
Akhrinya mereka sampai juga diparkiran, Zahra menghentikan langkahnya begitu melihat mobil yang sama yang masih akan di bawa suaminya,
Ia pikir mereka akan kembali dengan mobil travel atau kereta api, tapi MB ternyata ustad Zaki masih membawa mobil yang sama.
"Ayo dek, masuklah!" ajak ustad Zaki begitu pintu sudah terbuka.
"Tunggu!"
"Apa lagi?"
"Bukankah ini mobil Abi? Tapi kenapa mas ustad masih memakainya?"
"Oh, ini!" ustad Zaki tampak berpikir, ia mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Zahra,
"Abi sengaja meninggalkannya untuk kita, tapi kalau kamu nggak suka lusa aku kembalikan!"
"Ohhhh_!" Zahra tidak melanjutkan ucapannya dan memilih untuk masuk ke dalam mobil membuat ustad Zaki penasaran dengan kelanjutan jawabannya.
Setalah memastikan Zahra masuk dan duduk di tempatnya, ustad Zaki pun segera menyusul.
"Bagaimana?" tanya ustad Zaki sambil menoleh ke arah Zahra yang duduk di sampingnya.
"Apanya?"
"Masalah mobil?"
"Kita pikirkan lain waktu saja!" ucap Zahra sambil memakai sabuk pengamannya membuat ustad Zaki tersenyum dan melakukan hal yang sama, sedikit jawaban Zahra membuat ustad Zaki lega setidaknya Zahra tidak mempermasalahkan lagi soal mobil.
Ustad Zaki mulai menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan pelataran parkir bandar udara.
Setelah menempuh perjalanan semalam setengah jam akhirnya sampai juga di depan sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya,
Zahra tampak antusias hingga ia menjulurkan kepalanya ke jendela mobil dengan kaca yang sudah di turunkan.
Akhirnya aku jalan-jalan ke sini juga, nggak nyangka bakal kesampekan ...
Iya_, ini untuk pertama kalinya Zahra jalan-jalan ke kota besar. Keluarganya hanya tinggal di kampung, jalan-jalan ke kota besar tanpa alasan yang jelas bukanlah kebiasaan mereka.
Seingatnya_, sekali ia pergi ke Surabaya, itu pun pas waktu TK, saat ia mengikuti study tour satu sekolah ke kebun binatang. Tentu sekarang Surabaya sudah banyak berubah.
"Dek, kamu tunggu di sini atau ikut mas ke basemen?"
__ADS_1
"Hahhh?" karena terlalu fokus dengan apa yang ia lihat di luar membuatnya tidak fokus dengan pertanyaan dari sang suami.
Ustad Zaki yang melihat wajah polos sang istri, tidak kuasa menahan tangannya untuk mengusap kepala Zahra.
"Tunggu di sini saja ya,"
"Maksudnya?"
"Mas mau parkirin mobil dulu,"
Bukan langsung menjawab, Zahra melihat lagi ke luar, ia tidak yakin berani di tempat asing itu sendiri, sepertinya ustad Zaki mengerti tentang kecemasan sang istri,
"Jangan khawatir, dek Zahra bisa berdiri di samping scurity itu sampai mas kembali!" ucap ustad Zaki sambil menunjuk ke arah scurity.
"Baiklah!"
Akhirnya Zahra turun dari mobil, ia melakukan hal yang sama seperti yang di minta ustad Zaki hingga ustad Zaki kembali.
"Terimakasih ya pak!" ucap ustad Zaki pada scurity saat kembali.
"Terimakasih untuk apa mas?" terlihat scurity malah bingung.
"Sudah jagain istri saya!"
"Iya, mas! Sama-sama!"
Ustad Zaki pun segera mengajak Zahra masuk, ternyata penampilan yang urakan dan sering keluyuran tidak menjamin dia akan biasa saja saat di tempat asing, terbukti saat ini Zahra bahkan tidak berani melepas tangan ustad Zaki.
"Mau belanja sesuatu?" tanya ustad Zaki saat mereka sudah berdiri di depan toko dengan berbagai produk yang di tawarkan.
"Boleh beli semuanya?"
"Beli yang menurut kamu butuh, bukan yang kamu mau!" ucap ustad Zaki.
"Sama aja bohong dong! Ya udah deh aku butuh baju!"
"Tepat!"
"Maksudnya?"
"Pikiran kita sama, kamu memang butuh baju baru!"
__ADS_1
Ustad Zaki pun segera menarik tangan Zahra dan membawanya masuk ke sebuah toko baju wanita.
Zahra tampak begitu girang hingga ia berlarian ke sana kemari untuk memilih baju.
Hingga pilihannya jatuh pada baju tanpa lengan,
"Ini bagus kan?" tanyanya pada ustad Zaki yang sedari tadi mengikutinya.
Ustad Zaki tampak menatap baju itu, tapi kemudian tatapannya beralih pada gantungan baju yang lain, tangannya dengan cepat mengambil baju dengan motif dan model yang sama seperti yang di pegang Zahra tapi kali ini dengan lengan panjang.
"Yang ini lebih bagus!"
"Tapi aku suka yang ini!" Zahra masih tetap dengan pendiriannya.
"Kamu lihat deh, ini model dan juga motifnya sama, hanya lengannya saja yang beda, kalau panjang bisa di selingsingkan tapi kan kalau pendek mbak bisa di panjangkan, ini lebih efektif, jadi ambil yang ini saja!" ustad Zaki mengambil baju yang ada di tangan Zahra dan mengembalikannya ke gantungan, sedangkan memasukkan baju pilihannya ke keranjang.
Hal itu terus saja terjadi berulang kali hingga keranjang belanjaan mereka penuh,
"Nyesel aku tanya terus, jadinya tetap sama!" gerutu Zahra sambil menunggu ustad Zaki melakukan pembayaran.
Terserah lah uang-uang kamu juga ...
"Sekarang kita ke mana lagi?" tanya ustad Zaki yang sudah membawa beberapa paperbag di tangannya.
"Terserah kamu lah, lagi pula aku juga nggak bisa milih!"
"Baiklah, kalau gitu kita ke toko seragam!"
"Buat apa?"
"Kayaknya semua seragam kamu pas jahit kekurangan bahan, jadi akan lebih baik kalau kita cari yang baru!"
"Nggak mau!"
"Tapi ini syarat yang aku ajukan tadi, jadi harus mau!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰