Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 23 (Benar-benar End)


__ADS_3

Zahra tengah mondar-mandir di koridor rumah sakit, tepatnya di depan ruang yang akan menjadi tempatnya untuk bersalin. Ustad Zaki dengan setia menemaninya, bahkan ia tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada sang istri.


Sesekali Zahra menghentikan langkahnya saat kontraksi itu kembali terasa dan ustad Zaki segera memeluk dan mengusap punggung sang istri sambil membacakan doa untuknya, mencium punggung tangan sang istri.


Satu jam, dua jam berlalu kontraksi itu semakin sering. Mulai dari setengah jam sekali, hingga kini tinggal lima menit sekali dan terasa semakin kuat.


Zahra terus menggigit bibir bawahnya saat kontraksi itu semakin hebat, tangannya juga mencengkeram erat lengan sang suami berharap rasa sakit itu sedikit berkurang.


"Kamu kuat sayang," bisik ustad Zaki di sela-sela doanya.


"Eughhhhh," perlahan kontraksi itu mulai di sertai dengan keinginan untuk mengejang. "Mas, Zahra sudah nggak kuat lagi berdiri." ucapnya dengan nafas yang mulai tersengal.


"Mas bantu naik ya," dengan lembut ustad Zaki membantu Zahra naik ke atas ranjang.


"Eughhhh," kembali Zahra ingin mengejang dengan tangan yang menggenggam erat lengan sang suami. "Ahhhhh, mas. Allah, ya Allah ." rintihnya di sela-sela erangannya.


Dokter Retno pun kembali menghampiri Zahra bersama dua perawatnya. Ini sudah yang ke sekian kali dokter Retno menghampiri Zahra untuk memeriksanya, mulai dari pembukaan lima, enam, tujuh, delapan.


"Biar saya periksa dulu ya buk Zahra." ucap dokter Retno dan mereka pun kembali mengambil posisi sedangkan ustad Zaki memilih tetap menunggu Zahra di sampingnya dengan tangan yang terus mengusap puncak kepala zahra dan tangan satunya ia gunakan untuk genggaman Zahra.


"Sudah bukan sepuluh, sudah waktunya ya pak, buk." ucap dokter Retno dan seorang perawat mengambil berbagai macam peralatan untuk persalinan.


"Baik, sekarang mulai ya buk Zahra. Ikuti instruksi saya ya buk." ucap dokter Retno setelah mengambil posisi dan Zahra hanya mengangukkan kepalanya. Ia sudah beberapa kali berusaha untuk mengejang.


"Ayo buk, siap siap ya. Tarik nafas dulu yang kuat. Satu dua tiga, ayo keluarkan."


"Eughhhh,"


"Sekali lagi buk, kepalanya sudah hampir kelihatan. Tarik nafas, satu dua tiga, keluarkan."


"Eughhhh,"


"Ayo buk, kepalanya hampir keluar. Lebih kuat lagi buk. Ambil nafas. Satu dua tiga."


"Eughhh,"


Entah sudah berapa kali Zahra di bantu dokter retno dan dua perawatnya mengejang. Hingga suara tangis bayi menggema di dalam ruangan itu, ustad Zaki segera menghujani ciuman di wajah sang istri yang penuh dengan keringat, ucapan syukur tidak henti-hentinya keluar dari bibir ustad Zaki mengiringi suara tangis bayi itu.


"Alhamdulillah, ibuk, bapak, bayinya perempuan, sehat." ucap dokter Retno.


"Alhamdulillah," sekali lagi ucapan syukur keluar dari bibir ustad Zaki.


"Setelah bayi di bersihkan, bapaknya boleh segera mengadzani. Sebelumnya, silahkan mengurus administrasi dulu ya, sekalian meminta tanda pengenal di pihak administrasi ya pak."


"Baik dok, tolong jaga istri saya ya dok."


"Pasti pak."


Selagi ustad Zaki mengurus administrasi, perawat pun mulai membersihkan tubuh Zahra dan mengganti pakaiannya.

__ADS_1


***


Pak Warsi dan Bu Narsih segera mencari ruangan yang sudah di tunjukkan oleh ustad Zaki, ia di antar oleh Imron.


"Ini buk koyok e ruangannya." ucap pak Warsi sambil mencocokkan tulisan yang ada di layar ponselnya dengan yang ada di atas pintu ruangan itu.


"Oh Iyo pak, bener."


Pak Warsi pun segera membuka pintu dan benar saja ia bisa melihat Zahra yang tengah duduk di ranjangnya sambil menggendong seorang bayi, sedangkan ustad Zaki tengah berbicara dengan seseorang di dalam telpon sepertinya itu orang tua ustad Zaki.


"Assalamualaikum,"


Sapaan pak Warsi berhasil menghentikan percakapan ustad Zaki,


"Waalaikum salam," sahut Zahra dan ustad Zaki bersamaan.


"Silahkan masuk, pak buk." ustad Zaki segera mempersilahkan kedua mertuanya untuk masuk.


Pak warsi dan Bu Narsih pun masuk, mereka segera menghampiri putrinya. Menanyakan keadaan sang putri dan menggantikan Zahra menggendong sang bayi. Sedangkan ustad Zaki segera mengakhiri panggilan telponnya. Menyalami kedua mertuanya begitu juga dengan mas Imron.


"Pantesan ibuk mules terus perutnya dari kemarin, ternyata nduknya mau lahir." ucap Bu Narsih sambil menimbang cucunya.


"Ibuk ini bisa aja, yang lahiran Zahra masak yang mules ibuk." timpal Zahra sambil tersenyum sumringah seperti sudah melupakan rasa sakit yang baru saja ia lalui beberapa jam lalu.


"Bisa aja nduk, la wong dulu pas ibuk kamu ngelahirin kamu, bapak yang mules-mules semalaman. Tuh mas kamu masih ingat, tanya saja." ucap pak Warsi sambil menoleh pada putra sulungnya.


Zahra pun demikian, ia ingin memastikan jika yang di katakan sang bapak benar,


"Ya Allah, kok bisa gitu ya." Zahra kembali tersenyum tidak percaya.


"Siapa ini rencananya namanya?" tanya Bu Narsih kemudian, "Biar mbahnya ini enak kalau manggil."


"Nggak tahu, mas ustad itu buk yang kasih nama. Zahra mah ngikut aja."


"Mazaya, buk panggil aja Aza buk. Nanti nama panjangnya biar Zaki pikirkan lagi." ucap ustad Zaki sambil mengusap lembut pipi putrinya. Ia benar-benar tidak bisa berhenti bersyukur setiap kali menatap wajah cantik putrinya itu, berdoa agar hatinya juga secantik wajahnya.


"Nama yang cantik. Aja." ucap pak warsi yang tak kalah bersyukurnya.


"Aza. Pak, bukan Aja." protes Zahra.


"Kamu biasanya juga di panggil Jahra nggak protes."


Seketika tawa pecah memenuhi ruangan itu.


***


Zahra berdiri di pintu depan, menyalami para tamu yang berpamitan. Hari ini acara selapanan untuk Aza sekalian acara aqiqah.


Ustad Zaki sengaja mengundang para kerabat dan juga para tetangga. Orang tua ustad Zaki juga semenjak Aza lahir belum kembali ke Bandung, rencananya akan kembali setelah acara selapanan ini.

__ADS_1


Ustad Farid juga datang bersama istrinya, Wahid juga tapi ia tidak lama karena harus segera kembali ke Malang.


Hingga akhrinya kini di rumah ustad Zaki tidak keluarga inti dan orang-orang yang mulai membongkar tenda.


Zahra sudah kembali ke kamar karena Aza menangis minta *****. Ustad Zaki memilih duduk di luar sambil mengobrol dengan abinya dan juga pak Warsi sedangkan para wanita memilih membantu membereskan dapur dan ruang tamu yang masih berantakan.


Tapi yang menjadi pertanyaan Zahra, sepanjang acara ia tidak melihat keberadaan Ina sama sekali. Seharusnya jika di hitung dari hari lamaran itu, kakaknya dan ini sudah melangsungkan pernikahan.


"Jah, ini aku taruh di sini ya." sepertinya bukan kebetulan lagi, saat Zahra memikirkan Imron, pria itu muncul sambil menunjukkan sebuah kabel eleran.


"Iya mas, oh ya mas. Zahra mau tanya boleh?"


Pertanyaan Zahra mengurungkan niat Imron untuk kembali pergi, ia pun menghampiri adik juga keponakannya itu. Ia ikut duduk di samping Zahra,


"Mau tanya apa?"


"Ina_?"


"Kami tidak jadi menikah." jawab Imron singkat.


"Ada apa?"


"Yang jelas bukan karena kamu." ucap Imron sambil mengusap puncak kepala adiknya, ia pun berdiri, "Sudah ya, mas nggak enak kalau nggak bantu-bantu. Nanti sambung lagi."


****


Tujuh belas tahun kemudian.


"Aza nggak mau buk ke pesantren."


"Ada kakek sama nenek di sana, lagi pula juga ada Azam dan Azzura juga. Kamu nggak akan kesepian."


"Ibuk nggak sayang ya sama Aza?"


"Justru ibuk sayang makanya ibuk sama ayah suruh kamu ke pesantren."


"Ibuk,"


"Aza, ibuk sudah siapkan tiket. Ayah yang akan mengantar kamu ke bandara."


"Nggak, Aza mau sama paman Amir saja." ucap Aza sambil berlalu meninggalkan Zahra yang hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya yang tengah menahan emosi menghadapi putrinya yang keras kepala.


...SEKIAN...


Ini benar-benar habis ya. Sampai sini bisa kan membayangkan bagaimana kisah Imron dan Aza nanti?


Tetap di nanti ya kisah anak perempuan dari duo Z. Insyaallah nanti kalau sudah rilis akan aku share di sini jadi jangan di unsubscribe dulu ya🙏


Terimakasih karena sudah menemani perjalanan cinta duo Z, semoga kisah-kisah selanjutnya bisa menyamai duo Z.

__ADS_1


Sambil menunggu kisah-kisah lain rilis, bisa nih yang belum mampir di after the divorce segera mampir saja karena sebentar lagi bakal ada kisah baru yang tidak kalah romantis dengan duo Z


Bye bye, sampai jumpa di karya selanjutnya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatu


__ADS_2