Nur!"
"Zahra kenapa?" kali ini tangis nur benar-benar pecah, ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Zahra hamil, Nur. Aku sengaja tidak memberitahu tentang ini pada Zahra agar Zahra konsentrasi dulu untuk ikut ujian!"
Seketika sedikit senyum terulas di bibir Nur, padahal tadi ia sudah membayangkan hal yang mungkin buruk terjadi pada sahabatnya meskipun matanya masih tampak berkaca-kaca.
"Kenapa ustad tidak jujur saja, mungkin saja Zahra seneng ustad!?"
"Mungkin! Dan aku tidak ingin hal yang masih mungkin itu akan membuat konsentrasi Zahra pecah!" ucap ustad Zaki, tapi dari raut wajahnya ia masih memendam sebuah beban yang besar.
"Apa ustad juga tidak menginginkannya?" tanya Nur kemudian.
"Itu tidak mungkin Nur, tapi kehamilan Zahra bermasalah. Maaf aku tidak bisa lama di sini, bisa saya minta tolong Nur?"
"Maksudnya bermasalah apa ustad?"
"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang, maaf! Kalau kamu bisa, tolong kasih tahu sama orang tua Zahra kalau kamu pulang, maaf karena aku tidak bisa menjemput mereka!"
"Pasti ustad!"
Setelah berpamitan pada Nur, ustad Zaki pun segera pergi ke rumah sakit.
Sebenernya Nur ingin sekali langsung ikut, tapi ia tahu posisinya. Ia dan ustad Zaki bukan mahram, ia tidak mungkin berboncengan dengan ustad Zaki naik motor. Mungkin benar, ia harus pulang dulu. Ia akan memberitahu Bu Narsih dan pak Warsi dan pergi bersama mereka ke rumah sakit.
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit kedatangannya langsung di sambut oleh Bayu,
"Mas Zaki!?" sapa Bayu.
"Assalamualaikum, Bayu! Gimana keadaan Zahra?"
"Zahra masih dalam pengaruh obat jadi dia belum sadarkan diri!"
"Lalu dokter?"
"Biar saya antar, Mas!"
Bayu sengaja menunggu kedatangan ustad Zaki ingin mendengar kejelasan yang terjadi pada Zahra.
Ia pun mengantar ustad Zaki ke ruangan dokter yang menangani Zahra,
"Selamat ya mas," ucap Bayu saat mereka memasuki lift dan hal itu membuat wajah cemas ustad Zaki menoleh padanya, dahinya berkerut hingga membuat kedua alis tebalnya hampir menyatu.
"Kata dokter, Zahra hamil!" ucap Bayu lagi dan ustad Zaki kali ini tersenyum, tapi tampak senyumnya tidak selebar biasanya.
Ya Allah aku hanya bisa berpasrah padaMu ...., ustad Zaki terus beristigfar dalam hati, memohon kebaikan untuk Zahra dan anaknya.
Hingga akhirnya sampailah mereka di depan ruang dokter yang menangani zahra, langkah Bayu terhenti,
"Maaf mas, saya hanya bisa sampai sini. Tapi nanti kalau tidak keberatan, boleh kan saya tahu keadaan Zahra yang sebenarnya?"
Ustad Zaki hanya terdiam dengan permintaan Bayu,
"Assalamualaikum!" dan pertanyaan Bayu langsung di balas dengan ucapan salam, lalu ustad Zaki masuk ke dalam ruangan itu setelah membuka pintu yang tertutup rapat.
Dan Bayu hanya bisa dia di tempatnya sambil menatap pintu yang kembali tertutup, ia sadar kenapa ustad Zaki sampai bersikap seperti itu.
__ADS_1
Memang bukan haknya mengetahui apa yang terjadi pada Zahra karena nyatanya ia bukan siapa-siapa Zahra, ada yang paling berhak untuk mengetahui apapun yang terjadi pada Zahra,
Aku iri, aku iri karena bukan aku yang menjadi bagian dari hidupnya saat ini ....
Seorang dokter sudah menunggunya sedari tadi,
"Saya suami pasien bernama Zahra, dok!" ucap ustad Zaki setelah memberi salam dan di persilahkan duduk oleh dokter.
"Oh jadi kamu suami anak SMA tadi?" tanya dokter memastikan kembali, jelas usia mereka terlihat jauh berbeda.
"Iya dok!"
"Apa kamu tahu keadaan istri kamu?" tanya dokter. Dan terlihat ustad Zaki menghela nafas untuk mulai bercerita.
"Tahu dok, istri saya tengah hamil. Tapi kehamilannya bermasalah. Istri saya hamil kembar, namun salah satu janin tumbuh di luar rahim atau biasa di s sebut kehamilan ektopik!"
"Jadi sudah tahu sebanyak ini, kenapa tidak langsung memutusakan untuk di ambil tindakan? Kamu tahu kan kehamilan seperti ini bisa membahayakan ibunya jika tidak segera di operasi?" terlihat sang dokter begitu gusar.
"Tahu dok, tapi istri saya masih harus ujian."
"Jadi anda belum memberitahu kepada istri anda?"
"Belum dok, rencananya akan saya beritahu setelah ujian ini. Dan hari ini ujian sudah berakhir, saya akan memberitahukannya!"
Bersambung
Sudah terjawab kan rasa penasarannya, sebenernya Zahra kenapa ya? Tunggu ke seruannya besok lagi ya
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...