Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Akhirnya!!!!!


__ADS_3

"Aku cium ya?" tanya ustad Zaki dengan lebih dekat bahkan hembusan nafasnya kini sudah menyapu wajah Zahra, seketika tubuh Zahra seperti kehilangan tulang-tulang nya.


Tangan Zahra segera mencengkeram kemeja yang di kenakan oleh ustad Zaki saat bibir itu semakin dekat dan dekat hingga akhirnya benar-benar saling menempel.


Mata Zahra terpejam, bersiap menerima setiap perlakuan manis sang suami,


Kriiiiiing kriiiiiing kriiiiiing


Tiba-tiba ponsel yang berada di atas meja entah sejak kapan berada di situ berbunyi membuat ustad Zaki menghentikan luma*annya, ia juga melepaskan pagutannya.


"Dek, ada telpon!?"


Ya Allah, kenapa ada yang ganggu sih di saat seperti ini ..., keluh Zahra dalam batinnya.


Perlahan Zahra membuka matanya dan melepaskan tangannya dari kemeja sang suami,


"Maaf ya!" ucap ustad Zaki lagi sambil melepaskan tautan tangannya pada punggung Zahra. Ia segera melihat siapa yang melakukan panggilan telpon,


"Ini kyai Hasyim, mas angkat dulu ya?"


Mau gimana lagi ..., Zahra hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.


Ustad Zaki pun beranjak dari duduknya dan segera menerima panggilan telponnya,


"...."


"Waalaikum salam, kyai."


"...."


"Tidak pa pa kyai, ada apa ya?"


Ustad Zaki membawanya ponselnya ke ruang depan saat apa yang mereka bicarakan serius agar tidak menggangu sang istri.


Setelah ustad Zaki tidak terlihat lagi, Zahra segera melampiaskan kekesalannya pada bantal yang ada di depannya, ia memukul bantal itu bertubi-tubi,


"Ihhh, sebel sebel ....! Kenapa juga selalu saja ada yang mengganggu di saat seperti ini, memang aku harus menunggu kapan lagi!?"


"Ingin banget rasanya aku tarik tuh orang ke kamar dan aku_!" Zahra malah menghentikan ucapannya sendiri begitu menyadari sesuatu, ia segera menoleh ke ruang depan dan beruntung sang suami tidak sampai mendengar apa yang baru saja ia katakan.


Ia menatap kesal pada suaminya yang masih sibuk telponan dengan seseorang,


"Memang dia suamiku atau suami masyarakat sih? Ini kan jatahku!" protesnya tapi tidak berani langsung pada sang suami.


"Hmmm!?" sebuah deheman segera menyadarkannya.


Hahhh, cepet banget ...., Zahra sampai tidak menyadari kapan kembalinya sang suami hingga pria yang sudah resmi menikahinya kini berada tepat di depannya.


Ustad Zaki meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja dan kembali berbalik pada Zahra, ia bahkan mencondongkan tubuhnya hingga begitu dekat dengan Zahra.


"Katanya ingin menarikku ke kamar dan_!" ucap ustad Zaki sambil mengerlingkan matanya menggoda.


"Hahhh?" Zahra benar-benar terkejut.


Jadi dia dengar tadi, kok bisa? batin Zahra, sepertinya dia tidak sadar jika suaranya terlalu nyaring untuk rumahnya yang ukurannya tidak besar.


"Hahh? Jadi bagaimana, mau menarikku atau aku yang menggendong mu?"

__ADS_1


Pertanyaan itu justru terdengar ngeri di telinga Zahra hingga ia bahkan tidak bisa sekedar menjawab ya atau tidak.


Srekkkk


Hingga tiba-tiba tubuhnya sudah ustad Zaki tarik kedalam bopongannya,


"Dek Zahra tidak perlu menarik mas, karena mas sendiri yang akan melakukannya!" ucapnya sambil membawa tubuh Zahra ke dalam kamar.


Ustad Zaki merebahkan tubuh sang istri di atas tempat tidur, tidak lupa ia juga mematikan lampu kamar. Ia segera menindih tubuh sang istri dan menghujani wajah Zahra dengan ciuman yang bertubi-tubi seolah-olah sekali kecupan saja tidak akan pernah cukup untuk mengutarakan perasaannya.


"Dek," panggilnya kemudian setelah menghentikan ciumannya.


"Hmmm!" Zahra perlu mengembalikan dirinya setelah tubuhnya meremang, suaranya bahkan terdengar begitu serak dan dalam, ia benar-benar tidak bisa menguasai dirinya sendiri.


"Maaf jika mas melanggar janji mas sendiri,"


"Maksudnya?" tanya Zahra yang tidak mengerti dengan ucapan sang suami.


"Apakah boleh mas meminta hak mas malam ini?" tanya ustad Zaki dengan penuh harap,


Zahra terdiam, apa perasaan campur aduk di sana, antara perasaan cemas, takut, senang juga penasaran.


Melihat Zahra yang hanya diam membuat ustad Zaki merasa tidak enak, "Tapi kalau dek Zahra belum siap, mas tidak akan memaksa."


Ustad Zaki meninggalkan kecupan di kening Zahra dan mengusap kepala Zahra, ia hendak beranjak dari tubuh Zahra tapi dengan cepat tangan Zahra menahan ujung kemeja sang suami membuat sang suami kembali menatap padanya,


Zahra mengangukkan kepalanya membuat ustad Zaki mengeryitkan keningnya.


"Maksud dek Zahra?"


Zahra memejamkan matanya dan kembali mengangukkan kepalanya, "Zahra mau!"


"Jadi_?"


Sekali lagi Zahra menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan dirinya sendiri juga ustad Zaki,


"Zahra siap!"


Ustad Zaki tersenyum dan segera kembali duduk membuat Zahra semakin heran.


Kenapa? Apa pertanyaanmya tadi tidak serius? Kenapa nggak langsung_, batin Zahra saat sang suami tidak bereaksi dan malam memilih duduk.


"Ayo dek!" ajaknya lagi sambil menoleh pada Zahra lagi.


"Kemana?"


"Kita ambil wudhu."


"Hahhh?"


Aneh banget nih orang, tadi katanya ngajak ehem ehem, tapi sekarang malah ngajak wudhu, batin Zahra tidak mengerti.


"Zahra sudah sholat isya' tadi." jawab Zahra dengan polosnya membuat ustad Zaki tersenyum.


"Kita sholat Sunnah dua rakaat dulu,"


"Untuk?"

__ADS_1


"Agar kita nanti dijauhkan dari gangguan syetan, dan Allah menganugerahkan keturunan pada kita keturunan yang baik."


"Ohhh!"


Walaupun sebenarnya tidak begitu mengerti dengan penjelasan dari sang suami, Zahra pun memilih bangun dan melakukan seperti apa yang di minta sang suami.


Setelah mengambil wudhu, mereka pun akhirnya sholat dua rakaat berjamaah dan di akhiri dengan doa.


Setelah melepas mukenanya, Zahra kembali duduk di tepi tempat tidur, menunggu sang suami selesai berdzikir.


Ustad Zaki menoleh dan tersenyum pada Zahra setelah menyelesaikan zikirnya, ia menyusul duduk di samping Zahra.


"Dek, apa dek Zahra sudah benar-benar siap?" tanya ustad Zaki lagi memastikan.


Hehhhh ....


Lama banget ....


Zahra sampai menghela nafas saat sang suami kembali bertanya, padahal ia sudah sangat penasaran.


"Ya sudah lah, Zahra mau tidur!" Zahra segera menggeser tubuhnya dan hendak merebahkan tubuhnya tapi dengan cepat ustad Zaki menarik tubuhnya, menindihnya dan melakukan seperti yang seharusnya terjadi.


Setelah memberikan ciuman, perlahan ustad Zaki menanggalkan pakaian sang istri,


"Dek, mungkin akan sedikit sakit. dek Zahra tahan ya! Kalau dek Zahra takut, dek Zahra boleh mencengkeram atau menggigit tubuh mas, dimana aja,"


Zahra yang sudah kehilangan tenaganya karena ulah sang suami hanya bisa mengangukkan kepalanya.


Dengan hati-hati, ustad Zaki melakukan tugasnya dan,


"Aaaaaa!?" teriak Zahra saat benar-benar jebol pertahanannya hingga membuat ustad Zaki panik.


"Dek,"


"Sakit mas!" ucapnya dengan sedikit rintihan, air matanya pun juga ikut jatuh dengan lembut ustad Zaki mengusap air mata itu,


"Maaf ya, sekali lagi ya, pasti tidak akan sakit lagi, mas akan lebih pelan lagi."


"Tapi Zahra takut!" ia mencengkeram erat bahu sang suami, bahkan bekas kukunya sampai melukai kulit sang suami.


"Mas akan pelan, kalah dek Zahra tidak mau di lanjut, mas akan berhenti sekarang!"


Mendengar hal itu membuat Zahra tidak tega, memang sangat sakit tapi mungkin benar setelah ini tidak akan begitu sakit seperti yang pertama,


"Jangan, di lanjut sajaa," ucap Zahra dengan suara yang tertahan di tenggorokan dengan dada yang naik turun karena nafas yang memburu.


"Baiklah, di tahan ya dek!" sebelum memulai lagi, ustad Zaki pun meninggalkan kecupan di kening sang istri.


Dan akhirnya malam itu benar-benar menjadi malam pelepasan bagi pengantin baru yang sudah menikah hampir tiga bulan itu. Malam yang di penuhi dengan irama nafas yang menderu bercampur dengan peluh yang membasahi tubuh, suara desah*n yang saling bersahutan menjadikan malam itu semakin indah.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2