
Pagi-pagi tidak seperti biasanya, Zahra yang malas bangun bahkan meski ustad Zaki sudah beberapa kali membangunkannya untuk sholat subuh kali ini Zahra bahkan bangun sebelum azan subuh berkumandang.
Ustad Zaki yang baru saja keluar dari kamar mandi cukup terkejut,
"Dek, kamu sudah bangun? Bukankah haidnya belum selesai?" jika di ingat ini masih empat harian.
"Bukan apa-apa!?" Zahra pun segara beranjak dan bergantian masuk ke kamar mandi. Ustad Zaki hanya bisa menatap pintu kamar mandi yang kembali tertutup.
Zahra tengah mencuci wajahnya, ia menatap cermin besar di kamar mandi,
Hehhhhhh ....
Zahra menghela nafas sambil mengikat rambutnya,
"Kayaknya ini efek tinggal sama mertua, gini banget sampek nggak bisa bangun siangan dikit!?" keluhnya, sambil memperhatikan wajahnya di cermin.
Tok tok tok
"Dek, mas berangkat ke masjid dulu ya!" suara ustad Zaki mengiringi pintu kamar mandi yang di ketuk dari luar.
Ceklek
Zahra pun membuka pintu itu membuat pria yang berdiri di depan pintu memundurkan langkahnya,
"Iya!"
Ustad Zaki mengacungkan tangannya, membuat Zahra mengerutkan keningnya,
"Bukannya tadi sudah wudhu?" tanya Zahra yang enggan menyambut tangan ustad Zaki.
"Nanti bisa ambil wudhu lagi kan di masjid."
Zahra hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan menyambut tangan ustad Zaki, mencium punggung tangannya, seperti biasa ustad Zaki selalu mengusap kepala Zahra sambil melantunkan doa untuk sang istri.
"Mas berangkat dulu, assalamualaikum,!"
"Waalaikum salam!"
Setelah ustad Zaki pergi, Zahra pun segera pergi ke dapur dan ternyata umi sudah di sana.
"Assalamualaikum, umi!"
"Waalaikum salam! Maaf ya umi pasti ganggu kamu, kalau masih ngantuk tidur saja nggak pa pa!"
"Nggak kok umi! Biar Zahra bantu ya umi!"
"Nggak usah, lebih baik kamu siap-siap gih, hari ini sekolah kan?"
Zahra menganggukkan kepalanya, tapi ia tetap saja merasa tidak enak membiarkan mertuanya bekerja di dapur sendiri.
"Zahra berangkatnya agak siangan kok umi."
"Sudah nggak pa pa, umi biasa melakukan ini sendiri. Sudah sana siap-siaplah!"
__ADS_1
Walaupun tidak enak akhrinya Zahra memutuskan untuk kembali ke kamarnya, ia juga tidak terbiasa siap-siap pagi-pagi sekali, tapi matanya sudah tidak mau di pejamkan lagi.
***
Zahra sudah siap untuk berangka sekolah, begitu juga dengan ustad Zaki yang siap untuk mengantarnya.
"Umi, Abi, Zahra berangkat dulu ya!"
"Iya, hati-hati ya. Nggak usah ngilang-ngilang lagi, nanti Zaki kelabakan nyariin istri kecilnya!" ucap umi sambil menggoda Zahra membuat Zahra tersipu begitu juga dengan ustad Zaki.
"Apaan sih umi!?" protes ustad Zaki, "Ya sudah kami berangkat dulu!"
"Iya, nanti jangan lama-lama, soalnya kamu sudah janji kan mau ngantar Abi sama umi ke rumah orang tua Zahra!?"
"Insyaallah umi, Abi. assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Akhirnya Zahra pun mengikuti ustad Zaki ke luar, tapi ia begitu terkejut saat melihat mobil terparkir di depan rumahnya,
"Mas ustad, ini mobil siapa?" tanya Zahra sambil menahan tangan ustad Zaki yang hendak membuka pintu mobil.
"Mobil Abi, dek!"
"Abi?" Zahra mengerutkan keningnya, "Bukannya kemarin kata mas ustad, mas yang jemput Abi sama umi di bandara?"
Mendengar pertanyaan Zahra, ustad Zaki terdiam sesaat. Setelah menemukan jawaban yang tepat, ustad Zaki pun kembali menatap Zahra.
"Ohhh gitu, tapi motornya?" Zahra masih bisa melihat motor ustad Zaki yang juga terparkir.
"Iya, ada kurir yang sengaja mas minta bawain motor kemarin!"
"Ohhhh!"
"Ya udah ayo berangkat, nanti kamu telat!" ustad Zaki pun membukakan pintu mobil untuk Zahra.
Setelah memastikan Zahra benar-benar masuk, ustad Zaki menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan cepat mengitari mobil membukan pintu lainnya yang ada di dekat kemudi, ia segara masuk dan duduk di depan kemudi.
Akhirnya untuk pertama kalinya ustad Zaki mengantar Zahra menggunakan mobil,
Hingga sampai di persimpangan mereka melihat seorang gadis yang tengah berjalan kaki sambil menuntun motornya.
"Dek, itu kayaknya Imah!?"
"Iya, itu motornya kenapa?"
Tiba-tiba ustad Zaki melambatkan laju mobilnya,
"Ehhhh, mau ngapain?" Zahra segera menahan tangan ustad Zaki.
"Kasihan dek!?"
Kalau sama cewek aja kasihan ....
__ADS_1
Benar saja, ustad Zaki menghentikan mobilnya tepat di samping Fatimah, ia pun menurunkan kaca mobilnya.
"Assalamualaikum, dek Imah."
"Waalaikum salam, ustad!"
Tuh kan yang di sapa cuma mas ustadz, nggak lihat apa ada orang Segede gini ...
Fatimah pun beralih menatap Zahra yang duduk di samping ustad Zaki,
"Zahra!?"
"Hmmm!" Zahra tersenyum hambar.
"Ada apa dengan motornya?" tanya ustad Zaki.
"Ini bannya bocor!?"
"Trus kamu mau ke mana?"
"Imah mau ke kampus, ustad!"
"Ya udah bareng kita aja,"
Ngapain pakek nawarin tumpangan sih, sok baik banget nih orang ...., keluh Zahra dalam hati.
"Iya kan dek?" ustad Zaki hampir lupa tidak bertanya dulu pada sang istri.
Zahra hanya bisa tersenyum hambar, ia tidak mungkin menolaknya, lagi pula ini bukan mobilnya,
"Iya!?" jawabnya berat.
"Trus motorku?" tanya Imah yang bingung harus di apakan dengan motornya.
Emang aku pikirin, sudah untuk di tawari tumpangan ...
"Itu di sana ada warung, biar aku_!" Zahra segera menahan tangan ustad Zaki dan memberi tatapan tajam pada suaminya itu.
"Iya mbak Imah, mbak Imah bisa nitipin sendiri ke sana kan? Iya kan mas?" ucap Zahra dengan suara yang penuh penekanan.
"Ahhh iya, bentar ya!"
Imah pun segera menuntun motornya ke toko yang di tunjuk ustad Zaki dan menitipkan motornya di sana.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1