Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Ilmu padi


__ADS_3

Sesampai di tempat pengajian, benar saja tempat itu sudah cukup penuh dengan jamaah yang terdiri dari para wanita dengan segala umur, mulai dari anak-anak hingga yang sudah oma-oma.


Ummi beserta rombongan pun mengucapkan salam sebelum ikut bergabung dan bersalaman pada para jama'ah yang lain yang jumlahnya sekitar tiga puluhan.


Memang tidak banyak, tapi cukup banyak untuk ukuran pengajian. Karena di jaman sekarang ini jamaah pengajian semakin sedikit.


Dan yang membuat Zahra salah fokus adalah keberadaan ustadzah Nafis juga di tempat itu. Ia tidak menyangka ustadzah sekelas ustadzah Nafis masih mau menghadiri pengajian-pengajian kecil seperti itu padahal dia bukan pematerinya.


Sepanjang pengajian, Zahra terus sibuk memperhatikan bagaimana ustadzah Nafis yang begitu menghargai ustadzah yang tengah memberi ceramah di depan walaupun ia tahu mungkin ilmunya jauh lebih tinggi dari yang di depan sana.


Rasa minder itu sepertinya kembali hadir saat melihat pembawaan ustadzah Nafis yang santun dan tidak ingin menyela ceramah orang lain meskipun ia lebih tahu, cara ia bersikap pada jamaah lain yang tidak terlihat merasa paling bisa.


Apalagi saat ada sesi tanya jawab, tidak sekalipun terlihat ustadzah Nafis ingin menjatuhkan ustadzah yang berceramah dengan memberikan pertanyaan yang mengintimidasi atau menjatuhkan.


Hingga pengajian selesai, Zahra masih tidak bisa berpaling dari pesona ustadzah Nafis, jika ia seorang laki-laki mungkin ia akan sangat jatuh hati pada wanita seperti itu.


Bukan karena ia tidak perna bertemu dengan wanita shalihah sebelumnya, ia juga pernah mengenal Imah, tapi ia yakin ustadzah Nafis bukan seperti Imah. Tidak ada kekhawatiran sedikitpun pada wanita itu terhadap suaminya di bandingkan kekhawatirannya dulu pada Imah.


Mungkin itu yang membuatnya merasa beda.


Selesai pengajian, biasanya ibu-ibu tidak langsung bubar. Mereka masih ada agenda arisan dan lain sebagainya. Karena Zahra merasa bosan ia pun memilih berpamitan pada ummi,


"Ummi, Zahra jalan-jalan di sekitar sini ya ummi, cari angin!"


"Jangan lama-lama ya!"


"Enggak kok ummi, tadi dibelakang kayaknya Zahra lihat kolam!"


"Baiklah, nanti ummi susul ke sana!"


"Iya ummi!"


Zahra pun memilih keluar dari gedung itu, ia merasa bosan di dalam. Dan juga ia merasa tidak enak jika harus main hp sedangkan yang lain ngobrol.


Zahra memilih ke belakang, memang benar tadi saat sampai ia sempat melihat ada kolam ikan besar di belakang gedung itu.


"Ahhhhh, kan di sini seger!?" Zahra meregangkan tangannya seperti baru saja mendapatkan udara segar.


Zahra memilih duduk di tepi kolam sambil memainkan tangannya di dalam air, sesekali ikan muncul ke permukaan dan membuat bibir Zahra membentuk lengkungan senyum.

__ADS_1


"Assalamualaikum,"


Sapaan itu berhasil membuat Zahra mendongakkan kepalanya,


"Waalaikum salam," tapi sepertinya Zahra tidak yakin jika dirinya yang tengah di sapa, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah dan nyatanya hanya ada mereka berdua di sana,


"Ustadzah Nafis yakin menyapa saya?" tanya Zahra kemudian.


Dan ustadzah Nafis pun tersenyum, ia mengangukkan kepalanya,


"Boleh saya ikut duduk?" tanyanya dengan sopan dan Zahra mengangukan kepalanya sambil menggeser duduknya memberi tempat pada ustad Zaki.


Akhrinya mereka duduk berdua, Zahra tidak tahu kenapa ustadzah Nafis bisa menghampirinya. Perasaannya begitu tidak enak saat berdekatan seperti itu dengan ustadzah Nafis.


"Kenapa?"


Pertanyaan itu akhirnya muncul juga dari bibir ustadzah Nafis.


"Haahhh?" Zahra jelas bingung, ia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan ustadzah Nafis.


"Apa Zahra keberatan jika saya ikut duduk di sini? Atau Zahra merasa saya tidak pantas duduk bersama Zahra?" tanya ustadzah Nafis dengan senyumnya yang lembut.


"Justru saya yang senang bisa ketemu kamu, Zahra! Tepatnya sejak beberapa bulan lalu, saya sangat mengagumi sosok Zahra!"


"Hahhh?" Zahra terperangah tidak percaya.


"Iya, kamu tidak percaya?" tanya ustadzah Nafis dan zahra dengan polosnya menggelengkan kepala.


"Saya begitu penasaran dengan wanita yang sudah mematahkan doa saya selama ini, dan ternyata Allah memang tidak pernah salah, Allah maha benar!"


Sekarang Zahra mulai mengerti arah pembicaraan ustadzah Nafis, ia pun memperbaiki posisinya,


"Jadi ustadzah Nafis sudah tahu kalau Zahra _!"


"Tahu semuanya?"


"Iya!" jawab Zahra.


Ustadzah Nafis tampak menghela nafas panjang seperti hendak mengeluarkan segala unek-unek dalam hatinya.

__ADS_1


"Apapun di masa lalu kami, itu hanya masa lalu Zahra. Biarkan tetap berada di masa lalu dan sekarang yang menjadi masa depan ustad Zaki kamu, jadi jangan lagi memasukkan saya ke dalam masa depan itu." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Ustadzah, sekarang aku tahu!" ucap Zahra.


"Apa?"


"Sikap ustadzah yang tenang ini, nyatanya telah membuat kegaduhan di dalam hati mas ustad dan itu yang Zahra tidak punya!"


Ustadzah Nafis tersenyum dan menggema tangan Zahra yang berada di atas pangkuannya,


"Zahra, mungkin benar apa yang kamu katakan. Tapi yang harus kamu tahu ustad Zaki juga punya sifat yang tenang itu dan sepertinya yang ustad Zaki butuhkan bukan lagi sikap yang tenang dari pasangan hidupnya tapi sifat yang rame yang akan membuat kehidupannya menjadi berwarna dan itu ia dapat dari kamu, Zahra."


Entah kenapa mendengar penjelasan ustadzah Nafis membuat Zahra semakin merasa jauh untuk menyamai ustadzah Nafis,


"Ya Allah ustadzah, bagaimana bisa aku bermimpi bisa bersaing dengan ustadzah!"


"Jangan merasa rendah di depan siapapun, merasa rendah hanya di depan sang pencipta, selain itu jangan. Begitu juga di depanku, aku hanya ciptaannya juga yang punya banyak sekali kekurangan sama seperti dirimu, hanya saja mungkin saat ini Allah tengah menunjukkan kelebihan ku dan menyembunyikan keburukan ku!"


Mendengar penjelasan panjang lebar dari ustadzah Nafis membuatnya mengerti apa arti mencari ilmu, nyatanya seseorang yang berilmu maka akan semakin merendah, benar yang di katakan pada guru jika seseorang yang berilmu itu bagaikan sebatang padi, semakin mengunging dan berisi maka padi akan semakin merunduk.


Banyak pelajaran yang Zahra dapat hari ini dari sosok wanita yang pernah hadir di masa lalu suaminya, masa lalu tidak semuanya buruk jika menyikapinya dengan bijak,


"Rupanya ada ustadzah Nafis juga di sini!?" ucapan ummi berhasil menghentikan percakapan mereka, mereka pun segera berdiri dari duduknya.


"Iya ummi, kebetulan tadi lihat Zahra duduk sendiri!" ucap ustadzah Nafis, "Sudah selesai ummi acaranya?" tanyanya kemudian.


"Alhamdulillah sudah, bagaimana kita pulang sekarang? Apa ustazah mau sekalian bareng dengan kami?"


"Nggak ummi, kebetulan saya bawa motor tadi, kalau begitu saya permisi ummi. Zahra. assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2