
Bukan tidak lama, karena ini dua sampai tiga jam lebih awal dari kepulangan normal dan Zahra memilih untuk menunggui ustad Zaki di sana. Bukan tanpa alasan, karena nyatanya ia tidak benar-benar siap untuk bertemu dengan kedua orang tuanya walaupun ia yakin jika kedua orang tuanya juga sudah tahu kejadian yang sebenarnya.
Ini sudah satu jam semenjak Nur meninggalkannya dan ia tetap memilih setia duduk di tempatnya, menatap jalanan yang ramai kendaraan, meski begitu hatinya tengah sunyi.
Hingga seseorang yang tiba-tiba memegang bahunya membuatnya sedikit terkejut,
"Zahra!"
Dia Bu Chusna, Zahra sedikit mendongakkan kepalanya karena nyatanya tidak perlu mendongak ia.juga sudah tahu jika yang menyapanya saat ini adalah Bu Chusna dari sepatu yang di gunakan oleh guru muda itu,
"Ibu boleh duduk?" tanyanya lagi saat Zahra hanya memilih untuk diam.
"Silahkan!"
Setelah mendapat persetujuan dari Zahra, Bu Chusna pun mengambil tempat kosong di samping Zahra, tidak langsung bertanya seperti biasanya, guru muda itu juga memilih melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Zahra, mengamati jalanan yang ramai.
Akhirnya Zahra pun mengambil inisiatif untuk bertanya lebih dulu,
"Rapatnya sudah selesai, Bu?"
Bu Chusna menoleh padanya dan tersenyum, "Sudah, baru saja! Kenapa tidak menghubungi mas Zaki untuk menjemput lebih awal?"
Zahra tersenyum hambar, ia tidak suka jika wanita di sampingnya itu membahas suaminya,
"Kenapa?" tanya Bu Chusna lagi.
"Pengen nunggu aja!?" jawab Zahra singkat dan ia memilih kembali fokus ke jalanan. Ia tidak mau membahas suaminya lagi dengan wanita yang jelas-jelas menaruh hati pada suaminya.
"Maafkan ibu ya!?"
Pernyataan Bu Chusna kali ini benar-benar berhasil membuat Zahra menoleh kembali pada Bu Chusna, ia bahkan mengerutkan keningnya karena ia tidak tahu apa.maksud permintaan maaf dari Bu Chusna kali ini,
"Ibu minta maaf kenapa?"
"Karena sudah menyukai suami kamu!"
Huks huks huks
Seketika Zahra tersedak Salivanya sendiri, ia sampai benar-benar melotot tidak percaya,
"Minumlah, ini masih segel, belum ibu minum!" Bu Chusna menyerahkan sebotol kecil air mineral yang masih terlihat segelnya, tapi sepertinya Zahra enggan untuk menerimanya hingga Bu Chusna menarik tangan Zahra dan meletakkan botol itu di telapak tangannya,
"Minumlah!"
Zahra pun terpaksa menerimanya dan dengan begitu canggung meneguknya meskipun ia begitu butuh dengan air itu.
"Ibu tahu?" tanya Zahra setelah merasa tenang.
Bu chusna tersenyum dan menganggukkan kepalanya,
Ini gimana konsepnya?
"Iya, mas Zaki yang kasih tahu!"
Sekali lagi, hampir saja Zahra tersedak. Beruntung ia bisa mengendalikan rasa terkejutnya.
"Mas ustad?"
__ADS_1
"Iya_, kemarin dia sudah memberitahu semuanya, kamu beruntung Zahra punya suami sebaik mas Zaki, dia pria yang Sholeh dan juga setia pastinya!"
"Ibu tidak marah atau melaporkan aku pada kepala sekolah?"
Bu Chusna tersenyum, "Kenapa harus lapor, mungkin kepala sekolah malah sudah tahu dan ibu saja yang tidak tahu."
Zahra terdiam, ia tidak menyangka ustad Zaki akan melakukan hal itu.
"Ya sudah, ibu duluan ya, atau mau ibu telponin mas Zaki biar jemput kamu?"
Zahra langsung mengibaskan tangannya, ia jelas belum siap untuk bertemu dengan suaminya saat ada Bu Chusna di sana,
"Nggak perlu Bu, terimakasih!"
"Beneran?" Bu Chusna masih mencoba memastikan, wanita dewasa itu terlihat merelakan, setidaknya di usianya sekarang membuatnya lebih bisa menyikapi apa yang terjadi, jika bukan jodoh maka tidaklah sepatutnya dipaksakan, karena mungkin nanti ada jodoh yang telah menantinya yang lebih baik.
"Iya Bu, lagian tinggal sebentar lagi datang!" Zahra mencoba tersenyum,
"Ya udah, kalau begitu ibu pergi dulu ya!" Bu Chusna beranjak dari duduknya, tampak sesekali tangannya menutupi kening agar terhindar dari matahari yang cukup menyengat meski pun mereka berada di bawah teras pos satpam.
"Iya!"
Akhirnya Bu Chusna pun benar-benar meninggalkan Zahra sendiri,
"Jadi kemarin mas ustad membahas itu dengan Bu Chusna? Kenapa?" gumamnya pelan hingga suaranya nyaris tidak terdengar karena terkalahkan dengan suara bisingnya kendaraan di jalan raya.
Ada perasaan lega yang muncul sedikit menutupi kegalauannya tentang masalah yang menimpa suaminya,
"Aku tahu mas ustad pria yang setia, tapi_!" Zahra tidak berani melanjutkan ucapannya,
Hehhhhh
Sepuluh menit berlalu dan sebuah motor tiba-tiba berhenti tepat di depannya, pria yang mengendarai motor itu seperti tergesa-gesa membuka helmnya dan menghampiri Zahra,
"Assalamualaikum, dek. Kenapa nggak bilang kalau pulang lebih awal?" wajahnya begitu khawatir, apalagi melihat Zahra yang duduk sendiri di samping post satpam dengan sekolah yang keadaannya sudah sepi.
Zahra pun terlihat malas mulai menegakkan tubuhnya, entah sudah berapa banyak cairan dalam tubuhnya yang ikut menguap bersama keringatnya,
"Waalaikum salam!" senada dengan suara malasnya menjawab salam.
Dia ustad zaki_, dengan tangan kekarnya segera menahan kedua bahu Zahra,
"Maaf ya dek, sudah buat kamu susah!"
Zahra hanya menggelengkan kepalanya,
"Zahra hanya ingin cepat sampai rumah bapak!"
Deg
Sebuah perasaan yang tidak rela, tapi wajah ustad Zaki tampak pasrah. Jika bukan dalam keadaan seperti ini, pastilah dia tidak akan begitu keberatan. Tapi saat ini benar-benar begitu berat saat harus berpisah dengan sang istri, perasaan takut kehilangan itu begitu nyata.
"Baiklah!"
Ustad Zaki pun kembali berbalik dan mengambil helm yang sengaja ia gantung di bagian depan motornya dan menyerahkannya pada Zahra,
Helm yang tadi ia kenakan, kini kembali ia kenakan. Mesin motor yang mulai hidup menandakan mereka sudah siap untuk berlalu dari gedung sekolah menengah atas itu.
__ADS_1
Tidak ada lagi percakapan sepanjang perjalanan, sepertinya mereka terlalu larut dengan pikirannya masing-masing.
Meski jarak rumah mereka dari rumah orang tua Zahra tidak begitu jauh tapi situasi yang telah memperlebar jarak mereka.
Hingga akhirnya motor berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar untuk ukuran rumah kampung, Zahra segera turun dari motor dan melepaskan helmnya,
"Terimakasih ya mas sudah mau mengijinkan Zahra menginap di sini!"
"Mas juga akan turun untuk bertemu bapak dan ibu!"
Zahra hanya mengangguk dan mereka pun berjalan beriringan meski tanpa suara menuju ke pintu utama rumah itu yang tampak terbuka sebagian.
Hingga akhirnya mereka tepat berada di depan pintu dan Zahra menghentikan langkahnya membuat sang suami ikut berhenti,
"Mas,"
"Hmmm?"
"Tolong maafkan Zahra ya, karena Zahra belum bisa menjadi istri yang baik buat mas ustad."
Deg
Rasanya seperti di tikam ribuan belati, begitulah yang di rasakan oleh ustad Zaki, untuk pertama kalinya istrinya berbicara dengan begitu tenang tapi terasa begitu dalam,
"Dek, tunggu sampai mas bisa membuktikan semuanya!"
Zahra tersenyum tipis dan mengangukkan kepalanya pelan, kemudian ia kembali mengalihkan tatapannya ke arah pintu,
"Assalamualaikum!" sebuah senyum sengaja Zahra pasang di bibirnya sebelum mengucapkan salam, dan tidak lama terdengar jawaban salah dari dalam rumah.
Seorang wanita paruh baya tampak tergopoh menghampiri pintu utama, seketika sebuah senyum lembut terulas di bibirnya,
"Zahra, nak ustad! Ayo masuk!"
Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari tuan rumah, barulah mereka masuk.
"Bu, beberapa hari ini aku akan menginap di sini, nggak pa pa kan?" tanya Zahra sebelum ibunya mempersilahkan mereka untuk duduk.
Seketika senyum dari wanita paruh baya itu sirna dari bibirnya, tatapannya beralih dari sang menantu,
Ustad Zaki langsung peka dengan tatapan ibu mertuanya,
"Zaki sudah mengijinkan Bu, insyaallah hanya untuk beberapa hari!"
Bu Narsih pun sedikit lega, setidaknya tidak seperti yang ia bayangkan,
"Baiklah, ibu boleh!"
"Kalau begitu Zahra ke kamar dulu ya!" Zahra pun langsung meninggalkan suami dan sang ibu, ia memilih pergi ke kamarnya yang beberapa bulan ini telah ia tinggalkan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...