Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pulang


__ADS_3

Zahra segera menyudahi kegiatannya, tapi rasanya begitu ragu untuk keluar dari kamar mandi meskipun kini tubuhnya sudah cukup kering. Entah sudah berapa lama ia di kamar mandi.


"Dek,"


Entah ini sudah panggilan yang ke berapa dan Zahra masih setia di kamar mandi, dan jawabannya masih sama.


"Sebentar lagi mas."


Zahra menatap bayangan dirinya di cermin, menatap pantulan dirinya yang sudah tertutup baju.


"Baiklah, memang mau sampai kapan aku di sini, sampai mengering! Awas aja kalau di sampai tertawa, jangan harap aku akan menyapanya lagi." ancamnya pada sang suami.


Setelah menghela nafas dalam, Zahra pun segera menarik handle pintu dan entah sejak kapan suaminya itu berdiri di depan pintu,


Dia sudah di sini...., sedikit terkejut. Tapi segara Zahra menormalkan mimik wajahnya, mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Tapi rupanya hal itu juga di lakukan oleh ustad Zaki, tanpa mengatakan apapun ustad Zaki masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya dari dalam.


Zahra mengelus dadanya sedikit terkejut.


"Terserahlah!"


Sebenarnya sedikit kecewa karena suaminya tidak menyapanya tapi ia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana saat sang suami menyapanya.


Setelah Zahra keluar dari kamar mandi, ustad Zaki pun melakukan hal yang sama. Hari ini ia benar-benar mandi dua kali.


Apa dek Zahra marah padaku? Kenapa dia malah memalingkan wajahnya saat berpapasan denganku? Sepertinya ia memang marah, aku harus bagaimana?


Ternyata bukan hanya Zahra yang merasa tidak enak, ustad Zaki pun merasakan hal yang sama. Apalagi Zahra juga tidak menyapanya saat mereka berpapasan.


Kini suasana saat keluar dari kamar mandi malah terlihat canggung, mereka tidak saling bicara satu sama lain. Mereka terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Zahra lebih memilih memainkan ponselnya, lebih tepatnya ia tengah mengirim pesan pada sahabatnya, karena ia belum sempat membalas chat sahabatnya itu.


Nur


07.45


Hari ini belum masuk ya?


Zahra


09.15


Belum, aku masih belum pulang.


Nur


09.16


Di mana?


Zahra


09.17


Di hotel


Nur


09.17


Hahhhh, hotel


09.18


Sama siapa aja?


Zahra


10.00


Cuma sama mas ustad, aku mau cerita tapi besok aja pas ketemu ya, pokoknya banyak yang mau aku ceritain


Nur


10.01


Jadi penasaran

__ADS_1


Zahra memilih tidak melanjutkan chat mereka, karena kini ustad Zaki tengah mengemasi barang-barang mereka.


"Kita jadi pulang hari ini?" tanya Zahra kemudian setelah sekian lama mereka saling diam. Cukup mengejutkan sekaligus menyenangkan bagi ustad Zaki, akhirnya Zahra menyapanya.


Ustad Zaki menegakkan tubuhnya, menatap sang istri yang masih duduk di atas tempat tidur,


"Hmmm!" tapi ustad Zaki tidak berani tersenyum, ia kembali dengan kesibukannya,


"Dek Zahra siap-siap ya!" ucapnya lembut tapi tidak berani menatap Zahra.


Apa mas ustad merasa bersalah, atau dia nyesel sudah nglakuin yang tadi?


Zahra pun segera turun dari tempat tidur, meletakkan ponselnya di atas nakas dan perlahan mendekat sang suami, ini sudah ia pikirkan dengan matang saat sang suami masih di dalam kamar mandi, apapun yang terjadi ia akan meminta maaf lebih dulu.


Srekkkkk


Zahra memeluk pinggang sang suami dari belakang.


Deg


Ustad Zaki merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak sejenak, merasakan sentuhan lembut dari Zahra.


"Dek!?" panggilnya sesaat setelah menormalkan detak jantungnya.


Zahra menggelengkan kepalanya di punggung sang suami, "Maafin Zahra ya!?"


Kali ini ustad Zaki mengerutkan keningnya, mengusap punggung tangan sang istri yang tepat berada di perutnya,


"Dek Zahra minta maaf kenapa?"


"Karena sudah berani-beraninya cium mas ustad, sungguh kalau mas ustad tidak suka, Zahra tidak akan mengulanginya lagi, Zahra janji!"


Ustad Zaki pun tersenyum sekaligus merasa lega. Sebenernya ia takut apa yang ia lakukan pada Zahra hari ini akan membuat Zahra membencinya, bahkan ia tidak punya keberanian untuk menyapa Zahra lebih dulu.


Ustad Zaki mengusap punggung tangan Zahra,


"Mas malah akan marah kalau dek Zahra nggak melakukan itu setiap hari!"


"Hahhh, setiap hari?" dengan cepat Zahra menarik tangannya hingga membuat ustad Zaki membalik badannya hingga mereka saling berhadapan.


"Hmmm!" angguknya,


"Yang benar saja," gumam Zahra tapi masih bisa di dengar oleh sang suami. "Dia sengaja ya!"


"Memang kenapa? Nggak mau?" tanya sang suami dengan senyum yang selalu berhasil membuat pertahanan Zahra jebol.


"Ya_, ya_, mau!" jawab Zahra dengan malu-malu. "Sudah ah, ayo pulang!"


Ternyata ciuman itu benar-benar berhasil membuat Zahra kecanduan.


Zahra pun segera meninggalkan sang suami, memilih mengalihkannya dengan mengemasi barang-barang nya


"Kata mas ustad sudah beli oleh-oleh ya buat bapak, ibuk, mas Amir sama budhe Marni?"


"Iya, susah mas taruh di mobil!"


"Mas nggak jadi ke pesantren temannya mas ustad?" tanyanya lagi saat mengingat pembicaraan mereka tadi pagi.


"Lain waktu saja, kalau mas ke sini sendiri!"


"Jadi ada rencana buat ke sini sendiri?" Zahra tiba-tiba kesal membayangkan sang suami akan meninggalkannya sendiri di rumah.


"Ya itu kalau dek Zahra mengijinkan, kalau enggak mas akan ajak dek Zahra atau mas tidak usah pergi!"


"Zahra kan cuma tanya tadi, nggak maksud melarang!"


Ustad Zaki selalu di buat gemas dengan tingkah Zahra yang menurutnya begitu menggemaskan. Entah kenapa setiap kali berurusan dengan Zahra ia tidak bisa berhenti tersenyum.


"Sudah selesai?" tanyanya saat memastikan semua barang pribadinya masuk ke dalam tas begitu juga dengan barang-barang Zahra.


"Sudah, kan Zahra nggak bawa banyak barang. Cuma ini!" ucapnya sambil menunjukan tas kecil yang ada di tangannya.


***


Kini mereka sudah cek out dari hotel, sebenarnya ustad Zaki masih harus melakukan banyak hal di Surabaya tapi mengingat Zahra yang masih harus sekolah esok hari, ia pun memutuskan untuk segera pulang saja.


"Yakin nggak mau mampir, Zahra mau deh ke pesantren!" ucap Zahra meskipun ia merasa merinding sendiri membayangkan pesantren. Ia benar-benar tidak pernah dalam benaknya sekalipun membayangkan bakal berkeliaran di wilayah pesantren.

__ADS_1


"Nggak pa pa, lain kali saja. Lagi pula sebentar lagi dhuhur, kita bakal sampai sore di rumah!"


Untunglah ....


Sebenarnya Zahra merasa lega tapi ia tidak mau begitu terlihat di hadapan sang suami.


"Tidurlah dulu, perjalanannya akan sangat panjang!" ucap ustad Zaki sambil fokus dengan kemudinya.


"Nggak pa pa?" tanya Zahra merasa tidak enak.


"Nggak pa pa, nanti pas waktu dhuhur aku bangunin kalau sampai masjid!"


"Baiklah, ini kamu loh ya yang nyuruh!"


"Kok kamu?" Ustad Zaki mengerutkan keningnya.


"Maksudnya, mas ustad yang nyuruh!"


"Iya!" ucap ustad Zaki sambil menyempatkan tangannya mengusap kepala Zahra. Rupanya usapan itu berhasil membuat zahra nyaman dan tertidur sepanjang perjalanan.


Dasar istri manjaku ...., senyum ustad zaki saat melihat istrinya tertidur pulas, ustad Zaki pun menyingkirkan tangannya dari kepala Zahra dan kembali fokus dengan kemudinya, tidak mudah mengemudikan mobil hanya dengan satu tangan.


Zahra hanya akan bangun saat ustad Zaki membangunkannya untuk sholat dan makan.


Akhirnya sepanjang jalan kembali pulang, Zahra menghabiskan waktunya untuk tidur.


Hingga akhirnya setelah empat jam mobil mereka sampai juga di depan rumah yang sudah di tinggalkan dua hari ini.


Ustad Zaki memarkirkan mobilnya, kembali menatap istrinya yang masih tertidur pulas,


"Pulas sekali, pasti sangat capek!" gumamnya sambil menyisihkan anak rambut Zahra yang berkeliaran menutupi sebagian wajahnya.


Sebenarnya kasihan kalau harus membangunkan Zahra saat ia tertidur pulas seperti itu.


"Biarkan saja dulu, waktu ashar masih ada satu jam lagi!"


Ustad Zaki pun memutuskan untuk turun dari mobil tidak untuk meninggalkan Zahra sendiri di dalam mobil, ia berlari mengitari mobil, membuka pintu mobil yang ada di samping Zahra, dengan perlahan ia mulai memindahkan Zahra dari mobil ke dalam gendongannya agar tidak sampai terbangun.


Ustad Zaki segera berbalik dan berjalan perlahan, tapi langkahnya segera tertahan ketika melihat sebuah motor yang cukup asing juga terparkir di halamannya, ia tidak merasa mengenali motor itu.


"Assalamualaikum ustad Zaki!" sapaan seseorang yang berdiri di teras rumahnya berhasil membuat ustad Zaki terkejut, wanita itu tampak tersenyum ramah dengan cepat ustad Zaki kembali menundukkan kepalanya.


"Waalaikum salam, Bu Chusna!"


Ternyata jawaban dari ustad Zaki juga berhasil membangunkan Zahra. Bukan karena suaranya yang terlalu keras tapi nama yang menjadi embel-embel jawaban dalam dari sang suami membuatnya terbangun.


"Mas, memang kita di sekolah. Kenapa mengingatkan aku pada Bu Chusna?" tanya Zahra, sambil melingkarkan tangannya di leher sang suami agar tidak terjatuh. Ustad Zaki hanya tersenyum tapi belum sampai ia menjawab pertanyaan dari Zahra Bu Chusna sudah lebih dulu menghampiri mereka.


"Maaf saya ke sini tidak kasih tahu dulu! Saya kira Zahra tidak masuk karena sakit!"


Beneran suara Bu Chusna ...


Seketika Zahra membuka lebar matanya begitu mendengar suara Bu Chusna. Ia segera menoleh ke sumber suara.


Beneran Bu Chusna ....


Zahra segera meronta hingga ia terjatuh dari gendongan ustad Zaki.


Brukkkk


"Dek!?" ustad Zaki begitu terkejut, ia sampai berjongkok hendak meraih tubuh Zahra kembali tapi Zahra segera menahannya.


"Aughhhh!" Zahra mengusap bokongnya yang berbenturan dengan tanah.


Sakit juga ...


Zahra segera mencari sumber suara yang membuat dirinya begitu terkejut itu. Ia memastikan jika itu benar-benar Bu Chusna dan bukan hanya khayalannya saja.


"Bu Chusna?, kenapa bu Chusna ke sini?" tanyanya sambil berusaha untuk bangun di bantu oleh ustad Zaki.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2