Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Apa password nya?


__ADS_3

Assalamualaikum!" suara salam itu berhasil membuat Zahra terkejut hingga ia menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya itu.


Blekkkk


Seketika tatapan mereka berdua fokus pada ponsel yang jatuh ke lantai itu.


"Wa_ waalaikum salam!" Zahra pun dengan cepat berdiri dan mengambil ponsel yang jatuh itu.


"Maaf mas sudah ngagetin dek Zahra, tadi mas sudah salam berkali-kali tapi nggak ada jawaban, mas kira dek Zahra tidur di sini!" ucap ustad Zaki sambil berjalan mendekati Zahra.


"Tadi, tadi Zahra nggak sengaja nemuin ini di sini!" ucapnya sambil menunjukkan benda pipih di tangannya, "Tapi Zahra nggak lihat apa-apa kok, kan mas ustad kunci!"


Ustad Zaki pun tersenyum seperti biasanya, ia selalu saja tenang tanpa emosi sedikitpun. Ia menarik tangan Zahra dengan lembut dan mengajaknya duduk di sofa yang sama.


Zahra pun mengembalikan benda pipih itu pada pemiliknya tapi segera ustad Zaki menolaknya,


"Kalau dek Zahra pengen lihat isinya, nggak pa pa dek Zahra buka aja!"


Zahra mengerutkan keningnya dan kembali memperhatikan ekspresi wajah sang suami, memastikan jika suaminya tidak sedang marah padanya.


"Yakin?" tanya Zahra memastikan.


"Hmmm! Mas akan jawab apapun yang dek Zahra tanyakan! Insyaallah tidak ada yang mas sembunyikan!"


"Memang apa password nya? Kan nggak bisa di buka!" tanya Zahra sambil mengeringkan matanya berkali-kali.


Sekali lagi ustad Zaki tersenyum dan mengusap kepala Zahra,


"Hari ulang tahun kamu!"


"Ulang tahunku?" Zahra mengerutkan keningnya tidak percaya, Memang dia tahu tanggal ulang tahun ku?


"Hmm!"


"Memang tahu?" aku aja nggak tahu kapan dia ulang tahun, lanjutnya dalam batin.


"Coba aja!"


Setelah mendapat ijin dari pemilik hp, Zahra pun segera mematahkan pola itu dengan tanggal lahirnya dan rupanya benar, kuncinya terbuka.


Ini serius ..., Zahra malah dibuat terkejut sendiri.


Ia pun segera berselancar di ponsel itu, mencari sesuatu yang mencurigakan, tapi nyatanya tidak ada karena sebagian besar kontaknya hanya nomor-nomor yang tidak ia kenal dan semuanya bicara dengan begitu formal di laman pesan. Hanya beberapa yang ia kenal tapi tidak terlalu penting, sepertinya memang ponsel ini di khususkan untuk bekerja, bahkan di galeri ponselnya tidak ada foto apapun selain beberapa screenshot berkas yang apabila Zahra baca pun tidak akan mengerti.

__ADS_1


Membosankan sekali ponsel ini, aku kira dia punya koleksi film-film panas di sini ..., batin Zahra sambil tersenyum sendiri membayangkan pria di depannya bahkan tidak punya koleksi film panas tidak seperti teman-teman laki-laki nya. Mereka setiap kali bertemu selalu membicarakan film panas terbaru, dan dia hanya akan menutup telinganya dengan headset.


"Nih, aku kembalikan!" ucap Zahra setelah puas berselancar dengan benda pipih itu sambil meletakkan ponsel itu di tangan sang suami.


"Kalau dek Zahra mau, dek Zahra bisa bawa ponsel ini."


"Nggak ah!"


"Memang tidak ada yang ingin dek Zahra tanyakan?" tanya ustad Zaki merasa heran karena sudah setengah jam lebih istrinya memeriksa ponselnya tapi tidak menanyakan apapun.


"Nggak ah, ponselnya mas ustad membosankan, nggak ada yang asik!"


"Nggak ingin tanya soal siapa gitu, kan di kontak itu ada nama beberapa wanita!"


"Nggak ah, nggak ada indikasi pelakor!"


"Syukurlah kalau dek Zahra percaya sama mas. Oh iya, besok bagaimana kalau kita jalan-jalan?"


"Jalan-jalan?" Zahra tampak sumringah mendengar kata jalan-jalan.


"Hmmm!"


"Mau!" jawab Zahra begitu bersemangat.


"Tapi nanti malam datang ya di acara sholawat!?" ucap ustad Zaki memberi syarat.


"Nggak jadi jalan-jalannya!"


"Kok gitu sih!?" protes Zahra dan ustad Zaki hanya tersenyum melihat sang istri sudah mulai cerewet lagi.


***


Zahra datang bersama dengan Nur, ustad Zaki sengaja meminta Nur untuk menjemput Zahra karena ia tidak bisa pulang dulu, ia di minta para pemuka masyarakat untuk menyambut tamu hingga ia tidak bisa meninggalkan tempat acara.


Kini Zahra dan Nur sudah menggelar tikar untuk mereka duduk bersama jamaah yang lain, sepertinya jama'ah yang datang kali ini bukan hanya dari kampung mereka saja, bahkan dari luar kampung mereka, bahkan ada yang lintas kecamatan juga ada hingga halaman masjid penuh dengan para jama'ah bahkan sampai ke jalan-jalan dan juga teras rumah orang.


"Mas ustad mana ya?" tanya Zahra sambil mengedarkan pandangannya, tapi ternyata cukup sulit menemukan suaminya di tempat yang begitu ramai seperti ini.


"Nanti juga lihat!" jawab Nur dengan santainya.


"Sekaranga aja nggak keliatan apalagi nanti!"


"Sabar!"

__ADS_1


Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang, group sholawat langsung di sambut oleh para jamaah dan di amanankan oleh para Banser hingga mereka sampai di panggung.


Dan benar saja apa yang di katakan Nur, ustad Zaki rupanya di minta untuk duduk bersama mereka dan bersenandung, suaranya tidak kalah merdu dengan rombongan sholawat lainnya.


Subhanallah..., merdu sekali suara mas ustad, baru tahu aku kalau suaranya sebagus itu ...


Zahra benar-benar dibuat terkesima dengan penampilan sang suami, hingga acara selesai pun Zahra tidak hentinya memuji suara sang suami.


Satu per satu jama'ah meninggalkan tempat itu hingga tersisa beberapa orang saja, Nur juga sudah lebih dulu meninggalkan Zahra karena ustad Zaki sudah berjanji untuk pulang bersama Zahra.


Hingga akhirnya setelah tinggal segelintir orang, barulah ustad Zaki muncul,


"Lama sekali sih, Zahra kan capek nunggunya!" protes Zahra sambil memegangi kakinya yang kesemutan karena terlalu lama ia buat untuk jongkok.


"Maaf dek, mas tadi masih_!"


"Sudah ah, nggak usah banyak alasan. Zahra mau cepet Sampek rumah trus tidur!"


"Nanti biar mas pijit ya kakinya!" ucap ustad Zaki sambil membantu Zahra berdiri.


"Ya harus dong, dan lagi ada satu syarat lagi!" Zahra menggunakan kesempatan itu untuk memeras sang suami.


"Apa?"


"Mas ustad harus melantunkan sholat sepeti tadi setiap Zahra mau tidur!"


"Tapi dek_!"


"Nggak ada ya tapi-tapi, pokoknya harus iya, mengerti!?"


"Baiklah"


Ustad Zaki pun segara berjongkok di depan Zahra,


"Ada apa?"


"Aku akan sangat berdosa jika membuatkan dek Zahra berjalan sendiri,"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2