Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 5 (Baru masuk)


__ADS_3

Hari ini ustad Zaki tengah mengantar Zahra ke kampus pilihannya. Karena Zahra tengah hamil jadi ia tidak di wajibkan untuk mengikuti ospek tahun ini, ia bisa ikut tahun depan dengan angkatan di bawahnya untuk mendapatkan sertifikat ospek.


Meskipun terlambat daftar, beruntung perkuliahan baru masuk beberapa Minggu ini, untuk mengejar keterlambatan Zahra, beberapa dosen memberi tugas khusus untuk Zahra.


Sepanjang hari ustad Zaki rela menunggui Zahra di depan kampus dan sesekali menghubunginya untuk memastikan jika Zahra baik-baik saja.


"Assalamualaikum, mas."


Bibir ustad Zaki tersenyum lega saat Zahra sudah berdiri di samping mobilnya,


"Waalaikum salam, masuk dek." ucapnya sambil membukakan pintu mobil untuk Zahra, Zahra pun dengan cepat masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana dek?"


"Lancar mas. Oh iya, tadi Zahra kayaknya lihat mas di ruang dosen, ada apa?"


"Oh itu," jawab ustad Zaki datar tapi sepertinya belum ada niat untuk menjelaskan membuat Zahra menatap penuh harap,


"Mas ....., kenapa?"


"Itu, itu sebenarnya kampus ini tempat mas ngisi mata kuliah, selain di kampus sebelah." ucap ustad Zaki berusaha menjelaskan tapi dari cara bicaranya terlihat sekali kalau ustad Zaki tidak yakin dengan jawabannya sendiri membuat Zahra memicingkan matanya.


"Iya dek," jawab Ustad Zaki lagi.


Dan sekali lagi Zahra masih tidak percaya, sepetinya tatapan zahra seolah tengah mengintrogasi pria berpeci itu.


"Yang benar?" tanyanya lagi dengan alis sebelahnya yang terangkat.


"Baiklah, mas jujur."


"Iya kan!!!" ucap Zahra bangga karena dugaannya benar.


"Dengarkan dulu dek,"


"Siap bos." ucap Zahra sambil bersikap seolah tengah memberi hormat, dan hal itu malah tampak begitu menggemaskan,


"Bisa nggak, nggak usah bersikap begitu di depan umum!" keluh ustad Zaki.

__ADS_1


"Memang kenapa?" tanya Zahra polos. Ustad Zaki pun mendekatkan wajahnya ke arah zahra,


"Takut kelepasan." bisiknya, seketika berhasil membuat wajah zahra memerah.


"Ahhhh, siapa sih yang bikin api unggun di sini," keluh Zahra sambil ngibas-kibaskan jilbab segi empatnya.


"Kenapa dek?" melihat Zahra yang kepanasan, ustad Zaki mulai panik.


"Soalnya ucapan mas ustad bikin hati Zahra menghangat." ucap Zahra sambil tersenyum.


"Hehhhh, dek. Mas sudah khawatir tadi. Ya sudah kita pergi sekarang ya!" ustad Zaki pun bersiap untuk menghidupkan mesin mobilnya.


"Apaan!!!! Nggak bisa."


"Apa lagi dek?"


"Yang tadi belum di jawab."


"Yang mana?"


"Baiklah mas ngaku. Sebenarnya mas baru sih, baru_," ucapan ustad Zaki terhenti saat tiba-tiba Zahra menyambar ucapanya.


"Baru hari ini?"


Ustad zaki pun dengan pasrah mengangukkan kepalanya membuat bibir Zahra mengerucut sempurna.


'Sudah aku duga, ih kebiasaan ya mas ustad ini,' batin Zahra sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf dek, mas cuma nggak tega. Lagi pula memang mas sudah mendapat tawaran sejak dulu tapi belum sampak mas ambil, jadi karena kebetulan dek Zahra kuliah di sini, tidak ada salahnya kan kalau mas terima tawaran pak rektor." ustad Zaki berusaha keras menjelaskan agar sang istri tidak marah padanya.


"Baiklah, kalau begitu sebagai gantinya ajak Zahra jalan-jalan. Zahra mau beli pernak-pernik untuk kuliah." ucap zahra yang pura-pura marah, ia sengaja melipat tangannya di depan dada supaya lebih meyakinkan.


"Baiklah, tapi ada syaratnya."


"Kok syarat masih di syarati sih mas, kebiasaan!" keluh Zahra.


"Kalau nggak mau ya udah, nggak mau pulang juga nggak pa pa, kita tidur di sini aja di mobil, besok kalau kuliah tinggal masuk aja."

__ADS_1


'Ya ampun, kalau marah mas ustad jadi banyak bicara.' keluh Zahra dalam hati. Alih-alih ingin mengerjai suaminya, selalu kena sendiri.


"Baiklah, apa?"


"Kita pergi ke klinik kandungan dulu, kita periksa dedek bayi dulu, hari ini dek Zahra sedikit sibuk takutnya berpengaruh sama dedek bayi."


'Ya Allah ...., kebiasaan.' batin Zahra nggak suka dengan syarat yang di ajukan suaminya, tapi apa boleh buat mau dia tidak setuju pun pasti ujung-ujungnya tetap di ajak mampir ke klinik.


"Terserah dek," ucap zahra kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan memilih membalik wajahnya menatap ke luar jendela.


Deg


Tapi tiba-tiba jantungnya berdetak kencang saat wajah dan tubuh suaminya begitu dekat berada di depannya.


'Ya Allah, kalau kayak gini gimana bisa marah. Kenapa dia ganteng banget sih ya Allah, jadi meleleh nih hati,' Zahra sampai tidak bisa berkedip bahkan untuk menelan Salivanya sendiri begitu kesulitan.


"Sudah!" ucap ustad Zaki sambil menjauhkan kembali tubuhnya dari tubuh Zahra, dan ternyata pria itu baru saja memasangkan sabuk pengaman di tubuh Zahra.


'Ahhh kirain mau cium tadi, padahal kan aku sudah berharap banget.' batin Zahra kecewa.


"Kenapa dek?" tanya ustad Zaki saat Zahra masih terus menatapnya.


"Apaan, jangan GeEr deh, aku nggak mikir macam-macam ya. Apalagi mau di cium."


"Mikir gitu juga nggak pa pa dek." ustad Zaki tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipinya.


'Ya Allah dia malah tersenyum lagi, ahhhh bisa mati rasa nih tubuh kalah begini terus.' batin Zahra dan dengan cepat mengalihkan tatapannya ke tempat lain membuat ustad Zaki semakin tersenyum.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2