Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pasti Rindu


__ADS_3

Zahra menatap suaminya yang tengah berkemas, hanya beberapa helai kemeja yang ustad Zaki masukkan ke dalam tas ranselnya, memang di sana nanti ia akan tinggal di pesantren orang tuanya tapi ia tidak yakin bajunya yang di sana masih layak pakai, seingatnya ia meninggalkan tempat itu sudah semenjak ia memutuskan untuk belajar di pesantren. Sudah hampir enam tahun, mungkin bajunya sudah tidak muat lagi. Walaupun seorang ustad, ia lebih suka memakai kemeja dan sarung dari pada baju Koko, itulah yang mungkin membuatnya berbeda, penampilannya yang segar membuat banyak yang suka apalagi para remaja.


"Harus secepat ini ya mas berangkatnya?" tanyanya lagi, ini adalah pertanyaan untuk kesekian kalinya.


"Maaf ya dek, tapi pesawat mas berangkat sore ini. Mas akan mengantar dek Zahra dulu sebelum pergi."


"Tapi kayaknya Zahra di rumah aja deh mas!?"


Mendengar ucapan Zahra, ustad Zaki pun menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan kembali sarung yang sudah hampir masuk ke dalam tas di atas tempat tidur, ia segera berjongkok di depan Zahra dan menggenggam kedua tangannya,


"Dek, mas nggak akan tenang kalau dek Zahra sendiri di rumah. Kalau di rumah bapak, kan ada bapak yang jagain!"


"Tapi kan Zahra sudah janji nggak akan keluyuran!"


"Tetap saja dek, apalagi Bu Marni nggak bisa setiap malam menenin dek Zahra. Pokoknya keputusan mas sudah bulat, dek Zahra harus tinggal sementara sama bapak, mas janji nanti sepulang dari Bandung langsung jemput dek Zahra."


Mendengar penuturan sang suami yang panjang lebar membuat Zahra tidak bisa membantah lagi, ia pun mengangukkan kepalanya,


"Baiklah!"


"Oh iya, mas punya sesuatu!" ustad Zaki kembali berdiri dan menghampiri lemari pakaian, ia mengambil sesuatu di tumpukan bajunya. Sebuah kain yang terlipat rapi, sepertinya sudah lama benda itu berada di sana.


Ustad Zaki membawa kain itu kembali mendekati sang istri,


"Dek, boleh nggak mas minta satu saja permintaan!?"


"Apa?"


Ustad Zaki membuka lipatan kain itu dan rupanya sebuah hijab panjang,


"Mas beli ini sudah lama sekali, tapi mas belum punya kesempatan untuk memberikannya pada dek Zahra."


Zahra pun mengambil jilbab panjang itu, entah kenapa rasanya hatinya benar-benar tersentuh, matanya berkaca-kaca, entah perasaan apa yang tengah menggelitik di hatinya hingga matanya pun mulai berair.


"Mas pengen lihat dek Zahra pakai itu, boleh nggak mas pakaikan sekarang?" tanya ustad Zaki dengan lembut seperti biasanya. Senyumnya yang selalu mengetatkan dunia Zahra.


Zahra pun mengangukkan kepalanya mantap, ustad Zaki segera bangun dari jongkoknya dan mengambil jilbab itu dari tangan Zahra, ia membuka lebar dan langsung menutupkannya ke kepala Zahra, menautkan keduanya di dagu Zahra dan mengambil peniti yang entah sejak kapan berada di atas nakas dan mengancingkannya di bawah dagu Zahra.


Tiba-tiba air mata ustad Zaki menetes, dan dengan cepat ia mengusapnya sebelum Zahra melihatnya.


"Masyaallah, sungguh cantik istriku!" gumamnya dengan mata yang berair, "Barakallah, semoga Allah selalu melindungimu!"


"Amiiin!"


Ya Allah kalau boleh hamba serakah, hamba ingin istri hamba memakainya setiap hari, doanya dalam hati. Ia tidak ingin mengutarakannya pada sang istri, ia takut sang istri melakukannya karena terpaksa atau karena dirinya bukan karena Allah.

__ADS_1


"Mas," panggil Zahra pada ustad Zaki yang tampan terdiam menatapnya.


"Apa, dek?" tanyanya sambil menggenggam kedua tangan Zahra.


"Kalau Zahra pakai jilbab ini setiap hari, bagaimana?"


Ustad Zaki begitu tercengang mendengar pertanyaan dari sang istri, ia baru saja berdoa dan secepat kilat doa itu dikabulkan oleh Allah.


"Dek Zahra_!" ustad Zaki belum sampai melanjutkan ucapannya, Zahra sudah lebih dulu memotongnya.


"Insyaallah Zahra serius! Zahra mau belajar mas, tapi tetap bimbing Zahra ya!"


"Iya pasti!" dengan begitu bersemangat ia menciumi kedua tangan Zahra bertubi-tubi sebagai tanda syukurnya.


Ya Allah, Engkau begitu baik padaku ya Allah ..., terimakasih


"Ya sudah, dek Zahra siap-siap gihhh. Mas akan antar ke rumah bapak!"


"Hmmm!"


"Biar mas bantu!" ustad Zaki sudah beranjak dari tempatnya tapi dengan cepat Zahra menahan tangannya.


"Tunggu mas,"


"Apa?"


Ustad Zaki tersenyum dan ia pun kembali duduk, kali ini duduk di samping Zahra, tangannya juga meraih ponsel yang ada di atas nakas, membuka aplikasi kamera pada ponselnya.


Srekkkk


Ia menarik tubuh Zahra agar lebih dekat, kini ia juga menempelkan wajah mereka dan membisikkan kamera Selfi ke arah mereka, beberapa pose sengaja mereka ambil.


"Sudah, nanti mas kirim ke hp kamu!"


Akhirnya Zahra pun mengemasi barangnya, dibantu juga oleh ustad Zaki.


"Sudah siap?" tanya ustad Zaki saat melihat Zahra dengan tas besarnya juga.


Zahra mengangukkan kepalanya, ustad Zaki pun mendekati Zahra dan mengambil tas milik Zahra, kini kedua tangan ustad Zaki membawa tas.


"Mas," panggil Zahra lagi membuat ustad Zaki kembali menoleh pada sang istri.


Cup


Tiba-tiba Zahra mendaratkan ciuman di bibir sang suami membuat sang suami reflek menjatuhkan kembali tasnya ke lantai. Ia pun segera menarik punggung Zahra dengan satu lengannya agar ciuman itu semakin dalam. Rasanya tidak rela unrjn berpisah begitu lama dengan sang istri.

__ADS_1


Benar saja, ciuman yang awalnya begitu menggambarkan cinta yang dalam kini berubah menjadi gairah satu sama lain, hingga tanpa terasa ustad Zaki sudah membawa tubuh Zahra ke tempat tidur dan menindihnya.


Pesawatnya masih akan berangkat lima jam lagi, masih ada waktu satu jam untuknya berangkat hingga ke bandar udara Juanda. Ustad Zaki pun memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk kembali menjamah sang istri.


Hanya sepuluh menit, dan mereka kembali mandi berdua.


"Kan basah lagi!?" keluh Zahra saat ustad Zaki membantunya mengeringkan rambutnya.


"Kan tadi yang goda dek Zahra duluan!"


"Zahra kan cuma cium!"


"Tetap saja, itu cara membangunkan hasrat seorang pria dek!"


***


Kini ustad Zaki dan Zahra sudah berada di rumah pak Warsi.


"Saya titip Zahra ya pak!?" ucap ustad Zaki yang sudah duduk berhadapan dengan pak Warsi.


"Jangan khawatir, nak Zaki. Insyaallah Zahra aman di sini."


"Terimakasih ya pak! Kalau begitu Zaki berangkat dulu!"


"Apa tidak sebaiknya nak Zaki pamitan dulu sama Zahra!"


"Tadi sudah pak, takut nggak tega kalau lihat dek Zahra lagi!"


Memang saat ini Zahra sengaja langsung masuk ke dalam kamar, ia pun takut jika terus melihat sang suami ia tidak akan bisa melepas sang suami.



...Aku tahu Tuhan mendengar suara hatimu, untuk itu aku ingin berbisik pada Tuhan dalam sujudku untuk menyampaikan rinduku padamu...


...🌺Ustad Zaki🌺...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2