
Zahra pun buru-buru keluar, ia tidak membawa pembalut di tasnya. Ia harus ke toko yang ada di depan sekolah.
Meski begitu ia tidak bisa berjalan cepat karena rasa nyeri di perutnya teramat sangat.
"Kebiasaan ya, delepen ngene men (nyeri haid gini banget)!" keluhnya sambil memegangi perutnya dan sesekali ia bersandar di dinding saat nyeri itu datang.
Hingga akhirnya ia sampai juga di tepi jalan, tapi ia harus menyeberang jalan dulu untuk sampai di toko.
"Aduhhhh!?" keluhnya sambil memegangi kepalanya yang semakin puyeng karena terkena sinar matahari, matanya semakin berkunang-kunang.
"Zahra!?"
Seseorang memanggilnya dari belakang, Zahra sangat hafal dengan suara itu.
Zahra pun menoleh ke belakang, meskipun dengan mata yang berkunang-kunang tapi ia yakin yang berdiri di belakangnya itu Bayu,
"Bay_!" belum sampai ia menyelesaikan ucapannya tiba-tiba tubuhnya limbung, beruntung Bayu segera menangkap tubuhnya.
Tapi Zahra masih sadar, ia berusaha melepaskan diri dari Bayu,
"Lepasin Bay!" ucapnya dengan suara lemah,
"Tapi Ra, tubuh kamu lemes banget!?"
"Nggak pa pa!" Zahra masih keras kepala, ia masih bisa mengontrol diri. Bayu bukan mahram nya, tidak seharusnya mereka saling berpegangan.
Akhirnya dengan sisa kekuatannya, Zahra bisa berdiri tegak kembali,
"Kamu kenapa sih Ra?" Bayu terlihat begitu khawatir.
"Tidak pa pa, aku hanya sedang nyeri haid saja!" ucap Zahra dengan suara yang terbata-bata, "Kata Nur kamu_!"
"Iya, aku pindah sekolah di surabaya. Tapi jangan khawatir, aku pindah bukan karena kamu. Tapi memang aku harus pindah karena bisnis papaku di sini bangkrut dan terpaksa pindah ke sana, di sana papaku mau memulai bisnis dengan kakak iparku, sekalian aku harus jagain mama aku yang_!"
__ADS_1
Bug
Belum sampai Bayu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba tubuh Zahra terjatuh, Zahra benar-benar pingsan.
"Ra, Ra, bangun Ra!" Bayu berusaha membangunkan Zahra dengan menepuk pipinya tapi tetap saja Zahra tidak bangun.
Karena tidak ada siapapun yang bisa membantunya, Bayu pun segera mengangkat tubuh Zahra. Kebetulan ia membawa mobil, ia pun memasukkan tubuh zahra ke dalam mobilnya dan membawanya ke klinik terdekat.
***
Ustad Zaki sudah menunggu di depan sekolah Zahra, tapi hingga sepi Zahra tidak juga keluar.
Ini sungguh tidak biasa, ia pun memutuskan untuk masuk ke area sekolah, berharap bisa menemukan Zahra di dalam.
"Ustad!"
Seseorang memanggilnya, rupanya Nur tengah berjalan cepat menghampirinya.
"Assalamualaikum, ustad!" sapanya setelah berada di dekat ustad Zaki.
"Itulah ustad, Zahra katanya sudah keluar dari tadi tapi ia meninggalkan tas nya di kelas!"
"Kamu tahu nggak keluarnya kemana? Kata guru?"
"Katanya ijin ke kamar mandi, tapi Nur sudah keliling sekolah, sudah periksa semua kamar mandi tapi Zahra nya nggak ada!" ucap Nur dengan nafas yang tersengal-sengal, terlihat sekali kalau dia baru saja berjalan jauh.
"Astaghfirullah hal azim!" ustad Zaki berubah khawatir, seketika keringat dingin memenuhi keningnya dan dengan cepat ia mengusap dengan telapak tangannya, dengan sedikit menyisihkan kopyahnya. "Apa terjadi sesuatu sebelumnya? Maksudnya apa Zahra mengeluh sesuatu?"
Nur berpikir sejenak, sudah bukan waktunya untuk menyembunyikan sesuatu lagi. Keadaan Zahra jauh lebih penting dari pada janji dia pada Zahra,
"Sebenernya setiap hari Zahra mengeluh sakit perutnya, dan tadi kami juga sempat ke UKS seperti biasa, tapi katanya perutnya masih terasa sakit meskipun sudah di gunakan untuk istirahat!"
"Astaghfirullah hal azim," sekali lagi Ustad Zaki hanya bisa beristigfar, ia tidak tahu harus mencari Zahra kemana sekarang.
__ADS_1
Ia sudah menghubungi nomor Zahra beberapa kali tapi tidak di angkat karena memang ponselnya berada di dalam tas.
"Coba hubungin siapa saja yang mungkin tahu keberadaan dek Zahra, nur!"
"Baik ustad!"
Akhirnya Nur pun melakukan berbagai panggilan, bertanya pada siapapun yang mungkin melihat Zahra begitu juga dengan ustad Zaki, ia sampai menghubungi bapak dan ibuknya Zahra siapa tahu zahra sudah pulang dan langsung ke rumah orang tuanya. Tapi ustad Zaki tidak memberitahu jika Zahra hilang.
Hingga tiba-tiba sebuah panggilan masuk tapi bukan dari nomor yang ia kenal.
Ustad Zaki terlihat ragu untuk menjawabnya,
Tapi siapa tahu dia tahu tentang dek Zahra ...
Dengan cepat ia menggeser tombol terima,
"Hallo, assalamualaikum!"
"Hallo, ustad Zaki. Saya Bayu_!"
"Bayu?"
Nur segera menoleh ke arah ustad Zaki saat mendengarkan nama Bayi di sebut.
Bersambung
Udah dulu ya, besok lagi insyaallah. Doakan bisa banyak lagi tapi nggak janji ya, kalau soal di lanjut yang ini. Kemarin banyak yang nanya ya!!! Pasti lanjut kok, nggak mungkin gantung aja.
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...