Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Sedang dipermainkan takdir


__ADS_3

"Buk, Zahra berangkat dulu ya, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam," sahut Bu Narsih yang masih terlihat sibuk membereskan meja makan, pak Warsi sudah berangkat ke ladang bahkan sebelum Zahra satapan.


Zahra berjalan cepat keluar rumah sesaat setelah menerima pesan dari Weni bahwa ia sudah dalam perjalanan ke rumahnya,


Ia memilih menunggu di depan rumah dari pada membuat Weni menunggu, di tangannya juga sudah memegang sebuah helm, ia sudah tidak sabar mengemudikan motor lagi.


Hingga sebuah mobil yang sama seperti kemarin kembali berhenti di depan rumahnya.


"Ihhh keras kepala sekali sih pak Dul nih, kan aku sudah bilang sama mas ustad, ngapain masih ke sini!?" gerutunya kesal, ia pun berjalan cepat menghampiri mobil yang baru saja berhenti itu,


Dengan cepat ia mengetuk kaca depan mobil hingga pak Dul menurunkan kaca mobil bagian depan yang baru saja di ketuk Zahra,


"Mari masuk, mbak!" ajak pak Dul dengan senyum ramahnya.


"Pak Dul ngapain ke sini? Bentar lagi Weni datang! Aku kan sudah bilang mau berangkat sama Weni!" protes Zahra.


Tapi tiba-tiba kaca pintu belakang tiba-tiba turun dan muncul seseorang dari dalam sana,


"Assalamualaikum, mbak zahra!"


Zahra begitu terkejut, "Weni??? Waalaikum salam!"


Weni pun membukakan pintu untuk zahra,


"Kenapa bisa begini?" tanyanya sambil menatap Weni bergantian menatap pak Dul.


"Ustad Zaki yang minta saya menjemput mbak Zahra sekalian Weni juga, mbak!" ucap pak Dul.


Sudah aku duga, ini pasti kerjaan mas ustad. Yahhhh ...., gagal lagi kan ..., Zahra menatap helm di tangannya dengan putus asa.


"Mari naik mbak!" ajak pak Dul lagi.


"Bentar, aku kembalikan helm dulu!" ucap Zahra dengan kesal, ia berbalik dan sesekali menjejakkan kakinya dengan kasar ke tanah, apa yang sudah di rencanakan semalam akhirnya rencana tinggal rencana dan semuanya tidak akan pernah terjadi karena pasti pak Dul akan melakukan seperti yang di minta sang suami.


Emang apa salahnya sih naik motor sendiri? Benar-benar menyebalkan ....


Zahra sudah kembali, ia segera masuk ke dalam mobil tepat di sebelah Weni.


Brakkk


Dan menutup pintu mobil dengan begitu kasar hingga membuat Weni dan pak Dul terkejut.


Pak Dul pun segera melajukan mobilnya, dan Weni masih memegangi letak jantungnya, sesekali memperhatikan Zahra yang kesal dan memilih menatap ke luar jendela.


"Mbak Zahra nggak pa pa?" tanya Weni memastikan. Zahra yang di tanya pun terpaksa menoleh pada Weni.


Ia tersenyum dengan terpaksa hingga memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya,


"Nggak pa pa!?" jawabnya singkat.


"Mbak Zahra cantik tahu kalau pakek hijab!" ucap Weni lagi membuat Zahra mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Lalu?" tanyanya kemudian.


"Akan lebih terlihat cantik kalau mbak Zahra bisa sedikit lembut!"


Zahra menatap Weni tidak percaya, ia memang tidak begitu mengenal Weni tapi ia cukup tahu kalau gadis di sampingnya itu cukup pendiam


Bahkan setiap kali menemani ibunya ke rumahnya, bahkan Weni tidak pernah menyapanya lebih dulu jika tidak dirinya yang menyapa lebih dulu.


Tentu saat Weni berpendapat seperti itu, sangatlah luar biasa bagi Zahra.


"Ini serius kamu yang ngomong?"


"Kenapa mbak?" Weni tampak bingung dengan pertanahan Zahra.


"Ya enggak, aneh aja akhirnya kamu bisa speak up juga rupanya, salut aku sama kamu!"


Mendengar ucapan Zahra, Weni pun tersenyum malu-malu,


"Mbak zahra bisa aja!?"


"Sering-sering aja kayak gini Wen, aku suka! Setidaknya jika kamu berani mengutarakan pendapat kamu, kamu nggak akan diremehkan oleh orang lain, semangat ya!" ucap Zahra sambil menunjukkan semangat dengan tangannya.


Pak Dul rupanya sedari tadi juga memperhatikan percakapan mereka, ia ikut tersenyum.


Mungkin ini yang buat ustad Zaki memilih mbak Zahra menjadi istrinya ...


***


Dan seperti kemarin, dan mungkin sampai selesai acara ia akan terus berada dalam satu meja dengan ustadzah Nafis.


Terlihat sekali, ustad Zaki tengah berusaha keras untuk menjaga jarak dari gadis itu.


Memberi celah sama artinya dengan memberi kesempatan untuk orang lain masuk ke dalam kehidupan pribadi rumah tangganya, dan itu yang ustad Zaki tidak ingin terjadi. Jadi sebisa mungki ia menutup celah-celah itu, sekecil apapun.


Karena hanya sesi tanya jawab, acara selesai pukul dua siang. Kini terlihat ustad Zaki berjalan cepat untuk menghampiri ustadzah Nafis.


"Ustadzah tunggu!"


Merasa di panggil, ustadzah Nafis pun menghentikan langkahnya, ia menoleh pada sumber suara,


"Iya, ustad Zaki?"


"Saya boleh bicara sebentar? Ustadzah tidak terburu-buru kan?"


"Insyaallah tidak, silahkan!" ucap ustadzah sambil menundukkan kepalanya.


"Insyaallah, ba'dha ashar saya akan menemui kyai Ramli, apa ustadzah Nafis bisa memberitahukan hal ini pada kyai Ramli?"


"Bisa ustad, tentu akan saya beritahu. Kebetulan saya tidak ada acara lain hari ini dan langsung pulang!"


"Baiklah, terimakasih ustadzah!"


Ustadzah nafis tersenyum, "Sama-sama, ya sudah saya duluan ustad!"

__ADS_1


"Iya, silahkan!"


Tampak sekali jika mereka masih saling canggung.


Rasanya sulit melupakan perasaan yang sudah bertahun-tahun tumbuh dan harus di potong begitu saja. Menyakitkan memang tapi akan lebih menyakitkan jika tetap dibiarkan tumbuh tanpa kepastian.


Dan hari ini ustad Zaki mencoba membuat kepastian itu, kepastian yang seharusnya sudah ia lakukan sejak beberapa tahun yang lalu.


***


Sore ini, tepat ba'dha ashar ustad Zaki bersiap untuk ke rumah kyai Ramli,


"Zak, mau ke mana?" tanya abinya ketika melihat putranya terlihat kembali keluar saat baru saja kembali dari sholat ashar di masjid.


"Mau ke rumah kyai Ramli, bi!" jawab ustad Zaki sambil membetulkan letak pecinya.


"Ada apa?"


"Tidak pa pa, mau silaturahmi saja."


"Tapi kayaknya nggak bisa deh, Zak!"


"Kenapa bi?"


"Kyai Ramli dan keluarganya baru saja berpamitan sama Abi, mereka tiba-tiba dapat kabar dari Malaysia kalau adik kyai Ramli meninggal!"


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, kapan bi?"


"Baru saja, semua keluarga sudah berangkat ke bandara sekarang!"


"Ustadzah Nafis juga!"


"Iya!"


Ya Allah, kenapa begini? Kenapa takdir sepertinya tengah bermain petak umpet dengan hamba ....


"Mereka pulang kapan, bi?" tanya ustad Zaki lagi, berharap nanti bisa ada kesempatan untuj bertemu dengan kyai Ramli.


"Kamu tuh Zak, berangkat saja belum sampai, sudah tanya pulangnya. Nanti kalau kyai Ramli telpon biar Abi tanyakan!"



..."Sembuhlah tanpa melukai orang lain" dan itu yang tengah aku lakukan. Menyembuhkan luka yang lama terpendam dan aku mencoba untuk tidak melukai siapapun, termasuk kamu yang telah mampu menyembuhkan lukaku, terimakasih karena telah menjadi penawar luka ini...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2