Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pulang pengajian 1


__ADS_3

Zahra benar-benar gagal fokus dengan pengajian perdananya, ia bahkan tidak memperhatikan apa yang tengah di sampaikan oleh suaminya, ia malah sibuk memperhatikan bagaimana Imah yang duduk berdampingan dengan ustad Zaki sepanjang pengajian, hal itu membuat hatinya semakin panas apalagi di tambah dengan bisik-bisik para jama'ah yang mengatakan mereka sangat cocok.


Walaupun ia merasa belum mempunya perasaan terhadap suaminya itu tapi tetap saja ia tidak rela jika ada yang mengatakan hal itu, ia merasa berhak atas ustad Zaki.


Hingga acara pengajian pun berakhir, satu persatu jama'ah mulai meninggalkan masjid begitu pun dengan Zahra dan Nur.


Mereka sudah berdiri di teras masjid, umi mengajak Zahra untuk menunggu Abi dan ustad Zaki.


"Jadi kalau satu sekolah?" tanya umi pada Nur.


"Iya umi, kebetulan sejak dari taman kanak-kanak kita sudah satu sekolah!"


"Seneng ya punya teman yang dari kecil sampai besar masih sama-sama, kalian harus akur ya. Nggak usah bertengkar, sesekali boleh berdebat asal tidak usah di masukkan ke dalam hati, ingat bagaimana lamanya kalian berteman!" nasehat umi selalu berhasil membuat Zahra kagum pada wanita bersahaja itu.


"Iya umi," jawab Nur.


Hingga seorang bapak dengan motornya berhenti tepat di depan pagar masjid,


"Umi, itu bapaknya Nur sudah jemput, Nur pulang duluan ya!"


"Iya, hati-hati di jalan!"


"Assalamualaikum!" Nur tidak lupa mencium punggung tangan umi sebelum pergi.


"Waalaikum salam!" jawab umi dan Zahra bersamaan.


Mereka menatap kepergian Nur hingga sepeda motor yang di tumpangi Nur dan bapaknya tidak terlihat lagi,


"Umi suka sama Nur, dia terlihat tulus. Jangan sia-siakan teman yang seperti itu, sayang!" ucap umi tiba-tiba berhasil membuat Zahra menoleh pada umi.

__ADS_1


"Umi tahu nak, walaupun sekali lihat, umi yakin Nur teman yang baik. Umi sudah cukup banyak bertemu dengan orang banyak, umi setidaknya bisa menilai sedikit bagaimana sikap mereka terhadap kita, tulus atau tidak!"


"Termasuk Imah?"


Pertanyaan Zahra berhasil membuat umi tersenyum,


"Kalau menurutmu, bagaimana Imah?"


Sebenarnya Zahra nggak suka sama Imah ..., ucap Zahra dalam hati, ia tidak mungkin mengatakan hal itu pada umi.


"Terkadang apa yang kita pikirkan pertama kali tentang orang itu adalah yang benar! Apalagi jika kita bisa melihat keseharian orang tersebut, jadi pesan umi tetaplah menilai semuanya dengan bijak!"


"Iya, umi!"


Hingga akhirnya Abi yang di tunggu-tunggu datang juga, Abi ternyata datang dengan membawa motor.


"Iya, Zaki minta abi bawa motornya Amir,"


"Trus, Zahra?" umi menoleh pada Zahra, mereka tidak mungkin berboncengan tiga.


"Zaki minta Zahra buat nunguin dia sebentar, nggak pa pa kan nak kalau Abi sama umi duluan?" tanya Abi pada Zahra.


"Nggak pa pa kok, bi. Kalian duluan aja, Zahra nunguin mas_!" hampir saja ia menyebutkan mas ustad, tapi segera ia rem ucapannya, "Mas Zaki!" ucapnya kemudian.


"Ya sudah, kami pulang dulu ya. Nggak usah malam-malam pulangnya!" pesan Abi pada Zahra.


"Iya Abi!"


Akhirnya Abi dan umi benar-benar meninggalkan Zahra. Zahra pun memutusakan untuk kembali duduk dan bersandar pada tiang serambi masjid.

__ADS_1


Satu per satu jamaah meninggalkan masjid, hingga masjid semakin terlihat sepi. Sebagian lampu juga sudah di matikan, tapi ustad Zaki tidak juga menampakkan batang hidungnya.


Sesekali terlihat Zahra menepuk tangannya di depan wajah atau tubuhnya ketika nyamuk mulai mengelilinginya dengan suara berisiknya.


"Mana sih, nggak keluar-keluar!" keluh Zahra, ini sudah jam sebelas malam. Untuk pulang sendiri, ia juga tidak berani, "Tau begini aku pulang dari tadi." keluhnya lagi dengan tangan yang semakin lihai menepuk nyamuk, hingga beberapa kali ia berhasil mengalahkan nyamuk-nyamuk itu.


"Terimakasih ya ustad sudah kasih kesempatan Imah, insyaallah lusa Imah akan datang!"


Zahra begitu mengenali suara itu, Zahra pun segera mengintip dari balik pilar yang menjadi tempatnya bersandar. Terlihat dari tempatnya, ustad Zaki dan Imah tengah berjalan bersama keluar dari dalam masjid bersama beberapa orang lainnya.


Pantesan betah banget di dalam ...


"Ini bukan karena saya, tapi memang kamu berbakat. Berlatih lagi pasti akan semakin bagus!"


"Baik ustad, kalau begitu Imah pulang dulu."


"Pulang sama siapa?" tanya ustad Zaki lagi ketika. menyadari malam sudah begitu larut.


Apa-apaan nih, mau menawari tumpangan? Atau mauengantar pulang. Bagus ya ...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2