Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Datang tepat waktu


__ADS_3

Zahra kembali duduk tenang di tempatnya, menunggu hingga sang kakak kembali.


Sudah sepuluh menit tapi Imron juga tidak kembali, Zahra berkali-kali melihat ponselnya menghitung setiap detik yang ia lewatkan di tempat itu, sudah jam sepuluh malam, suasana tempat itu semakin ramai saja, lampu yang tadinya masih menyala normal kini semakin redup ditambah dengan lampu yang terus menari-nari di lantai dansa. Bukan, lantai itu memang sengaja di buat untuk joget. Beberapa pengunjung mulai berjoget mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh seorang DJ.


"Ya ampun, semakin panas saja di sini!" gumam Zahra sambil sesekali mengusap keningnya yang mulai berair karena keringat. Apalagi di tambah dengan tatapan beberapa pengunjung yang menatapnya aneh, semakin membuatnya tidak nyaman.


Sabar Zahra, sabar ...., tunggu sampai mas Imron kembali ...


Zahra terus saja berpikir positif hingga seorang pria dengan aroma menyengat yang tidak di Ketahui asalnya sudah menghampiri meja Zahra,


"Boleh kami ikut duduk?" tanya salah pria itu tapi belum sampai zahra memberi persetujuan, pria itu sudah lebih dulu duduk.


"Maaf, itu tempat pacar saya!" Zahra sengaja berbohong agar pria itu pergi.


"Aku lihat kamu sedari tadi sendiri, jadi jangan berbohong cantik! kamu pasti ke sini mau mencari hiburan, bagaimana kalau kita bersenang-senang?"


"Enggak, siapa bilang. Jangan sok tahu ya!"


Zahra sudah hampir berdiri, tapi pria itu segara menahan tangannya,


"Ayolah, nggak usah jual mahal. Kalau tidak mau di sini, kita bisa menyewa kamar di hotel, bagaimana?"


"Jangan kurang ajar ya, lepasin nggak!?" Zahra berusaha menarik tangannya tapi pria itu semakin mengeratkan tangannya, ia bahkan berdiri dari duduknya dan hendak menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya.


Srekkkk


Tapi sebuah tangan kekar menarik tubuhnya terlebih dulu ke dalam pelukannya membuat Zahra hampir saja berteriak tapi segera ia tahan begitu tahu siapa yang melakukannya.


"Maaf mas, dia istri saya." ucapnya tegas dengan mata yang tajam menyala, seperti tengah menahan amarah yang sebelumnya bahkan tidak pernah terlihat darinya, wajah tenangnya berubah begitu menakutkan bagai singa lapar yang siap menerkam mangsanya.


"Syytttt!?" pria itu berdecak kesal lalu meninggalkan Zahra. Pria itu bahkan sempat menendang kursi yang ada di dekatnya hingga terlempar cukup jauh, tapi nyatanya kegaduhan seperti itu sepertinya sudah biasa hingga membuat pengunjung lain sama sekali di tidak terganggu.


Zahra masih terpaku dalam pelukan pria itu, ia benar-benar tidak percaya jika pria itu ada di hadapannya kini. Walaupun sebelah tangannya tengah memeluk tubuh mungil Zahra, tapi Zahra tahu tangan sebelahnya lagi tengah mengepal sempurna siap menghantam siapapun yang berani mengambil apa yang menjadi miliknya.


Hingga beberapa kali Zahra bisa mendengar lantunan istighfar yang keluar bibir lembutnya meyakinkan Zahra akan sesuatu, tapi ia masih terlalu terkejut dengan kedatangannya hingga membuatnya bahkan bergeming dari tempatnya.


"Dek, kamu nggak pa pa kan?" tanyanya setelah merasa sedikit tenang, atau mungkin sedikit bisa menguasai diri.


Suara itu ...., Zahra tersadar dan benar-benar yakin, tapi refleknya cukup membuat pria itu terkejut karena ia malah mendorong tubuh kekar suaminya,


"Ini beneran mas ustad? Mas ustad ngapain di sini?" tanyanya dengan rasa penasaran, pastinya ini bukan sebuah kebetulan yang biasa. Tidak mungkin jika mereka berada di sana dengan tujuan yang berbeda.

__ADS_1


"Kita keluar dari sini!" bukannya menjawab pertanyaan Zahra, ustad Zaki memilih menggengam tangan Zahra dan segera membawa Zahra keluar dari tempat itu tanpa sepatah katapun,


Zahra tersadar akan sesuatu, ia segera menahan tubuhnya hingga membuat langkah mereka terhenti, "Mas, tapi mas Imron di dalam!"


Ustad Zaki menghentikan langkahnya sejenak mengikuti tubuh Zahra sebelum sampai di pintu keluar, ia menatap sang istri dan sepertinya berpikir sejenak tapi kemudian melanjutkan langkahnya.


"Kita keluar dulu," ucapnya lembut tapi terkesan datar tanpa ekspresi. Zahra sudah cukup tahu, saat ini suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.


Hingga akhirnya mereka berada di luar barulah ustad Zaki melepaskan tangan Zahra, menatap Zahra dengan tatapan yang sulit di artikan, tatapan kekhawatiran, tatapan mendamba, tatapan penuh kerinduan juga penyesalan yang bercampur menjadi satu.


Srekkk


Kembali, ia memeluk sang istri. Ia memeluk begitu erat seolah-olah tidak ingin melepasnya lagi. Pelukan yang terasa menyesakkan sekaligus dirindukan.


"Mas," ucap Zahra lirih,


"Biarkan seperti ini untuk beberapa saat!"


Zahra pun akhirnya memilih diam dan membiarkan suaminya terus memeluknya, hingga suara lirih itu berhasil membuat air mata Zahra luluh juga.


"Jangan membuatku takut dek, jangan membuatku merasa gagal memilikimu, jika terjadi sesuatu denganmu, bagaimana bisa mas memaafkan diri mas sendiri!"


"Mas, maafin Zahra. Zahra nggak maksud buat mas ustad khawatir!"


Akhirnya setelah beberapa saat, ustad Zaki melepaskan pelukannya. Ia meraih kedua bahu Zahra dan menatapnya dengan begitu dalam,


"Bagaimana bisa di sini?"


"Mas juga bagaimana bisa di sini?"


"Jangan menjawab pertanyaan mas dengan pertanyaan juga dek, mas pasti akan kasih tahu dek Zahra apapun yang ingin dek Zahra ketahui dari mas, tapi sekarang tolong jawab pertanyaan mas!"


Zahra menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah pada suaminya karena telah berbohong,


"Sebenarnya Zahra dan mas Imron ke sini untuk mencari pria yang bernama Anwar mas!"


"Jadi kamu tahu tentang Anwar?" ustad Zaki tampak terkejut, ia tidak menyangka jika Zahra akan mengetahuinya juga.


Zahra menganggukkan kepalanya, ia cukup tahu diri dengan kesalahannya tapi dia juga ingin suaminya terbebas dari tuduhan.


"Mana ponselmu!?" ustad Zaki mengulurkan tangannya meminta ponsel milik Zahra dan Zahra pun menyerahkannya tanpa bertanya lagi.

__ADS_1


Ustad Zaki pun segera mencari nomor kontak seseorang di dalam ponsel Zahra dan melakukan panggilan,


"Assalamualaikum, ini saya Zaki."


"Waalaikum salam, Zaki! Bagaimana bisa ponsel Zahra ada di kamu?"


"Besok saja kita bicara lebih baik mas Imron cepat kembali aku sudah membuat janji dengan Anwar, biar Zahra bersamaku jangan khawatirkan Zahra!"


"Baik!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ustad Zaki segera menutup sambungan telponnya dan kembali menyerahkan ponsel itu pada Zahra.


"Kita pergi dari sini sekarang!" ucap ustad Zaki dan sebuah mobil berhenti di samping mereka, seorang pria keluar dari mobil itu dan membukakan pintu mobil belakang,


"Silahkan ustad!?" ucapnya dan Zahra malah merasa was-was, ia segera bersembunyi di balik pungung ustad zaki,


"Mas, dia siapa?" tanya Zahra lirih.


"Dia temanku, dek. Ayo naik!"


"Teman?"


"Hmm!"


Zahra tidak lagi bertanya dan ia pun masuk ke dalam mobil kemudian di susul oleh ustad Zaki,


"Kita kembali ke penginapan saja mas!" ucapnya pada pria yang duduk di balik kemudi.


"Baik ustad!"


Mobil pun kemudian melaju meninggalkan tempat itu menuju ke penginapan ustad Zaki.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2