
Setelah ustadzah Nafis meninggalkan mereka, kini ummi menatap Zahra dengan tatapan yang mengintimidasi,
"Ada apa ummi?"
"Kalian tidak bertengkar kan?" tanya ummi kemudian.
"Apa kamu kelihatan baru bertengkar, ummi?"
"Enggak sih! Baguslah, ummi sudah khawatir!" ucap ummi ambil mengusap dadanya lega, "Ayo pulang!" ajak ummi kemudian. dan Zahra pun mengikutinya di belakang,
"Ummi, ustadzah Nafis menurut ummi bagaimana orangnya?" tanya Zahra sambil berjalan mengikuti langkah ummi.
"Kenapa tanya seperti itu, sayang?"
"Nggak pa pa, cuma nanya aja!"
"Zahra mau ummi jawab jujur atau bohong?"
"Ya jujur dong ummi!"
Ummi pun menghentikan langkahnya dan menoleh pada Zahra yang berada di belakangnya,
"Menurut ummi, ustadzah Nafis itu baik, Sholehah, lembut!"
Dan pasti menanti idaman ..., batin Zahra.
"Apa ummi tidak ingin menantu seperti ustadzah Nafis?" tanya Zahra kemudian, meskipun pertanyaan itu membuat dadanya terasa nyeri.
"Pengen!"
Jlep
Rasanya jantung Zahra seperti di tusuk ribuan jarum, rasa bersalah itu seperti kembali muncul. Mengingat kenyataan bahwa ia lah yang mematahkan keinginan wanita di depannya itu untuk memiliki menantu seperti ustadzah Nafis.
"Tapi_!" ucap ummi lagi seperti angin segar yang berhembus dari celah yang sempit, seperti sebuah harapan yang lain yang mungkin bisa menawar lukanya.
"Tapi?"
"Tapi jika itu ummi punya anak laki satu lagi, karena anak laki ummi cuma satu dan ummi bahagia dia memilih kamu. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk ustadzah Nafis ataupun kamu. Mungkin benar, jika ummi mencari kesempurnaan ummi akan terus mencari kelemahan kamu. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu,"
"Apa itu ummi?"
" Zaki memandangi begitu sempurna sebagai seorang istri, itu lebih dari cukup untuk menyingkirkan semua yang menurut orang lain lebih sempurna!"
__ADS_1
"Emmmm, ummi Zahra jadi terharu!?" ucap Zahra sambil memeluk ummi. Ia tidak menyangka mendapatkan dukungan sebegitu besarnya dari wanita yang telah melahirkan suaminya.
"Terimakasih ummi, terimakasih sudah menguatkan hati Zahra!"
"Terimakasih sudah mencintai putra ummi dengan begitu sempurna!"
"Ustad Zaki ummi, yang mencintai Zahra dengan begitu sempurna!"
"Kalian sama, satu sama. Bagaimana? Sekarang sudah adil kan!" ucap ummi sengaja mengcandai Zahra.
"Ahhhh ummi!"
"Sudah ah lepasin ummi, malu di lihat orang. Kalau mau pelukan lama.nanti pas di rumah, jangan meluk anak ummi terus!"
"Apaan sih ummi, Zahra jadi malu!"
Mereka pun akhirnya kembali ke rombongan.
Kali ini Zahra pulang dengan wajah yang lebih ceria di bandingkan tadi saat berangkat. Ustad Zaki yang kebetulan juga baru pulang Dangan cepat memarkirkan motornya begitu melihat mobil rombongan Zahra dan umminya.
"Assalamualaikum!" sapa ustad Zaki.
"Waalaikum salam!" sahut seluruh rombongan yang berisi sekitar enam orang.
"Dari mana Zak?" tanya ummi melihat putranya tengah membawa tas.
"Tadi ada urusan sebentar ummi di luar, bagaimana. pengajiannya? Seru ummi?"
"Pengajian kok seru sih, memang main game!"
"Tapi sudah berhasil bikin seseorang senyum terus ummi, Zaki pikir seseru main game!" ucap Zaki sambil melirik sang istri.
"Apaan.sih mas ustad ini, godain Zahra aja." ucap Zahra sambil mencubit pinggang ustad Zaki tapi dengan cepat ustad Zaki menarik tubuh Zahra dalam pelukannya,
"Nggak tahu apa ada yang lagi kangen!" bisik ustad Zaki seakan lupa jika ada ummi nya di sana.
"Ya Allah, ummi sudah kayak obat nyamuk aja. Sudah sana kalau.mau bermesraan di kamar sana."
"Ye ummi iri ya!" goda ustad Zaki.
"Mau ummi lempar pakek sendal!" ancam ummi sambil mengambil sandalnya.
"Ya Allah ummi sensi amet, mentang-mentang Abi nggak pulang-pulang."
__ADS_1
"Zakiiiiii!?"
Ustad Zaki malah tersenyum melihat wajah umminya yang kesal,
"Ayo dek ke kamar aja, lama-lama kasihan sama ummi." ajak ustad Zaki dan langsung mendapat pukulan dari Zahra.
"Jangan dengerin mas ustad ummi, ya udah Zahra ke kamar dulu ya ummi!"
"Iya, jangan mau di goda sama si Zaki. Dia itu suka gombal!" ucap ummi saat ustad Zaki dan Zahra sudah menaiki tanggal.
Ummi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat kemesraan putra dan menantunya, akhirnya perasaannya lega setidaknya satu per satu masalah terselesaikan dengan baik. Ia benar-benar bangga dengan sikap Zahra, meskipun usianya masih muda tapi ia cukup dewasa dalam menghadapi masalah.
Ustad Zaki membimbing Zahra untuk duduk di tepi tempat tidur,
"Ceritakan sama mas apa yang sudah membuat Zahra tersenyum begitu bahagia!"
"Cerita nggak ya!?"
"Baiklah kalau dek Zahra nggak mau cerita, nggak pa pa! Mas nggak maksa tapi mas seneng lihat dek Zahra tersenyum bahagia seperti itu!"
"Zahra cerita kok mas, mas ustad berhak untuk tahu!"
"Apa?"
Zahra pun menceritakan pertemuannya dengan ustadzah Nafis dan apa yang mereka bicarakan dengan ustadzah Nafis.
"Sekarang, apa mas menyesal tidak jadi menikah dengan ustadzah Nafis?" tanya Zahra dan ustad Zaki menggelengkan kepalanya dengan mantap.
"Kenapa? Ustadzah Nafis begitu baik! Dia wanita idaman?"
"Jawabannya ada di kisah masa lalu versi mas, jadi mungkin sekarang saatnya dek Zahra tahu kisahnya versi mas!"
"Bagaimana?"
Ustad Zaki pun ikut duduk dan bersiap untuk memulai bercerita
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...