
Siang ini Abi dan ummi sudah menghubungi ustad Zaki bahwa mereka akan datang, ustad Zaki pun meminta pak Dul untuk menjemput mereka di bandara di temani Amir.
"Monggo ummi Abi, langsung ke rumah sakit atau ke rumah dulu?" tanya Amir sambil membawakan tas yang di bawa oleh ummi.
"Langsung ke rumah sakit aja gimana bi?" sebelum menjawab pertanyaan dari Amir, ummi terlebih dulu meminta pendapat abi.
"Terserah ummi saja, Abi ngikut!" jawab Abi dengan santainya.
Ummi pun kembali menoleh pada Amir yang berjalan sedikit di belakang mereka,
"Langsung ke rumah sakit saja ya Mir!"
"Siap ummi," ucapnya, "Monggo ke arah sini!" ucap Amir lagi saat ummi dan Abi hendak berbelok kearah lain.
"Ohh iya, katanya pak Abdul juga jemput?" tanya Abi yang sedari tadi tidak melihat pak Abdul.
"Pak Dul nunggu di parkiran Abi, soalnya tadi lapangan parkir bandara ramai sekali, kayaknya banyak yang datang ke acara istigosah Akbar di Sidoarjo.
"Alhamdulillah kalau begitu, insyaallah besok temennya Zaki juga ada yang datang ke Sidoarjo!"
"Nggak suruh mampir ke Blitar, Abi?" tanya Amir antusias.
"Mampiiir, soalnya sekalian bawain mobilnya Abi."
"Ohhh, mau di tinggal di Blitar ya Bu, mobilnya?" tanya Amir lagi, bukan Amir namanya kalau tidak banyak bertanya.
"Enggak, kebetulan Abi sepuluh hari lagi ada acara di Semarang, dari pada naik pesawat lebih baik naik mobil sambil jalan-jalan, iya kan ummi?" ucap Abi sambil tersenyum pada istrinya membuat Amir ikut tersenyum malu.
Akhrinya mereka sampai juga di lapangan parkir, setelah saling menyapa dengan pak Abdul dan menanyakan kabar masing-masing, mereka pun segera meluncur ke rumah sakit.
Di rumah sakit sudah ada Bu Narsih dan pak Warsi juga, mereka sengaja datang pagi-pagi sekali dan akan pulang saat sore hari agar ustad Zaki bisa sedikit istirahat, atau saat ustad Zaki tengah mengurus beberapa administrasi atau mengambil obat, ada yang menemani zahra.
Sedangkan Nur, ia hanya bisa datang pas pulang sekolah. Itu pun tidak lama karena ia masih harus mengurusi persiapan perpisahan sekolah.
"Assalamualaikum!" sama ummi dan Abi begitu sampai di kamar Zahra.
"Waalaikum salam!" sahut Bu Narsih yang kebetulan mengenai Zahra, sedangkan ustad Zaki dan pak Warsi sedang keluar untuk mencari makan. "Masuk Bu nyai, pak kyai!" ucap Bu Narsih sambil tergopoh menyambut kedatangan mereka.
"Terimakasih Bu, bagaimana kabar Bu Narsih sekeluarga?"
"Alhamdulillah baik,"
__ADS_1
"Zahra _?" tanya ummi sambil mendongakkan kepalanya mengintip ke agar ranjang zahra.
"Baru bisa tidur setelah minum obat, bu nyai!"
"Abi ke luar dulu ya, ummi, Bu!?" ijin Abi ustad Zaki, ia khawatir jika terlalu banyak orang di dalam akan menggangu istirahat Zahra.
"Iya, bi!"
Setalah Abi ustad Zaki keluar, ummi dan Bu Narsih pun mendekati ranjang zahra, walaupun begitu mereka tidak berniat membangunkan Zahra karena ummi melarangnya saat Bu Narsih hendak membangunkannya.
Hingga lima belas menit kemudian, Zahra mulai menggerakkan tubuhnya. Perlahan matanya terbuka dan ia cukup terkejut saat melihat ada ummi di sana.
"Ummi!?"
Zahra baru saja terbangun dan hendak duduk tapi dengan cepat ummi melarangnya.
"Tidur saja, nggak pa pa! Bagaimana? Apa masih sakit?"
Zahra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Sedikit ummi, Abi mana?" tanya Zahra saat tidak melihat pria yang sudah membesarkan suaminya itu.
"Abi di luar, nanti gantian masuk. Takut di marahi sama dokter kalau banyak-banyak yang ada di dalam!"
"Hmmm, ummi nggak sabar pengen cepet lihat kamu!"
"Zahra sudah baik-baik saja, ummi!"
"Alhamdulillah, ummi percaya kamu pasti bisa melewati semua ini. Dan ummi percaya Allah memberi cobaan pada hambaNya untuk membuat hambaNya semakin kuat,"
"Iya ummi, doakan setelah ini Zahra bisa menjadi wanita tegar, lebih tegar dari sebelumnya!"
"Aamiiin!"
Ustad Zaki yang baru saja kembali begitu senang saat melihat abinya duduk di luar ruang perawatan Zahra.
"Abi, assalamualaikum!" sapa ustad Zaki sambil memeluk abinya.
"Waalaikum salam," jawab Abi sambil menyambut pelukan ustad Zaki, tidak lupa ia juga mengusap punggung putranya itu seolah tengah menyalurkan kekuatan pada sang putra.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Abi setelah melepaskan pelukannya. Mereka pun memilih duduk di kursi tunggu yang tadi di duduki oleh Abi.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik bi, Abi sendiri?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, sehat!"
"Ummi?"
"Juga sehat, dia di dalam!" ucap Abi sambil menunjuk ke arah dalam, "Loh katanya kamu pergi sama pak Warsi? Trus sekarang pak Warsi nya kemana?"
"Tadi terpaksa pulang karena dapat kabar kalau kambingnya lahiran, di rumah nggak ada orang Bi!"
"Alhamdulillah berarti, dapat rezeki dari Allah. Ya sudah kalau gitu biar besok aja Abi ke rumah pak Warsi!"
"Rencana menginap agak lama kan bi di sini?"
"Insyaallah, sekitar semingguan! Oh iya, Farid juga mau ke sini, sekalian bawakan mobil abi!"
"Alhamdulillah kalau begitu. Kira-kira kalau Zaki minta Farid tinggal di sini agak lama mau nggak ya bi,?"
Abi ustad Zaki mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"
"Untuk beberapa bulan kedepan Zaki mungkin nggak bisa bolak balik ke Tuban, ke Lamongan, ke Kediri, apalagi ke Tulungagung yang sedang memulai membuka cabang baru, aku ingin fokus sama Zahra dulu bi, tapi juga nggak bisa mengabaikan pekerjaan juga!"
"Jadi maksudnya suruh Farid gantiin pekerjaanmu untuk sementara?"
"Iya, begitulah bi. Syukur-syukur kalau bisa membantu terus, Zaki akan sangat senang."
"Baiklah, besok kalau sudah sampai, biar Abi bantu bujuk!"
"Alhamdulillah terimakasih ya, bi!"
"Iya,yang terpenting sekarang kamu harus fokus sama kesehatan Zahra dan calon anak kamu, jangan sampai Zahra merasa terabaikan gara-gara kamu terlalu sibuk!"
"Iya abi!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1