
"Tunggu ustad!"
Panggilan itu berhasil menghentikan langkah cepat ustad Zaki, ia segara menoleh ke sumber suara.
"Ustadzah Nafis!" gumam ustad Zaki. Dan ustadzah Nafis pun berjalan mendekatinya.
"Assalamualaikum, ustad!"
"Waalaikum salam,!"
"Bagaimana kabar ustad Zaki?" tanya ustadzah Nafis berbasa basi.
"Alhamdulillah baik, kapan ustadzah kembali dari Malaysia?" tanya ustad Zaki karena terakhir kali ia ingat jika ustadzah Nafis pergi ke Malaysia bersama keluarganya, "Saya turut berduka cita ya ustadzah!" ucapnya lagi begitu ingat apa alasan ustadzah Nafis dan keluarganya pergi ke Malaysia secara mendadak.
"Terimakasih ustad, kami sudah kembali satu Minggu yang lalu, Abi sengaja tidak mau berlama-lama di sana karena ia harus segera pergi ke Jogyakarta!"
"Jadi kyai Ramli tidak ada?"
"Beliau akan kembali satu Minggu lagi dari sana, kalau ustad Zaki ada yang penting nanti saya sampaikan!"
"Tidak perlu ustadzah, tidak begitu penting!"
Mereka kembali saling diam beberapa detik kemudian ustadzah Nafis kembali memulai pembicaraan.
"Ustad, masalah surat kemarin_!" ucap sutadazah Nafis dan langsung di potong oleh ustad Zaki.
"Jangan di pikirkan lagi ustadzah. Itu sudah berlalu dan saya harap ustadzah bisa segera menemukan imam yang baik untuk ustadzah Nafis!"
"Terimakasih ustad!" walaupun bibirnya tengah tersenyum, sungguh hatinya tengah terluka. Ia ingin sekali berteriak menolak memaksanya untuk kembali mencintainya tapi nyatanya ia tidak bisa, agama dan juga adabnya melarang hal itu.
"Kalau tidak ada yang di bicarakan lagi saya_!" ustad Zaki ingin seger mengakhiri obrolan mereka, rasanya tidak akan baik jika terlalu lama berdua seperti itu meskipun di tempat umum dan mereka tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama, tapi tetap saja masa lalu mereka dikhawatirkan menimbulkan pikiran-pikiran yang tidak-tidak bagu orang yang mengenal mereka.
"Tunggu!" tapi ustadzah Nafis segera menahannya, ia terlihat tengah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Itu sebuah buku, "Aku dengar tadi ustad sedang mencari buku ini,"
Ustad Zaki mengamati cover buku itu dan membaca sekilas judul yang tertera di sana begitu juga dengan pengarangnya,
"Iya, tapi sudah habis!"
"Ambilah ustad, ini buat ustad Zaki. Aku sengaja menyimpannya untuk ustad Zaki, aku ingin ustad menyimpannya juga!"
Ustad Zaki segera mengarahkan tangannya ke atas dada,
__ADS_1
"Tapi maaf ustadzah, tapi saya cari buku ini bukan untuk saya!" ucapnya sambil menolak, baginya jika memang masa lalunya dengan wanita di depannya telah tertuang dalam kisah di buku itu, setidaknya biarkan kisah itu menjadi masa lalu dan tetap berada dalam buku itu, dan kini saatnya ia membuka lembaran baru dan menulis kisah yang baru juga bukan terjebak dalam buku kenangan yang seharusnya hanya menjadi kenangan.
Ustadzah Nafis mengerutkan keningnya, tapi ia tetap menyodorkan buku itu tidak berniat menariknya kembali, kemudian ia tersenyum begitu mengingat sesuatu,
"Untuk istri ustad ya?" tanyanya, walaupun bibirnya senyum tapi ada sedikit perih dari luka yang belum benar-benar sembuh itu.
"Iya!" jawab ustad Zaki dengan tegas.
"Berikan ini dan tolong sampaikan salam saya, terimakasih sudah menyukai buku saya." ucap ustadzah Nafis dengan senyum termanisnya.
"Ini benar tidak pa pa?" tanya ustad Zaki yang merasa ragu untuk menerimanya.
"Iya, silahkan ambil."
"Baiklah, bagaimana kalau saya membelinya?"
"Tidak perlu, saya ikhlas memberikannya!"
"Tapi saya tidak akan terima jika cuma-cuma!"
"Baiklah, jika memaksa ustad bisa membayarnya seharga buku ini! Harganya sembilan puluh lima ribu!"
Ustad Zaki pun mengeluarkan selembar uang seratus ribuan,
"Tidak, saya akan menambahkan ini!" ustadzah Nafis mengeluarkan sebuah gif gantungan kunci dengan gambar yang sama dengan yang tertera di buku, "Anggap saja yang lima ribu ini!" ucap ustadzah Nafis sambil meletakkan gantungan kunci itu di atas buku dan kembali menyodorkannya pada ustad Zaki.
Dan mereka pun saling bertukar buku dan uang,
"Terimakasih ustadzah, kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Ustad Zaki akhirnya benar-benar meninggalkan ustadzah Nafis dengan membawa bukunya, ustadzah Nafis masih terdiam di tempatnya sambil memandangi uang yang di berikan oleh ustad Zaki.
Ia memang sengaja menyimpan buku itu untuk ustad Zaki, dulu sebelum ia tahu ustadz Zaki sudah menikah. Tapi ia tidak menyangka ternyata buku itu tetap di takdirkan untuk ustad Zaki, ternyata ada jalan lain yang membuat buku itu harus ke tangan ustad Zaki.
***
Zahra benar-benar tidak sabar menunggu kedatangan sang suami, ia sampai terus mondar mandir di teras rumah demi menunggu suaminya.
Senyumnya begitu lebar saat mendengarkan suara motor sang suami,
Ustad Zaki segera memarkir motornya di depan rumah dan bergegas menghampiri sang istri,
__ADS_1
"Assalamualaikum, dek!"
"Waalaikum salam!" Zahra segera
menyalami tangan sang suami, mencium punggung tangannya dan ustad Zaki juga meninggalkan kecupan di kening sang istri membuat siapapun yang melihatnya bisa merasa iri.
"Kenapa dek, kok di luar?"
"Ya nunguin_!"
"Mas?" potong ustad Zaki, "Mas nggak perlu di tungguin, mas pasti pulang!"
"PD banget sih mas, Zahra tuh nungguin buku nya, dapat nggak mas? Dapat kan? Pumpung di sini mas, Zahra pengen minta tanda tangan author Nafiz_Z!"
Hehhhh ....
Ustad Zaki menghela nafas, "Kirain kangen sama mas,"
"Ya kangen , tapi lebih penting_!"
"Bukunya?" tanya ustad Zaki dma Zahra pun mengangukkan kepalanya,
"Nanti dulu aja ya, mas gerah banget pengen cepet mandi!" ucap ustad Zaki dan memilih berlalu masuk ke dalam rumah.
"Tapi bukunya?" tanya Zahra sambil mengejar ustad Zaki.
"Nanti dek!" ustad Zaki menghentikan langkahnya tepat di ujung tangga saat hendak naik ke lantai dua, "Rumah kok sepi dek, ummi ke mana? Oh iya, dek Zahra nggak jadi belanja?"
"Ummi tadi di panggil ibu-ibu katanya ada demo masak di rumahnya jadi terpaksa belanjanya di undur besok!"
"Dek Zahra nggak ikut?"
"Nggak tertarik!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1