Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 16


__ADS_3

Sepanjang Nur cerita, Zahra benar-benar tidak bisa menahan tawa hingga perut ya terasa kebas.


"Ya Allah, Nur. Nggak kebayang aku bagaimana malunya kamu saat itu, pengen lihat Semerah apa wajah kamu."


"Apaan sih Jah, temen susah malah di ketawain." protes Nur.


Nur pun beranjak dari duduknya dan berjalan mendahului Zahra, Zahra yang masih begitu penasaran dengan kelanjutan cerita sahabatnya yang terbilang abstur itu.


"Gimana Nur kelanjutannya?"


"Nanti aja, aku lapar mau makan dulu."


"Makan di rumah aku aja ya." rayu Zahra sambil mengedipkan matanya beberapa kali dengan tangan yang menggoyang-goyangkan lengan sahabatnya itu.


"Nggak ah, nggak enak sama pak ustad." tolak Nur sambil menepis tangan Zahra pelan kemudian berjalan kembali mendahului Zahra.


Sepertinya zahra belum mau menyerah, ia masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya antara sahabatnya itu dengan pria bernama Wahid.


"Mas Ustad kan lagi ke Tulungagung."


"Serius?" tanya Nur sambil menghentikan langkahnya.


"Hmmm," Zahra menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah sahabatnya itu curiga, "Ada apa?" tanyanya kemudian sambil mendekati sahabatnya itu.7uu


"Nanti kalau di sana mas Wahid cerita sama ustad Zaki gimana?" tanyanya sambil menggigit bibir bawahnya seolah tengah mengkhawatirkan sesuatu.


"Ahhh jadi semakin penasaran sama cerita kamu, cepetan di lanjut ya." rengek Zahra persis seperti anak kecil. Entah sejak hamil atau sejak kapan hingga Nur baru menyadari kalau sikap Zahra sedikit manja.


"Baiklah, baiklah. Aku akan makan di rumah kamu kalau kamu memaksa sih." ucap Nur sok jual mahal.


"Ihhh gayamu! Jan Ndak Nyeni."

__ADS_1


"Yo Ra po po, kapan neh entok makan gratis."


Akhirnya Zahra dan Nur sampai juga di rumah Zahra, karena di rumah Zahra ada budhe Yati, tetangga yang ustad Zaki tugaskan untuk memasak dan bersih-bersih di rumahnya jadi makanan selalu sudah terhidang di atas meja saat ia selesai jalan pagi. Karena ibunya Weni sedang pulang ke kampung orang tuanya untuk mengurus beberapa hal dan tidak bisa menentukan kapan pulangnya membuat ustad Zaki mencari penggantinya, beruntung budhe Yati bersedia dan kebetulan budhe Yati termasuk kerabat Zahra hingga ustad Zaki tidak perlu cemas saat harus di tinggal-tinggal karena jadwalnya yang semakin padat.


"Maem nduk, Jah! Budhe wes masakin sambel teri sama orang kangkung kesukaan kamu." ucap budhe Yati saat Zahra mendekat ke dapur.


"Ihh budhe, jadi cuma zahra nih yang di tawari sarapan. Nur nggak!?" protes Nur.


Budhe Yati pun tersenyum, meskipun satu gigi atasnya sudah lepas tapi tidak mengurangi kecantikan alaminya dengan kulit yang bisa dibilang bersih untuk ukuran orang kampung,


"Ya Iyo to Nur. Mosok budhe tega." ucap budhe Yati sambil menyodorkan sebuah piring kosong pada nur,


"Nih tadi budhe kalau masak sudah di lebihin, budhe ini orangnya oeka."


"Cie ..., budhe." goda Nur sambil tersenyum senang.


"Opo to Nur. Yo wes ayo gek dimakan, budhe mau ke warung bentar." segera budhe Yati mengalihkan pembicaraan dan memang kebetulan dia juga ingin membeli sesuatu di warung.


"Kalian kompak banget," puji budhe Yati kemudian, "Yo wes, budhe Ra budal-budal nggok. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam, " jawab Zahra San Nur bersamaan lagi.


Akhirnya budhe Yati meninggalkan mereka berdua. Setelah memastikan budhe Yati pergi, mereka berdua pun segera duduk dan kursi yang sudah tersedia.


"Wahhh, seneng banget pagi-pagi dapat makanan lezat." puji Nur yang tidak kalah antudias dibandingkan Zahra yang memang mulai gampang lapar.


"Gayamu Nur, kayak nggak tau makan enak aja." ucap Zahra yang sudah mulai menikmati makanannya.


"Ya gimana lagi, jadi anak kos itu harus hemat Jah. Makan ya kudu di atur, nggak sama kayak pas di rumah. Jangankan jajan banyak, beli bakso, beli mie ayam, mau beli cilok aja pikir-pikir. Apalagi pas_," Nur tiba-tiba menghentikan ucapanya, makanannya pun jadi susah untuk di telan meskipun ia sudah mengunyahnya cukup lama.


"Pas?" Zahra sampai memiringkan kepalanya penasaran dengan kelanjutan ucapan Nur.

__ADS_1


"Ya pas dompet sama hp aku ketinggalan." ucap Nur pasrah, ia jelas tidak bisa berbohong dengan zahra. Menurutnya zahra terlalu cerdik baginya, tapi ia juga suka heran karena ternyata kecerdikan Zahra masih selalu bisa dipatahkan oleh sang suami yang tidak lain adalah ustad Zaki.


"Ya Allah, hampir lupa aku. Trus ceritanya lagi gimana?" Zahra kembali antusias, ia sepetinya ingin segera menghabiskan makanannya dan mendengarkan cerita dari Nur.


Flashback on


"Kenapa masih mengikuti aku?" tanya Wahid saat menyadari nur yang masih berjalan di belakangnya.


"Tadi kan aku sudah bilang, dompet sama hp aku ketinggalan."


"Jadi?"


" Jadi aku bahkan tidak punya uang untuk sekedar kembali ke kos-kosan." ucap nur dengan memasang wajah yang menyedihkan.


"Baiklah aku mengerti." Wahid pun merogoh saku celana, mengeluarkan selembar uang lima ribuan dan dua lembar uang dua ribuan, sepertinya itu sisa ia membeli makanan tadi,


"ini." ucapnya lagi sambil menyerahkan uang itu pada Nur, rapi nur tidak segera mengambilnya. Dari pada langsung mengambil uang itu, Nur lebih memilih menatap Wahid dengan penuh tanda tanya,


"Ini cukup kan untuk naik angkot?" tanya lagi sambil mengibaskan uang itu di depan wajah Nur.


Nur pun mengangukkan kepalanya dengan ragu, memang benar uang sejumlah itu bisa ia gunakan untuk naik angkot sampai tempat kos. Tapi yang ia inginkan bukan itu.


"Bagus!" ucap Wahid lagi sambil menarik tangan Nur dan meletakkan uang itu diatas telapak tangan Nur.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2