Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 14


__ADS_3

"Kenapa semalam nggak bales chat aku, Jah?" tanya Nur saat mereka tengah jalan santai di pagi hari. Seperti wanita hamil lainnya, saat lagi Zahra memang kerap jalan pagi apalagi saat ini kehamilannya sudah memasuki trimester ketiga, sesuai dengan saran dokter, Zahra harus beraktifitas ringan.


Tidak biasanya Zahra lambat membalas pesan padahal bisanya Zahra yang kesal saat nur tidak segera membalas pesan darinya.


"Nggak tahu apa, semalam ada yang nggak bisa tidur."


"Sopo? Kamu?"


"Duk," ucap Zahra sambil menggelengkan kepalanya, "Mas ustad. lebih dari dua pulang kali mas ustad bolak balik ke kamar mandi."


"Kenapa?"


"Gara-gara makan sambal."


Seketika Nur tertawa mendengar cerita dari sahabatnya itu,


"Yang benar Jah!?"


"Nggak percaya ya udah."


"Jadi beneran ustad Zaki makan sambel semuanya?"


"Kamu tahu dari mana?" tanya Zahra penasaran, pasalnya dirinya belum mengatakan hal itu.


"Mas Amir."


"Mas Amir?" tanya Zahra balik, pasalnya selama ini Nur dan mas Amir tidak pernah dekat.


"Kok gitu sih lihatnya? Ada yang aneh?"


"Harusnya aku yang tanya gitu, Nur. Sejak kapan kamu dekat sama mas Amir?"


"Apaan sih Jah, nggak gitu."


"Trus gimana?"


Nur tidak langsung menjawabnya, ia memilih duduk di kursi yang ada di bahu jalan dan Zahra pun menyusulnya.


"Jadi_?"


"Apaan sih Jah, bentar aku cerita dulu."


"Baiklah, aku dengarkan."


"Jadi gini, kemarin aku kan di suruh bapak buat beliin koyok, jadi aku pergi ke toko obatnya pak Kadir, eh di jalan aku ketemu sama mas Amir, aku tanya dong mau cari apa, masak aku diam aja. Mas Amir pun bilang kalau nyariin obat diare buat ustad Zaki gara-gara kebanyakan makan sambel, itu doang."


"Serius cuma itu?"


"Nggak percayaan banget sih jadi orang."


"Ya kan, aku nggak tahu. Siapa tahu ada hal yang aku nggak tahu trus kamu nggak cerita."


"Ya Allah Jah. Nggak percayaan banget sih."

__ADS_1


"Kalau sama mas Wahid gimana?"


"Jahhhhh, kamu tahu dari mana?" terlihat Nur begitu syok dengan pertanyaan Zahra.


"Jadi benar ya, ada sesuatu ya."


"Nggak gitu, biar aku cerita dulu ya, rungokno!"


Flashback on


Seperti biasa saat pulang atau berangkat kuliah Nur selalu memakai alat transportasi kereta.


Tapi hari itu tiba-tiba seseorang yang tidak asing berada di tempat duduk yang sama dengan tempat duduknya hanya berselisih satu nomor,


"Kayaknya nggak asing. Sepertinya aku pernah lihat kamu, tapi di mana ya?" tanya pria yang duduk tepat di depannya itu.


"Maaf mas, salah orang kayaknya." Nur yang merasa tidak kenal pun menanggapinya dengan cuek.


"Masak sih, kayaknya nggak asing banget."


Meskipun pria di depannya terus memastikan nur memilih tetap cuek dan mengalihkan tatapan ke tempat lain. Tapi nur semakin waspada saat pria itu terus saja menatap ke arahnya.


Bahkan pria itu turun di tempat yang sama ia turun.


Tapi segera nur merasa lega saat ia tidak melihat keberadaan pria itu lagi begitu turun dari kereta.


Nur pun segera merogoh tasnya mencari keberadaan ponsel dan dompetnya, ia berencana memesan ojek online tapi ia tidak bisa menemukan dua benda itu di dalam tasnya,


"Apa jangan-jangan, sanune, wong kae mau_," Nur semakin panik sambil mencoba mencari dua benda itu di dalam tasnya tapi tetap saja tidak bisa menemukannya,


Segera Nur mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, ia mencari keberadaan pria yang tadi bersamanya. Ia juga berjalan kesana kemari siapa tahu bisa menemukannya.


"Dia_," dengan cepat Nur berlari dan mengunakan tasnya untuk memukul kepala pria itu,


Brug


"Aughhhh." keluh pria itu sambil mengusap kepalanya. "Ini apa-apaan sih!"


"Kamu pasti copet kan, ngaku! Ngaku nggak, Kalau enggak, aku teriak biar semua orang mengeroyok kamu ya."


Pria itu mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang tengah berada di depannya,


"Kamu yang tadi kan?"


"Iya, yang kamu copet. Ayo ngaku kembalikan dompet sama hp aku."


"Apaan sih, jangan nuduh sembarangan ya."


"Nggak nuduh, sudah pasti kamu. Kamu tuh mencurigakan."


"Mencurigakan gimana?"


"Jadi nggak mah ngaku nih!"

__ADS_1


"Ya enggak lah, aku nggak ngambil."


"Baiklah, aku teriak."


"Teriak aja."


"Nantang nih!"


"Terserah lah." ucap pria itu sambil berlalu hendak meninggalkan Nur.


"Copet, copet, tolong ..., dia copet!!!" teriak Nur hingga membuat orang-orang di sekitarnya berdatangan.


"Kamu apa-apaan sih!?" ucap pria itu mulai khawatir.


"Dia pak copetnya."


Bug bug bug


Beberapa pukulan melayang ke tubuh pria itu, rapi tiba-tiba seseorang melerainya,


"Ini ada keributan apa ya?" tanya pria yang baru datang.


"Kata mbak ini, dia copet mas." ucap salah satu dari pria yang ikut menonjok pria itu.


Dan pria yang baru datang itu pun menoleh ke arah Nur,


"Nur!"


"Ustad Farid."


Pria yang baru datang adalah ustad Farid,


"Ustad, tolong saya!" ucapan seseorang berhasil membuat ustad Farid menoleh ke sumber suara, pria yang tengah di hakimi itu.


"Wahid!?"


Bukan hanya ustad Farid yang terkejut tapi Nur tidak kalah terkejutnya,


"Mas Wahid,"


"Maaf bapak-bapak, dia bukan copet. Dia teman saya, ini hanya salah faham." ucap ustad Farid membubarkan kerumunan sedangkan Nur masih sangat terkejut hingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Akhrinya kerumunan orang-orang pun buyar kini tinggal mereka bertiga.


"Maaf mas Wahid, sungguh saya nggak ingat sama mas Wahid." ucap nur begitu menyesal, apalagi melihat wajah Wahid yang babak belur karena ulahnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2