
Hanya dalam hitungan menit, ustad Zaki mampu mengalahkan keempat preman itu hingga membuat mereka berlarian kocar-kacir.
Zahra masih terpaku di tempatnya, walaupun dia termasuk anak yang suka keluyuran, ini untuk pertama kalinya ia melihat duel satu lawan empat yang berakhir dengan kemenangan. Padahal sebelumnya ia sudah pesimis, tidak ada harapan bagi ustad Zaki untuk menang dengan lawan yang bahkan tubuhnya kekar dan bertato seperti mereka.
Ustad Zaki segera membungkukkan badannya tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini untuk mengambil pecinya yang terjatuh, saat ia mengangkat kepalanya ia bisa melihat Zahra yang masih terpaku di tempatnya dengan wajah pucatnya, setelah berhasil memakai kembali pecinya, dengan cepat ia menghampiri Zahra yang berdiri sekitar tiga meter dari tempatnya,
Ia menakup kedua bahu Zahra dengan lembut, "Dek, kamu nggak pa pa kan?" tanyanya ustad Zaki kemudian, ia memastikan Zahra tidak terluka sedikitpun.
Srekkkkk
Bukannya menjawab pertanyaan ustad Zaki, Zahra malah berhambur memeluk tubuh ustad Zaki dengan begitu erat dengan tubuh bergetarnya, di beberapa bagian tubuh ustad Zaki sesekali terkena hantaman dan pukulan membuatnya sedikit mengeryit menahan sakit karena pelukan Zahra yang begitu kencang.
Tapi terlihat sekali ia tidak ingin mengaduh agar Zahra tetap merasa nyaman, ia mengusap punggung Zahra tidak berniat memintanya untuk berhenti menangis.
Meskipun menahan sakit, ustad Zaki tetap membiarkan Zahra menyelesaikan emosinya.
Cukup lama hingga Zahra menyelesaikan tangisnya, perlahan ia melepas pelukannya,
"Aku takut!?" ucapnya sambil mengusap sisa air matanya yang masih ada di pipinya.
__ADS_1
"Jangan takut, insyaallah Allah akan menolong kita!"
Zahra menatap wajah ustad Zaki, tangannya dengan reflek terangkat, dengan jari-jari lentiknya ia menyentuh sudut bibir ustad Zaki.
"Tapi mas ustad terluka, itu bibir sama pelipisnya juga berdarah!"
Dia kenapa manis sekali, ustad Zaki tidak menyangka jika Zahra juga bisa selembut itu. Ia tersenyum dan meraih tangan Zahra yang menempel di sudut bibirnya, menahannya di sana,
"Tidak pa pa, kan ada dek Zahra yang akan mengobatinya nanti!"
Hal itu membuat Zahra terpaku, mata mereka saling beradu. Zahra seperti bisa mendengar detak jantung pria yang ada di depannya itu, tapi ia tidak yakin karena saat ini bahkan ia kesulitan bernafas karena jantungnya juga tengah tidak stabil.
Zahra dengan cepat menarik tangannya dan mengalihkan tatapannya ke tempat lain,
"Kita pulang!"
Akhirnya mereka pun benar-benar memutuskan untuk pulang, tidak ada percakapan lagi di antara mereka sepanjang perjalanan pulang. Sepertinya mereka tengah sibuk dengan perasaannya masing-masing.
Sesampai di rumah, Zahra segera membuka pintu dan ustad Zaki sibuk memasukkan motornya. Zahra segera berlari ke dapur untuk mengambil es batu, baskom dan lap bersih dan menghampiri ustad Zaki yang baru saja menyusulnya masuk.
__ADS_1
"Ayo mas!" ajak Zahra sambil menarik tangan ustad Zaki.
"Ayo?" sepertinya ustad Zaki gagal fokus dengan ajakan Zahra. Sepertinya ia memikirkan hal yang lebih jauh dari itu.
"Ini!" Zahra menunjukkan baskom yang ada di tangannya, "Biar aku obati lukanya, dari pada lebam besok." sekali lagi Zahra memicingkan matanya, ia mulai faham dengan apa yang di pikirkan oleh ustad Zaki,
"Nggak usah mikir macem-macem ya, dasar ustad mesum!"
Ustad Zaki tersenyum dan terlihat salah tingkah,
"Ya aku pikir tadi_!"
"Nggak usah banyak mikir, ayo_!" sekali.lagi Zahra menarik tangan ustad Zaki dan membawanya duduk di sofa yang ada di ruang tv.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...