
Tidak lagi menunggu jawaban dari Zahra, ustad Zaki pun segera menarik tubuh Zahra ke atas punggungnya, tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang masih berada di sana. Zahra hanya bisa menelungkupkan wajahnya di punggung sang suami.
"Keterlaluan mas ustad, ihhh. Kalau kayak gini jadi aku kan yang seperti menindas mas ustad."
"Memang siapa yang akan mengira seperti itu." ucap ustad Zaki dengan santainya, ia tetap berjalan menembus gelapnya malam hanya berbekal penerangan dari rumah-rumah warga.
"Lagian suka sekali jalan kaki, tahu gitu mending tadi minta Nur buat nganter pulang."
"Jalan kaki itu bagus dek buat kesehatan!"
"Tapi nggak bagus buat penjual bensin!"
Ustad Zaki tersenyum dengan sikap ceplas ceplosnya sang istri. Ini lah yang kerap membuatnya bersyukur karena Allah menjodohkannya dengan gadis remaja, sikapnya yang polos mampun menghilangkan kepenatan dalam tubuhnya setelah seharian bekerja.
Sesampai di rumah, setelah membersihkan diri ustad Zaki pun segera memenuhi janjinya, melantunkan sholawat pengantar tidur untuk sang istri.
Zahra menjadikan pangkuan suaminya sebagai bantalan kepalanya sembari mendengar lantunan sholawat dari sang suami.
"Suaranya bisa merdu gini, dulu makannya apa sih?" dengan mata yang sudah berat untuk di buka, Zahra masih sempat-sempatnya bertanya pada sang suami.
"Mas ya?"
"Bukan, tukang sayur. Ya mas ustad lah, memang di sini siapa lagi yang suaranya bagus,"
Ustad Zaki kembali tersenyum dan mengusap kepala Zahra,
"Mas makannya beling!"
Seketika mata Zahra terbuka lebar, ia bahkan hampir menarik kepalanya untuk bangun tapi dengan cepat ustad Zaki menahan kepala Zahra,
"Mau ngapain?"
"Serius?" seketika rasa kantuk Zahra hilang mendengar jawaban dari sang suami.
"Ya enggak lah dek, kalau mas makan beling trus siapa yang makan nasi, sayang kan nasi masih enak kenapa harus makan beling!"
"Ihhh, Zahra tanyanya serius malah di jawab becanda." Zahra kembali memejamkan matanya dan membuatkan sang suami mengelus kepalanya.
"Maaf," ustad Zaki merasa bersalah, "Mas punya suara bagus karena anugerah dari Allah, dek! Bukan karena makanan yang mas makan atau pola hidup mas."
"Ohhhh!"
__ADS_1
Akhirnya ustad Zaki kembali melanjutkan lantunan sholawatnya hingga Zahra benar-benar tertidur di pangkuannya.
"Dek,"
"Dek, sudah tidur ya?"
Setelah memastikan jika Zahra sudah tertidur, ia segera memperbaiki posisi Zahra dan menutupnya dengan selimut, sebelum dirinya juga ikut tidur, ustad Zaki menyempatkan untuk menatap wajah sang istri, jari-jarinya juga sibuk melukis di atas wajah sang istri.
"Terimakasih sudah memberi warna pada hidup mas, mas tidak pernah menyangka jika kehadiran dek zahra yang tiba-tiba nyatanya begitu berarti untuk mas."
"Kini mas semakin percaya jika Allah memang memberikan apa yang kita butuh bukan apa yang kita inginkan, mungkin di sana ada wanita yang lebih menurut mas tapi nyatanya kamu yang mas butuhkan, bukan yang lain."
Sebuah kecupan mendarat di kening Zahra untuk mengakhirinya sebelum ia ikut terlelap bersamanya sang istri.
***
Seperti yang Sudja di janjikan, siang sepulang sekolah ustad Zaki sengaja mengajak Zahra jalan-jalan tapi kali ini tidak dengan motor, ustad Zaki mengajak jalan-jalan Zahra dengan mobilnya.
"Memang nggak pa pa pak Dul kalau mobilnya di pinjam buat jalan-jalan gini?" tanya Zahra karena mobil yang mereka pakai sekarang mobil yang sama yang di pakai pak Dul kemarin.
"Nggak pa pa!"
"Pak Dul yang pengen kerja?"
"Yang benar, sekaya apa sih pak Dul tuh, pasti punya rental mobil yang buat di sewa-sewakan!"
Mendengar penuturan Zahra yang sok tahu itu ustad Zaki hanya menanggapinya dengan senyuman dan memilih fokus dengan kemudinya.
Akhirnya mereka memilih alun-alun sebagai tujuannya, selain nyaman alun-alun juga cukup dekat dengan tempat-tempat umum lainnya,
"Mau beli sesuatu?" tanya ustad Zaki setelah mereka memarkirkan motornya.
"Nggak ah, mau jalan-jalan dulu keliling alun-alun, siapa tahu nanti ada yang suka!"
"Baiklah, ayo!"
Akhirnya mereka berjalan menyusuri trotoar yang ada di sekeliling alun-alun, beberapa pedagang kaki lima juga nampak berjejer menjajakan dagangannya.
"Kalau capek ngomong ya dek, nanti kita istirahat!" ucap ustad Zaki saat mereka sudah berkeliling lebih dari separuh trotoar yang ada di sekeliling alun-alun.
"Masih belum!"
__ADS_1
Baru saja mengatakan masih belum, tapi baru berjalan beberapa langkah dari tempatnya tiba-tiba Zahra berhenti dan duduk di tepi trotoar.
"Kenapa dek?" ustad Zaki yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya segara berbalik dan ikut duduk di samping Zahra.
"Capek mas!"
Hehhhh ....
Ustad Zaki bernafas lega, setidaknya istri kecilnya tidak kenapa-kenapa.
"Ehhh, mas!?" Zahra seperti setengah terkejut begitu juga dengan ustad Zaki.
"Ada apa dek, apa dek Zahra butuh sesuatu? Minum misalnya?"
"Bukan!"
"Lalu? Atau dek Zahra mau mas gendong?"
"Bukan mas, itu bukannya pak Dul?" Zahra menunjuk pada sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan, pria yang tidak asing tengah berdiri di samping mobil bersama dengan dua orang pria yang tampak jauh lebih muda tengah mengeluarkan beberapa bok makanan berwarna coklat yang Zahra tidak begitu jelas mengenal label boks itu, tapi Zahra yakin itu boks makanan.
"Ahhh iya, itu pak Dul!"
"Jauh banget sihas.pak Dul kerjanya? Memang rumahnya mana sih?"
"Pak Dul memang perantauan dek, dia di sini tinggal sendiri."
"Tapi kan mobilnya banyak, mas."
"Trus kalau mobilnya banyak kenapa?"
"Kenapa istrinya nggak di ajak aja ke sini!"
"Itu biar menjadi urusan pak Dul, sebaiknya dek Zahra urus mas aja!" ucap ustad Zaki sambil mengerlingkan matanya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
"Issttttt!"