
Akhirnya Zahra pun membiarkan ustad Zaki menyisir rambutnya sampai selesai, rupanya tidak hanya sampai di situ, ustad ia juga menguncir rambut Zahra hingga rapi.
"Sekarang ulurkan tangan dan kaki kamu!" ucap ustad Zaki setelah menyimpan kembali sisirnya.
Zahra yang masih duduk membelakangi sang suami cukup penasaran sekaligus terkejut, "Hahhh?" Zahra masih terlihat bingung. Ia tampak ragu untuk memutar tubuhnya hingga tangan ustad Zaki menarik pelan bahu kanannya.
"Hadap sini dan ulurkan tangan juga kaki kamu!" ucap sang suami.
Zahra pun melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh suaminya, ia segera berbalik dan mengulurkan tangannya, rupanya ustad Zaki sudah memegang body lotion di tangannya dan siap untuk di oleskan ke tangan Zahra,
"Tunggu, tunggu!" Zahra segera mencegahnya, rasanya aneh saja jika harus melakukan hal itu, ia terbiasa melakukannya sendiri.
"Ada apa lagi!?"
"Zahra bisa yang itu!" Zahra mengambil body lotion yang sudah di tuangkan ke tangan ustad Zaki dan mengoleskannya sendiri ke tangan dan kakinya,
"Kalau begini sudah kan!?" Zahra menunjukkan tangan dan kakinya yang sudah lumayan lembab.
"Bagus!" ustad Zaki kembali mengeluarkan botol kecil dengan pipet sebagai tutupnya. "Kalau ini?"
Ustad Zaki yakin Zahra tidak tahu, ia tidak pernah melihat Zahra memakainya.
"Itu!?" benar saja, Zahra masih mencoba menganalisa barang apa yang ada di tangan suaminya itu, tapi nyatanya ia bahkan sama sekali tidak tahu, jika yang di pegang botol pelembab mungkin ia masih bisa mengira-ngira nya, tapi botol itu terlalu kecil untuk ukuran pelembab.
"Ini serum," sepertinya ustad Zaki langsung tahu dengan ekspresi Zahra, ia segera memberitahunya.
Baru tahu aku, batin Zahra sambil mengamati botol kecil itu hanya seukuran ibu jari tingginya.
"Kata penjualnya perempuan harus pakai ini untuk menutrisi kulit!"
Sok tahu banget, memang dia biasa pakai? Zahra menatap sang suami penuh selidik.
"Mas memang nggak pernah pakek, tapi toko kecantikan merekomendasikan ini! Selain memberi kelembapan juga ada vitamin c nya jadi aman buat kulit kamu!"
Tahu aja apa yang aku pikirin ...
"Mau pakek sendiri atau mas pakek in?" tanya ustad Zaki lagi saat Zahra tidak merespon ucapannya.
"Harus pakai sekarang?" tanya Zahra bingung.
"Hmmm!"
"Tapi kan aku belum sholat!?"
Sepertinya ustad Zaki juga lupa tentang hal itu, ia pun kembali memasukkan benda-benda itu ke dalam tas kecil,
"Baiklah, sholat lah dulu." setelah mengatakan hal itu, ustad Zaki segera beranjak dari duduknya, ia juga tampak memakai kembali sarungnya, ia tidak mungkin keluar kamar dengan hanya memakai celana pendek.
__ADS_1
"Eh, mau ke mana?" Zahra ikut berdiri melihat sang suami sudah berjalan mendekati pintu keluar.
"Ehhh?" ustad Zaki tidak suka dengan kata Eh yang keluar dari bibir Zahra.
"Maksud Zahra, mas ustad mau ke mana?" Zahra segera meralat ucapannya sebelum sang suami kembali marah padanya.
Kayaknya waktunya deh ...., Zahra tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Mas mau cari makanan dulu, kamu mau pesan apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan ustad Zaki, Zahra malah berjalan mendekati sang suami, ia berdiri tepat di depan sang suami dan mengalungkan tangannya di leher ustad Zaki.
"Dek!?" tentu apa yang di lakukan oleh Zahra cukup membuat ustad Zaki terkejut.
Zahra tersenyum yang sengaja ia buat untuk menggoda sang suami,
"Zahra mau pesen senyumnya mas ustad yang paling tampan!"
Apa aku sedang bermimpi? ustad Zaki benar-benar masih belum percaya dengan apa yang di lakukan Zahra saat ini.
Setelah menormalkan detak jantungnya, ustad Zaki pun menarik sudut bibirnya tipis.
"Senyumnya kok nggak tulus gitu!?"
"Senyum tulusnya nanti setelah kita makan malam," ustad Zaki melepaskan tangan Zahra yang melingkar di lehernya, "Jadi sekarang lepaskan mas dulu, segeralah sholat setelah itu aku tidak akan melepaskanmu!"
"Gila, gila, ini benar-benar gila!" Zahra sampai menepuk-nepuk pipinya sendiri tidak percaya.
"Ya ampun, aku benar-benar melakukannya!?"
Sebelumnya ia begitu merasa yakin, bahkan ia menghabiskan waktu hampir satu jam untuk memikirkan hal itu, sedikit menggoda suaminya agar tidak marah lagi, tapi sekarang ia malah merasa terjebak sendiri dengan apa yang ia lakukan pada sang suami.
"Dia bilang, dia tidak akan melepaskanku, yang benar saja!"
"Nggak, nggak aku harus segera sholat!" Zahra pun dengan cepat kembali berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, ia harus bisa melupakan hal-hal nakal yang sudah ia rencanakan agar mendapat senyum ustad Zaki kembali.
Zahra segera menggelar sajadah dan melaksanakan sholat isya', baru saja mengucap salam setelah duduk tasyahud akhir, bukanya berdoa Zahra malah memikirkan hal lain.
"Jangan-jangan dia benar-benar mau melakukannya sekarang, ya Allah aku belum siap!" teriak Zahra. Tapi ia langsung menyadari sesuatu, ia masih bersimpuh di atas sajadah.
"Ya Allah maafkan aku, tapi ini benar-benar gawat, dia kan sudah dewasa sedangkan aku masih tujuh belas tahun, masih anak kencur ya Allah, bagaimana kalau di_!"
"Curhat apa sama Allah?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Zahra terkejut dan dengan reflek memutar tubuhnya ke belakang, ternyata ustad Zaki sudah berdiri di belakangnya dengan kedua tangannya yang menenteng makanan, ia sengaja tidak memesan makanan di hotel karena ia tidak yakin Zahra akan menyukainya.
"Sejak kapan mas ustad di situ?" Zahra begitu cemas, ia takut pria itu mendengar curhatannya pada Allah.
__ADS_1
"Baru saja_!"
"Berarti tidak mendengarkan apa-apa kan?" Zahra benar-benar khawatir jika suaminya sampai mendengar semua curhatannya dengan Allah.
"Sedikit!"
"Sedikit itu yang mana?" tanya Zahra lagi.
"Selesaikan dulu curhatmu, nanti baru wawancara sama mas!" ustad Zaki memilih berlalu dan duduk di sofa, meletakkan beberapa makanan di atas meja.
Sedangkan Zahra dengan cepat bangun dari duduknya, ia segera melipat sajadahnya, melepas satu per satu mukenanya dan meletakkan bersama sajadahnya. Ia benar-benar tidak sabar untuk menghampiri sang suami.
"Mas!?"
Ustad Zaki sudah mengeluarkan semua makanan dan menyiapkan dua piring untuk mereka,
"Duduklah, dan kita makan!"
"Tapi aku mau tanya dulu!"
"Makan dulu!" ustad Zaki memilih menyodorkan piring Zahra yang sudah penuh dengan makanan.
Zahra pun terpaksa duduk dan mulai menyantap makanannya,
"Makan yang banyak, kamu kan masih dalam fase pertumbuhan!"
"Enak aja, emang aku anak kecil apa!?" gerutu Zahra yang tidak suka masih di anggap anak kecil. "Buktinya aku sudah legal buat menikah!"
Ustad Zaki meletakkan segelas air putih di samping piring Zahra,
"Baiklah, berarti sudah siap kan?"
Seketika Zahra kesulitan menelan makanannya, ia menelan seluruh makanan yang ada di dalam mulutnya meskipun belum ia kunyah dengan sempurna,
"Minumlah!" sepertinya ustad Zaki sudah tahu ekspresi Zahra saat ia mengatakan hal itu, hingga ia sudah menyiapkan air putih di depan Zahra. Zahra pun segera meneguknya hingga setengah gelas.
"Maksudnya siap apa?" tanya Zahra kali ini berhasil membuat ustad Zaki tersenyum.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1