
Walaupun tidak menyukai keputusan ustad Zaki, tapi Zahra tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun memilih mengalah dan mengakhiri perdebatannya mereka walaupun memang selalu kalah.
"Sudah, Zahra ngaku kalah!" ucapnya saat tubuhnya tepat di bawah Kungkungan ustad Zaki di atas sofa ruang tamu.
"Boleh dong cium dikit?" sekali lagi ustad Zaki memberi tawaran.
"Dasar mesum!" walaupun menggerutu tapi ia memberikan pipinya.
Ustad Zaki tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke pipi Zahra, sepetinya mereka lupa jika belum menutup pintu hingga sebuah salam mengejutkan mereka.
"Assalamualaikum!"
Zahra dan ustad Zaki dengan reflek menoleh ke arah pintu dan ternyata Amir sudah berdiri di sana.
Dengan cepat ustad Zaki beranjak dari tubuh Zahra begitupun Zahra yang segara bangun dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah suaminya.
"Wa_alaikum salam!" jawab mereka serempak dengan ragu.
"Maaf ustad, nggak sengaja! Lanjutkan saja kalau mau di lanjut, saya bisa ke sini nanti!" Amir sudah membalik badannya, sepertinya ia juga terkejut.
"Nggak! Masuk Mir!"
Karena menahan malu, Zahra pun segera masuk ke dalam kamar tanpa di perintah oleh suaminya.
"Ahhh, iya!" Amir pun kembali berbalik dan merasa lega saat melihat zahra sudah tidak ada bersama ustad Zaki.
Amir pun dengan rasa canggungnya masuk ke dalam rumah dan di persilahkan duduk oleh ustad Zaki.
"Ada apa Mir?"
"Hari ini Imah katanya ada acara di kampung sebelah, kira-kira ustad bisa ngajar anak-anak nggak?"
"Ohhh itu, bisa kok Mir!"
Saat ustad Zaki tengah sibuk ngobrol di depan dengan Amir, Zahra pun memilih menyibukkan diri di dalam kamar. Lebih tepatnya bersembunyi di sana.
"Hehhhh, ada-ada aja mas ustad, kan jadi malu sama mas Amir!"
Zahra segera berdiri dari duduknya, ia kembali mengingat kejadian tadi pagi. Rasanya masih begitu nyata hingga ia tidak mampu mengikutkan senyum di bibirnya.
Ia berdiri tepat di depan cermin, menatap pantulan dirinya,
"Apa itu yang namanya malam pertama?" tanyanya pada bayangan dirinya di cermin besar itu.
"Tapi kan kita nggak sama-sama telanjang!" gumamnya lagi, hingga tangannya menyentuh sesuatu yang asing di lehernya.
"Ini apa?" gumamnya pelan melihat tanda merah di lehernya, sekali lagi ia menyingkap lebih banyak bajunya hingga menemukan begitu banyak di sana.
"Ini apa-apaan!?"
Zahra pun mulai membuka satu per satu kancing bajunya, ternyata tanda itu tidak hanya ada di leher tapi di dadanya juga.
"Yang benar saja!" gumamnya pelan, "Tapi tadi Bu Chusna tidak lihat kan? Pasti tidak lihat, ini banyak sekali!"
__ADS_1
Tok tok tok
"Assalamualaikum, dek! Mas masuk ya!"
Zahra dengan cepat menutup kembali kancing bajunya, dan dengan langkah cepat pula ia menghampiri pintu dan membukanya,
"Waalaikum salam!"
"Kenapa cemberut dek?" tanya ustad Zaki saat melihat Zahra mengerucutkan bibirnya.
"Mas Amir mana?" tanyanya sambil memelongokan kepalanya ke ruang tamu.
"Sudah pulang!"
Srekkkkk
Dengan cepat Zahra menarik tangan ustad Zaki agar masuk ke dalam kamar,
"Ada apa dek, nggak sabar sekali!?" ucap ustad Zaki sambil tersenyum.
Zahra pun meminta ustad Zaki untuk duduk di tepi tempat tidur, ia berdiri tepat di depan. sang suami.
Kenapa dek Zahra membuka kancing bajunya ...., jantung ustad Zaki sudah berdebar membayangkan hal berani yang akan di lakukan oleh Zahra.
"Nanti malam aja dek, mas masih harus ke masjid buat ngajar anak-anak!" tangan ustad Zaki sudah menahan tangan Zahra yang tengah sibuk membuka kancing bajunya.
"Nggak, ini cuma sebentar!" Zahra terlihat sedikit kesusahan karena ulah suaminya.
"Tapi tetap saja, pasti memakan waktu setengah jam!" sekali lagi ustad Zaki menahannya hingga Zahra gagal membuka kancing bajunya.
"Nggapain setengah jam, nggak Sampek lima menit juga selesai!"
"Nanti nggak puas dek kalau cuma bentar!"
Puas? Sebenernya mas ustad nih ngomongin apa sih ..., batin Zahra mulai curiga.
"Mas ustad ngomongin apa sih?"
"Dek Zahra mau mengulang yang tadi pagi kan?" tanya ustad Zaki dengan begitu yakin.
"Dasar otak mesum!" ucap Zahra sambil mengibaskan tangan sang suami hingga terlepas.
"Lalu?"
"Zahra cuma mau memperlihatkan ini!" Zahra membuka bajunya di bagian dada dan leher.
Hal itu membuat ustad Zaki tersenyum, ia menertawakan pikiran mesumnya sekaligus senang dengan hasil karyanya.
"Malah ketawa sih?"
"Itu bagus dek!"
"Bagus apanya, Zahra malu kalau sampai di lihat orang!"
__ADS_1
"Nggak pa pa dek, harusnya dek Zahra bangga karena mas bisa buat karya sebagus itu!"
"Ihhh dasar otak mesum, nyesel kasih lihat!" Zahra kembali menutup bajunya dan duduk di samping ustad Zaki.
Ustad Zaki pun meraih bahu Zahra membawanya ke dalam pelukannya.
"Maaf ya dek, lain kali mas nggak buat di situ, mas akan buat di tempat yang tersembunyi biar mas aja yang bisa lihat!"
Maksudnya apa nih? Tersembunyi ...., batin Zahra curiga dengan ucapan suaminya.
"Maksudnya di mana?"
"Nanti dek Zahra juga tahu, ya udah mas siap-siap dulu ya. Kasihan kalau anak-anak nunggu!"
Ustad Zaki pun segera beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar mandi.
Ternyata baru saja bepergian tidak menghalangi ustad Zaki untuk mengajar di masjid,
"Yakin tetap mau berangkat ke masjid?" tanya Zahra lagi setalah sang suami keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapinya.
"Iya dek, kasihan Imah sendiri terus."
"Tuh kan!" entah kenapa setiap kali menyabut nama Imah, rasa hatinya begitu kesal.
"Ada Amir juga, dek! Atau dek Zahra mau ikut ngaji sekalian? Lagi pula kata Amir tadi Imah lagi ada acara di kampung sebelah."
"Enak aja, masak aku suruh ngaji bareng anak kecil sih!" setidaknya ia lega karena hari ini tidak ada Imah dengan suaminya. Walaupun ia juga tidak setuju dengan saran sang suami untuk mengaji bersama anak-anak.
"Nggak pa pa, kan sama-sama belajar! Atau dek Zahra ikut yang ba'dha magrib, ada nur juga."
"Ogah, males!" jawab Zahra sekenanya.
Ustad Zaki pun mengaku kedua pipi istrinya,
"Ya sudah, jangan cemburu-cemburuan ya!" ustad Zaki mengusap kepala Zahra yang tertutup mukena karena baru saja sholat ashar, "Kamu cantik dek kalau pakek ini!"
Ucapan ustad Zaki berhasil membuat Zahra tersipu dibuatnya.
"Pengen lanjut, tapi nanti deh!" ucapnya lagi membuat Zahra tercengang.
"Apanya?" tanya Zahra penasaran.
..."Baik-baik ya, di sana ada hati yang suka melihatmu tersenyum bahagia", @aidar.rofiqq...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰