Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Tidak sekuat itu


__ADS_3

Tangan pria itu tampak bergetar saat jari jemarinya memegang sebuah bolpoin, air matanya bahkan terus merembes di sudut matanya, tampak beberapa kali ia mengusap cairan bening di pelupuk mata itu dengan ujung kemejanya.


"Bismillahirrahmanirrahim!" dengan satu kali tarikan nafas, akhirnya ia menorehkan sebuah tanda tangan yang artinya ia harus merelakan salah satu dari ketiga bagian dalam hidupnya untuk kembali ke pemiliknya.


Setelah selesai dengan urusannya, ustad Zaki teringat jika ia belum sholat ashar. Ia pun memilih pergi ke mushola rumah sakit sebelum ke ruang operasi.


Sesampai di mushola ia segera mengambil wudhu, berharap hatinya bisa sedikit tenang dengan basuhan air wudhu.


Setelah menyelesaikan empat rakaat sholatnya, ia segera menengadahkan tangannya, memohon pertolongan pada sang pemilik kehidupan,


"Ya Allah ya Rabb pemilik kehidupan, jika memang ini jalanyang telah Engkau pilihkan untukku, maka permudahkanlah. Ya Allah ya Rabb jika Zahra jodoh yang telah Engkau tuliskan di lauhul mahfudz, yang telah Engkau pilihkan untuk ku, maka kembalikan dia padaku ya Allah biarkan dia menemaniku di sisa umurku ya Allah,


Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika.


Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu, aamiin.


Akhirnya ustad Zaki pun mengakhiri doanya, sebentar lagi masuk waktu magrib. Sebenarnya ingin sekali cepat ke tempat Zahra, tapi ia juga tidak bisa melewatkan waktu magribnya.


Sambil menunggu, ia pun mengambil ponsel yang berada di tas kecil miliknya, ia harus menghubungi seseorang.


"Hallo, assalamualaikum ummi!"


"Waalaikum salam, Zak. Bagaimana keadaan Zahra? Bukankah ini sudah waktunya?" ternyata ummi sudah tahu jadwal ujian Zahra berakhir, dan waktunya untuk dilakukan tindakan.


"Zahra di rumah sakit, ummi!"


"Astaghfirullah hal azim, lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Zahra di operasi sekarang, ummi!"

__ADS_1


"Kamunyang sabar ya Zak, insyaallah besok Abi sama ummi ke sana!"


"Iya ummi, Zaki sholat magrib dulu ummi, kalau sudah mau berangkat kabari Zaki ya ummi,"


"Iya pasti!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, akhirnya ustad Zaki menutup sambungan telponnya.


Muazin sudah mengumandangkan azan magrib, beberapa jama'ah juga sudah mulai berdatangan. Karena mushola rumah sakit tidak begitu besar, jadi tidak bisa menampung banyak jamaan, hingga sholat magrib di bagi menjadi beberapa kloter.


Beruntung ustad Zaki mendapatkan kloter yang pertama, setelah sang imam mengakhiri doanya, ia pun segera beranjak dari tempatnya. Ia khawatir jika Bu Narsih dan pak Warsi tengah menunggunya.


Sepanjang jalan, dalam hatinya terus berdoa meminta ketabahan pada sang pencipta, langkahnya menjauh dari mushola.


Rasanya ingin segera melihat keadaan sang istri, seandainya bisa ingin sekali menembus dinding yang telah memisahkan mereka, berjuang bersama dokter yang ada di dalam ruangan dengan tulisan R. Operasi dengan lampu yang menyala di atas.


"Assalamualaikum!" sapanya pada kedua orang tua sang istri.


"Waalaikum salam, nak. Duduklah!" pak Warsi meminta sang menantu untuk duduk, ia tidak banyak bertanya karena ia tahu saat ini pria itu tengah terguncang.


"Nur dan Amir_?" tanya ustad Zaki begitu menyadari di sana tinggal mereka bertiga.


"Nur dan Amir tadi pamit pulang, tapi insyaallah nanti malam mau ke sini lagi buat menemani kamu!" ucap pak Warsi.


"Bapak sama ibuk sudah sholat?" tanya ustad Zaki lagi begitu sadar, ia sampai lupa bahkan tidak memberi kesempata pada mereka untuk melakukan sholat.

__ADS_1


"Sudah tadi di sini, kebetulan ibukmu bawa sajadah!"


"Alhamdulillah!" ustad Zaki sedikit merasa lega, setidaknya ia tidak membuat kedua orang tua istrinya sampai melalaikan kewajibannya.


Mereka kembali saling diam, apalagi Bu Narsih, dia tampak begitu pendiam wajahnya juga tampak lelah tapi matanya bahkan enggan untuk terpejam, netra tuanya terus mengawasi lampu yang menyala di atas pintu ruang operasi.


Walaupun ingin rasanya menenangkan dua orang tua yang tengah duduk di kursi tunggu, tapi nyatanya bahkan ia tidak punya tenaga untuk itu.


Apa yang selama ini ia sampaikan pada jamaahnya untuk selalu tegas, sabar dalam menghadapi cobaan yang di berikan oleh Allah, nyatanya bahkan ia tidak bisa mempraktekkannya sendiri.


Ia pikir selama ini ia sudah cukup banyak menghadapi cobaan, bahkan saat ia jauh dari kehidupan nyamannya bersama orang tua dan memulai kehidupan barunya adalah hal terberat dalam hidupnya, nyatanya bukan.


Melihat istrinya terkulai lemah di dalam sana dengan segala penanganan medis dan membayangkan hal yang paling buruk yang mungkin saja bisa terjadi adalah ujian terberat yang ia lalui selama hidupnya.


Tapi yang selalu ia pegang sampai saat ini dari kata-kata abinya, Allah menolong hambaNya bukan dengan mencabut masalahnya tapi dengan menguatkan hatinya. Insyaallah dengan cobaan ini, ia akan semakin di kuatkan hatinya.


Hingga akhirnya dua jam berlalu, lampu yang ada di atas pintu pun mati menandakan operasi telah selesai, dengan cepat Ustad Zaki berjalan ke arah pintu di ikuti dua orang tua Zahra.


Ceklek


Perlahan pintu terbuka dan seorang dokter keluar dari ruangan itu, ia masih memakai pakaian lengkap pasca operasi.


"Bagaimana dok?" tanya ustad Zaki dengan begitu khawatir.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2