
Zaki memang berharap suatu saat bisa mempersunting gadis shalihah seperti Nafis tapi nyatanya Zaki remaja tidak siap dengan hal itu di saat itu, ia memilih menunda jawaban atas lamaran gadis itu hingga ia benar-benar siap untuk menerimanya.
Apalagi semua orang tahu bagaimana dia, jelas saat itu tidak sebanding dengan Nafis yang memang semenjak kecil sudah menjadi gadis yang Sholehah dengan segala kelebihannya.
Seusai Nafis meninggakkannya, Zaki masih betah berlama-lama di tempat itu, ia masih belum menemukan jawaban apapun.
Hingga suara azan ashar membuatnya terbangun dari lamunannya, ia mendarkan pandangannya mencari sumber suara itu, suara yang selalu menggetarkan hatinya.
Sudah lama sekali ia tidak benar-benar berserah pada pemilik kehidupan, tapi hari ini ia malah mencarinya untuk mencari jawaban atas masalahnya.
Seakan ada yang membimbingnya hingga kakinya begitu tertarik untuk berjalan ke arah sumber suara itu, selama ini ia melaksanakan kewajibannya hanya sebagai formalitas saja sebagian seorang muslim, atau mungkin hanya sebagai seorang putra dari pengurus pesantren.
Bahkan ia sering meninggalkan sholatnya saat ia berada di luar pesantren.
Hingga suara panggilan itu seperti mengingatkan dirinya kembali akan jati dirinya yang bukan siapa-siapa di dunia ini salain hambaNya.
Perlahan ia melepas sepatunya dan menaiki tangga teras masjid, melepas jaket dan beberapa asesoris anak motor yang melekat padanya. Meletakkannya begitu saja di lantai.
Ia berjalan perlahan menuju ke tempat wudhu, mulai membasuh anggota wudhuya dengan air,
Ia bersama-sama dengan jamaah lain mulai melaksanakan sholat ashar, tapi kali ini tidak seperti biasanya, setelah sholat usai, ia masih duduk di tempatnya. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini.
Hingga selembar kertas jatuh tepat mengenai kepalanya, tangannya dengan cepat meraih kertas itu, itu adalah brosur pendaftaran sebuah pondok pesantren, entah kenapa melihat nama pesantren itu membuatnya tertarik.
"Maaf dek, nggak sengaja!" ucap seseorang yang tengah berdiri menunduk di sampingnya.
Zaki pun tersenyum, dan melihat banyak brosur di tangan pria itu ia jadi yakin jika pria yang memakai sarung itu sengaja menyebarkan brosur itu ke masjid-masjid,
"Nggak pa pa mas, boleh minta ini satu?" tanyanya kemudian.
"Ohhh silahkan dek, saya tambah lagi ya dek, siapa tahu ada temen-temen adek yang juga berminat!"
"Nggak mas, satu saja."
"Baiklah!"
Setalah pria itu pergi, Zaki pun berpindah duduknya, ia memilih duduk di sudut masjid,
Entah kenapa ia begitu tertarik dengan brosur itu, ia membaca poin demi poin brosur itu. Siapa yang tidak kenal dengan pesantren yang ada di dalam brosur itu, pesantren itu bahkan begitu terkenal hingga ke mancanegara.
***
"Bi, Zaki sudah memutuskannya!" ucapnya tegas pada sang Abi,
"Bagaimana?" abinya yang tengah membaca kitab segera menutupnya dan meletakkannya di atas meja kecil yang ada di sampingnya duduk sedangkan ummi nya tampak masih sibuk dengan catatan belanja untuk besok.
"Zaki akan pergi mondok! Sekalian kuliah di sana." ucapnya dan berhasil membuat kedua orang tuanya tercengang.
"Ke Kairo?" tanya abinya memastikan lagi dan Zaki pun menggelengkan kepalanya.
"Kenapa dan kemana?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Pertama karena Zaki merasa belum pantas menjadi pendamping Nafis dan yang kedua mungkin Allah sengaja mengirim Zaki jauh dari Nafis agar zaki bisa memperbaiki diri. Lalu kemana tujuan Zaki, Zaki akan ke pesantren yang ada di Jawa timur."
"Kenapa Jawa timur?"
"Bukan apa-apa bi, Zaki merasa di sana lebih baik!"
"Baiklah, Abi nggak bisa melakukan apa-apa selain setuju kan!?"
"Terimakasih Abi!"
***
Kini Zaki dan Nafis sudah duduk di bangku yang sama seperti yang mereka duduki kemarin, Nafis terlihat membawa sesuatu di tangannya, itu sebuah visa dan pasport.
"Kamu serius dengan keputusan kamu?" tanya Nafis, tampak matanya berkaca-kaca.
"Insyaallah!"
"Boleh kan aku merindukanmu nanti, sampai saat yang halal itu.?"
"Jangan, jangan menunggu hal yang tidak pasti. Rindu itu sakit apa lagi rindu itu pada orang yang tidak tepat!"
"Tapi insyaallah kamu orang yang tepat bagiku, kamu ijinkan atau tidak, aku akan tetep menyebut namamu di dalam setiap doaku, agar engka di jadikan imamku!"
"Jangan, aku akan berdoa padaNya untuk mencarikan jodoh terbaik buat kamu!"
"Dan aku akan berdoa, jodoh terbaikku itu kamu!"
"Kamu keras kepala!"
"Baiklah, insyaallah jika nanti aku sudah pantas untukmu, aku akan kembali dan aku yang akan melamar kamu!"
"Pasti, aku akan menunggu saat itu tiba!"
"Tapi jika tidak_!"
"Pasti ustad!"
"Di dunia ini tidak ada yang pasti, Nafis. Aku ataupun kamu tidak akan pernah tahu doa siapa yang mematahkan doa siapa! Siapa tahu ada yang lebih kuat doanya hingga doa yang kamu banggakan itu akan terpatahkan!"
Nafis terdiam, ia tidak punya jawaban atas ucapan Zaki. Tapi ia juga tidak mau menyerah untuk mencintai Zaki hingga saat nanti doanya di patahkan oleh doa orang lain.
"Aku akan kembali, ustad Zaki. Dan saat itu aku berharap panantianku tidak akan pernah sia-sia, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
***
Akhirnya mereka sama-sama pergi dengan tujuan yang berbeda tapi dengan niat yang sama, sama-sama ingin memperbaiki diri.
Kisah hidup Zaki di mulai dari Jombang, sebuah pesantren yang akan membesarkan namanya.
__ADS_1
Zaki yang urakan perlahan menjelma menjadi Zaki yang lembut dan Sholeh. Ia nyaris tidak pernah kembali ke rumahnya hanya untuk sesaat, maka kedua orang tuanya yang akan datang menghampirinya.
Empat tahun berlalu, ustad Zaki lulus menjadi mahasiswa terbaik di salah satu universitas di Jawa timur sekaligus santri terbaik. Ia pun melanjutkan pendidikan S2 di universitas yang sama.
"Kamu serius nggak ingin pulang?" tanya umminya.
"Insyaallah nanti saat Hasna menikah, Zaki akan datang ummi!"
"Tapi Nafis juga pulang, loh. Kamu nggak ingin segera melamar Nafis? Ini sudah empat tahun berlalu, nak. Dan dia masih menunggu kamu!"
"Zaki masih merasa belum pantas, ummi! Jika Nafis bukan jodoh Zaki, insyaallah dia akan mendapatkan yang terbaik, ummi dan itu bukan Zaki!"
Benar saja, ia hanya pulang saat adik perempuannya menikah. Adik perempuannya di persunting oleh anak kyai pemilik pesantren juga, jadi setelah menikah ia pun di bawa sang suami,
Ternyata di sana ia memang di pertemukan kembali dengan gadis itu, tapi jawaban ustad Zaki masih sama, ia meminta Nafis untuk bersabar hingga ia lulus S2 dan mendapat gelar magister sama seperti Nafis yang masih akan melanjutkan pendidikannya.
"Jika saja kamu sudah puas dengan gelar S1 kamu, aku akan mempertimbangkan untuk menikah dengan kamu saat ini,"
"Kenapa? Kita bisa menikah dan sama-sama melanjutkan pernikahan!"
"Aku takut, aku tidak bisa memalukan dua hal dalam waktu bersamaa. Dan jika kita menikah sekarang, aku takut akan menghalangi mimpi kamu, jadi lebih baik menunggu hingga aku yakin untuk menikah, tapi jika di masa penantian itu dan kamu menemukan yang terbaik dan itu bukan aku, maka menikahlah!"
"Aku tidak akan menikah sampai kamu menikah lebih dulu, jika memang kamu bukan jodohku!"
"Jangan mendahului takdir Allah, Nafis!"
"Tidak, aku hanya ingin berkeras kepala pada Allah tentang permintaanku!"
Akhrinya mereka pun kembali memutuskan untuk melanjutkan pendidikan nya masing-masing.
Selain menjadi santri dan mahasiswa, ustad Zaki juga memulai bisnis kecil-kecilan dengan membuka sebuah kedai lalapan,
Setelah melalui proses yang panjang, mulai dari membuka warung tenda di depan kampus sembari kuliah, memasak sendiri lalapannya hingga ia bisa membayar satu, dua orang untuk membantunya.
Perlahan tapi pasti, ustad Zaki mulai menyewa tempat sebelum sebuah kedai miliknya sendiri terbeli.
Sepertinya takdir membawanya ke kota kecil yang bernama Blitar, setelah lulus S2 kedainya mulai berkembang, ia sudah bisa membuka dua kedai di Jombang, hasilnya lumayan untuk biaya hidup dan kuliahnya yang akan berlanjut ke S3, ia di tawari lokasi untuk membuka cabang di sana dengan harga tanah yang lumayan murah. dan di saat yang bersamaan, pengasuh pesantren menawarinya untuk mengabdikan diri di salah satu kampug di Blitar.
Tanpa pikir panjang, ia pun setuju. Ia datang ke Blitar untuk membuka kedai baru di sana, dan di sana lah kedai-kedai lain di seluruh Indonesia tersebar.
Penampakannya yang bersahaja dan sederhana, memang tidak ada yang akan mengira jika ia seorang owner dari berpuluh kedai lalapan yang ada di Indonesia.
Meskipun punya mobil, ia bahkan lebih nyaman kemana-mana dengan motor bututnya, bahkan untuk tingga, ia tidak pernah berpikir untuk membeli rumah mewah atau menyewa apartemen, ia lebih memilih tinggal di tempat yang sama dengan yang di tinggali marbot.
Karyawannya sudah ratusan, ia juga selalu mempercayakan pengelolaan kedai pada orang kepercayaannya dan beberapa dari mereka teman sesama santri. Ia sengaja membuka lowongan pekerjaan untuk para santri yang berminat bekerja tapi juga tidak menutup kesempatan untuk orang luar.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang , banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.aji5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...