Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Kencan pertama


__ADS_3

"Bapak, ibu, kami pamit pulang dulu ya!" pamit ustad Zaki pada kedua mertuanya saat menjemput istrinya.


Zahra sudah menunggu ustad Zaki di depan, ia Sudja berpamitan lebih dulu dengan kedua orang tuanya.


"Nak ustad nggak nginep di sini saja?" tawar pak Warsi, ia terlihat begitu senang setiap kali menantunya itu berkunjung.


"Kasihan dek Zahra nya pak nanti kalau pagi-pagi pulang, semua keperluan sekolahnya kan masih di rumah!" ucapnya lagi dengan begitu sopan.


"Ya sudah, kalau gitu hati-hati. Nggak usah ngebut-ngebut. Sudah malam begini biasanya preman-preman itu sudah rame di pos!"


Memang jika jam-jam seperti ini, para pemuda yang salah bergaul memilih menghabiskan waktu malamnya di pos depan gang hanya untuk sekedar ngobrol atau bahkan sesekali mereka minum-minum.


"Iya pak, terimakasih!"


Bu Narsih dan pak Warsi pun akhirnya mengantar ustad Zaki sampah ke depan,


"Kami permisi pulang. Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ustad Zaki dan Zahra bersalaman dengan kedua orang tuanya sebelum pergi.


Mereka pun akhirnya meninggalkan rumah itu, ustad Zaki juga mengatakan jika besok akan mengantar Zahra lagi ke sana karena di rumah Zahra tidak ada temannya.


Hingga saat berlalu dari rumah orang tuanya, ustad Zaki kembali di kejutkan oleh sesuatu,


Srekkk


Tiba-tiba tangan Zahra melingkar di pinggang ustad Zaki tanpa menunggu perintah terlebih dulu membuat ustad Zaki tersenyum menatap telapak tangan yang saling bertaut itu,


"Mas pelan aja ya!" ucap ustad Zaki sambil tersenyum senang, ingin rasanya memegang dan mengusap tangan itu, tapi ia tidak berani. Ia berharap suatu saat bisa melakukan itu.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Zahra, ia bahkan kini sudah menyandarkan tubuhnya di punggung pria dewasa itu.


Ustad Zaki tersenyum, "Tidak pa pa!"


Ia hanya ingin berlama-lama dipeluk istrinya seperti itu.


"Mau jalan-jalan dulu?" tanyanya lagi saat melihat jam masih jam delapan.


"Kemana?"


"Keliling aja, sekalian cari lauk buat besok. Biar besok nggak perlu masak."


Zahra tidak menjawab, ia tidak mungkin menjawab iya meskipun dia ingin. Rasa gengsinya lebih besar dari rasa inginnya.


Tapi sepertinya ustad Zaki sudah mengerti dengan apa yang di pikirkan Zahra, saat sampai di gang masuk rumah mereka, ustad Zaki memilih lanjut ke arah lain, hal itu berhasil membuat Zahra tersenyum senang. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Beruntung hari ini ia memakai celana panjang dan jaket hudie yang menutup rambutnya.


Tidak bisa di pungkiri, sedikit perkataan Nur tadi siang cukup mempengaruhinya. Ia sekarang bukan lagi tentang dirinya tapi tentang dua orang yang punya latar belakang yang jauh berbeda. Jika sebelumnya semua yang ia lakukan hanya akan di tanggung dirinya sendiri, tapi semejak ia memutuskan untuk menjadi seorang istri dari seorang ustad, segala tindak tanduknya akan berimbas pada nama baik sang ustad.


"Dek, mau jajan sesuatu?"


Zahra mengedarkan pandangannya hingga ia melihat sebuah kedai Sempol,


"Aku mau Sempol!"


"Baiklah, kita ke sana ya!" ustad Zaki segera mengandeng tangan Zahra membuat Zahra terpaku, baru kali ini ia diperlakukan begitu istimewa oleh seorang pria setelah bapaknya.


Bahkan selama ia berpacaran dengan Bayu, pria itu tidak pernah memperlakukan dirinya semanis itu.


Lagi dan lagi, Zahra kembali membandingkan perlakuan ustad Zaki dengan Bayu.


Ustad Zaki segera melepas jaketnya dan menggelarnya di atas karpet yang sengaja di sediakan oleh penjual Sempol,

__ADS_1


"Duduklah!"


"Ini buat apa?"


"Buat dek Zahra duduk, biar nggak masuk angin."


"Tapi_!"


"Sudah duduklah!" sekali lagi ustad Zaki menarik tangan Zahra hingga membuat Zahra duduk di atas jaket miliknya.


"Biar mas yang pesan, selagi menunggu pesanan datang mas mau ke penjual satu ayam itu ya, sekalian buat di bungkus. Apa kamu mau sesuatu yang lain, biar sekalian mas Carikan?"


Manis banget sih mas ustad nih ....


Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya,


"Kalau ada sesuatu, segera panggil mas!"


"Hmmm!"


Akhirnya ustad Zaki benar-benar meninggalkan Zahra sendiri, walaupun begitu sambil menunggu pesanannya, sesekali ia melihat ke arah Zahra dan memastikan jika istri kecilnya itu baik-baik saja.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2