
Sejak kembalinya ustad Zaki dari tempat nikahan Imah, Zahra lebih terlihat pendiam. Ia tidak banyak menyapa sang suami apalagi bawel seperti biasanya.
"Dek ada yang salah?" tanya ustad Zaki, ia merasa begitu aneh saat suasana menjadi sangat hening seperti saat ini.
"Enggak!" jawab Zahra dengan santai, ia memilih sibuk dengan bukunya.
"Kata Bu Marni kamu mau ikut magang sama Weni ya?" ustad Zaki teringat dengan percakapannya bersama Bu Marni tempo hari, Bu Marni mengatakan kalau di sekolah Zahra juga akan diadakan acara magang seperti sekolah Weni sebagai tambahan nilai kelulusan.
"Hmm!" Zahra bahkan menjawabnya tanpa menoleh pada sang suami.
"Dek Zahra yakin mau di tempat yang sama dengan Weni?" tanya ustad Zaki tampak ragu.
"Kenapa?" sekali lagi Zahra bertanya tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
"Katanya Weni mau magang di rumah makan loh!"
Kali ini Zahra menoleh dan mengerutkan keningnya, "Memang kenapa kalau aku di rumah makan magangnya?" kali ini pertanyaan Zahra sedikit ngegas.
"Ya tidak pa pa dek, hanya saja dek Zahra kan belum bisa masak!"
"Memang di sana semua pekerjaan cuma masak? Aku kan bisa nyapu, cuci piring, jadi kasir, ribet amet sih jadi orang!" Zahra menutup bukunya dengan kasar dan bangun dari duduknya, "Lagi pula bukan urusan mas ustad juga kan kalau Zahra magang di mana!?" setelah mengatakan hal itu, Zahra segera meninggalkan ustad Zaki yang tercengang ditempatnya.
Ustad Zaki hanya bisa menelan Salivanya dengan susah payah,
"Kenapa dengan dek Zahra? Apa dia lagi haid lagi? Tapi kayaknya belum waktunya!" ustad Zaki sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hingga malam pun Zahra masih tetap mendiamkan sang suami membuat ustad Zaki semakin serba salah.
"Dek, mas punya salah ya?"
"Enggak!" jawab Zahra yang sudah menutup tubuhnya dengan selimut.
"Lalu kenapa dek Zahra mendiamkan mas dari tadi."
"Perasaan mas ustad aja kali, Zahra ngantuk mau tidur. Besok mau persiapan untuk acara magang."
Zahra segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tanpa tersisa, seperti biasa ustad Zaki hanya bisa pasrah ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan menunggu sampai suasana hati istrinya membaik.
***
Siang ini setelah mengantar Zahra sekolah, ustad Zaki sengaja ke masjid karena nanti malam akan ada acara sholawat di masjid dengan mendatangkan pelantun sholawat yang cukup terkenal, mungkin hari ini akan sedikit sibuk hingga ia sengaja meminta Imron untuk menjemput Zahra nanti saat pulang sekolah, beruntung sang kakak ipar belum berangkat kembali.
Ustad Zaki sebenarnya hanya membantu para bapak untuk membersihkan masjid dan mendirikan panggung juga tenda.
Tepat menjelang dhuhur, bapak-bapak pun berpamitan untuk pulang sejenak untuk beristirahat, tetapi tidak dengan ustad Zaki, ia memilih bertahan di masjid.
__ADS_1
Melihat ustad Zaki yang duduk termenung sendiri di teras masjid membuat Amir tertarik untuk menghampirinya, padahal jika ingin istirahat pastilah rumah singgah yang sempat menjadi tempat tinggal ustad Zaki selama ini masih terbuka untuknya.
"Ustad, ngapain di sini sendiri?" tanyanya sambil menyusul ustad Zaki duduk.
"Nggak pa pa,Mir. Kamu nggak istirahat dulu?" tanyanya balik.
"Nggak ngantuk ustad, lagi pula Amir nggak biasa tidur siang! Amir perhatikan sejak tadi ustad wajahnya kenapa di tekut, ada masalah?"
Ustad Zaki tersenyum tipis, "Nggak kok Mir!"
"Amir nggak percaya, ini pasti gara-gara wanita. ada apa lagi sama Zahra?"
Sekali lagi ustad Zaki tersenyum tapi kali ini senyumnya terlihat sedikit lebih lebar,
"Sok tahu kamu, Mir, Mir!"
"Ustad ini gimana? Gini-gini Amir nih pengamat wanita!"
"Jadi kamu suka ngintipin wanita?"
"Astaghfirullah hal azim, Ustad. Bisa-bisa nya mikir kayak gitu sama Amir!"
Kali ini senyum ustad Zaki semakin lebar,
"Ya siapa tahu Mir, aku kan cuma menebak."
Akhirnya beberapa saat mereka kembali terdiam hingga kemudian ustad Zaki kembali bertanya,
"Mir, kira-kira kalau wanita ngambek di kasih apa ya?"
"Tuh kan bener, ini pasti masalah wanita. Zahra ngambek ya?"
Ustad Zaki terlihat ragu menganggukkan kepalanya, ia tahu tidak seharusnya menceritakan masalah rumah tangganya pada orang lain tapi ia juga butuh solusi untuk masalahnya, semuanya jadi serba salah.
"Kalau tipe-tipe cewek kayak Zahra, sulit sih di bujuknya!" ucap Amir seperti tampak tengah berfikir.
Hehhhhh ...
Dengan cepat ustad Zaki menghela nafas, ia merasa percuma bercerita pada Amir.
"Ehhh tunggu dulu. Kayaknya ada yang bisa bikin dia nggak ngambek lagi."
"Apa?" tanya ustad Zaki dengan cepat, tampak ia begitu penasaran dengan jawaban Amir.
"Kasih uang aja, trus ajak jalan-jalan."
__ADS_1
"Yakin?"
"Mungkin saja.ustad, selama ini kan Zahra anaknya bebas, keluyuran kemana-mana, susah di atur tapi semenjak menikah dengan ustad, tiba-tiba ia harus jadi anak rumahan, kalau pulang sekolah langsung pulang nggak nglayap kemana-mana dulu, pasti dia bosan di rumah terus, sekali-kali jalan-jalan kan tidak pa pa ustad!"
Pendengar penjelasan Amir panjang lebar ustad Zaki hanya terus mengangukkan kepalanya mencoba mengerti penjelasan dari Amir.
***
"Mampir dulu mas!" tawar Zahra pada Imron yang sudah menjemputnya pulang.
"Nggak wis, mas langsung pulang saja. Kasihan bapak tadi habis panen singkong, nanti nggak ada yang ngangkatin ke jalan! Mas langsung pulang yo, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setelah masnya meninggalkan rumahnya, Zahra pun bergegas masuk ke dalam rumah.
Ia mendapati rumah kosong, walaupun ustad Zaki sudah mengatakan keberadaannya tadi pagi, tapi tetap saja ia.merasa kosong saat masuk ke dalam rumah.
Hehhhh ....
"Kan sepi!" gumamnya setelah menghela nafas panjang.
"Tapi syukurlah, aku kan bisa memeriksa ruang kerjanya, penasaran ponselnya pasti di tinggal kan!"
Zahra pun segera bergegas melepas tasnya dan melemparnya begitu saja di sofa depan tv. Ia pun bergegas masuk ke ruang kerja suaminya, tujuannya hanya satu untuk mencari ponsel serepan sang suami,
"Di mana ya naruhnya?" gumamnya sambil memeriksa meja kerja dan juga lacinya, tidak lupa ia juga memeriksa laci yang ada di malas belakang meja.
Tapi rupanya ustad Zaki meletakkan ponsel itu di atas sofa yang berada di sudut ruangan,
"Hahhh, rupanya di situ. Ngapain pakek buka-buka!" gumamnya menyalahkan kebodohannya sendiri.
Zahra pun segera duduk bersila di ata sofa dan mulai membuka benda pipih yang ada di tangannya,
"Yah, yah kok nggak bisa, di kunci!"
"Apa isinya? kenapa di kunci segala?"
"Assalamualaikum!" suara salam itu berhasil membuat Zahra terkejut hingga ia menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...