
...Jika gelap ini menutup pandanganku pada dunia maka taburan bintang membukakan sisi lain dari dunia yang tidak bisa aku lihat sebelumnya dan saat itu aku sadar bahwa tidak ada hal yang tercipta di dunia ini tanpa sebab dan tidak ada hal di dunia ini berjalan tanpa makna, biarlah apa yang menjadi kehendak-Nya berjalan semestinya dan kita berjalan bersama perputaran gelap dan terangnya dunia hingga kita tahu bahwa hidup tidak hanya soal terang tapi ada sisi gelap yang harus kita lalui juga....
...***...
"Assalamualaikum!?" sapaan dari luar nyatanya tidak mampu mengalihkan perhatian wanita itu dari balkon sebelah, membuat si pemilik suara terpaksa masuk meskipun belum mendapatkan jawaban.
Ia meletakkan gelas yang berisi susu coklat panas di atas meja dan berjalan perlahan mendekati sang istri yang tengah berdiri di luar kamar, di atas balkon yang ada di depan kamarnya yang berada di lantai dua sebuah rumah sederhana yang menjadi saksi ia tumbuh besar dulu,
"Serius amet dek, lagi lihatin apa?" tanyanya sambil memeluk pinggang sang istri dari belakang, ia sengaja menyandarkan dagunya ke bahu sang istri yang terlihat sedikit terkejut dengan kedatangannya.
"Kok nggak kasih salam sih mas!?" protes sang istri dan dia pun tersenyum,
"Tadi sudah, cuma kayaknya dek Zahra sangat fokus pada sesuatu hingga tidak mendengarkan salam dari mas!"
"Masak sih!?" bahkan sang istri tidak percaya, "Maaf deh, tapi beneran nggak krungu (dengar)!"
"Iya, mas percaya kok. Lagi lihatin apa sih, serius banget Sampek salam dari mas nggak dengar?" tanyanya lagi sambil meninggalkan ciuman di pipi sang istri.
"Itu mas!?" sang istri menunjuk ke balkon sebelah, balkon yang ada di seberang rumah mereka, membuatnya tertarik untuk melihat ke sebelah sana dan benar saja ternyata ada seorang wanita yang tengah duduk di atas balkon sambil memegang sebuah buku, sepertinya ia tengah serius membaca buku hingga tidak menyadari keberadaan mereka.
"Kayaknya Zahra kenal deh mas, siapa ya? Zahra nih suka susah ngjnget nama orang!?" keluh Zahra yang agak payah soal mengingat nama seseorang.
Ustad Zaki terdiam, ia tahu siapa wanita itu,
"Kenapa begitu penasaran dek?"
"Ya kan wajahnya nggak asing mas, siapa tahu orang sekampung Zahra. Mas tahu sendiri kan kalau Zahra nih nggak begitu mengenal orang-orang di kampung zahra, cuma tau orangnya aja tapi sering nggak kenal namanya."
"Bukan dek, dia asli sini!?"
"Ahhhh yang bener!?"
__ADS_1
"Iya, dia ustadzah Nafis!?"
Mendengar nama ustadzah Nafis, Zahra dengan cepat membalik tubuhnya membuat ustad Zaki meregangkan tangannya yang melingkar di perut Zahra,
"Serius mas? Iki nggak ngapusi to mas (Ini tidak bohong kan mas)?" tanya Zahra tidak percaya.
"Iya dek, dia benar ustadzah Nafis yang kemarin sama-sama ngisi acara di seminar!"
"Aduh, gimana ini mas, gimana??" Zahra malah berputar-putar tidak jelas, tampak wajahnya begitu cemas,
"Ini gimana mas?"
"Gimana apanya dek?"
"Bukunya ustadzah Nafis ketinggalan!"
"Lohhh, memang dek Zahra pernah ketemu sama ustadzah Nafis?" tanya ustad Zaki penasaran, pasalnya baru kali ini ia mengajak istrinya itu pulang ke kampung halamannya, atau mungkin ustadzah Nafis yang ke Blitar dan dia tidak tahu.
Ustad Zaki begitu mencermati cerita istrinya,
Apa itu kisah kita?
"Mas, kok malah bengong sih?"
"Ya udah kalau gitu besok mas akan ke toko buku!"
"Buat apa mas?"
"Cari buku yang sama, biar dek Zahra bisa minta tanda tangan, maaf ya kemarin mas lupa mintain dek Zahra tanda tangan!"
Rupanya ustad Zaki masih ingat dengan permintaan istrinya beberapa Minggu lalu.
__ADS_1
"Ihhhhh, baik banget sih mas. Tapi Zahra nggak berani temuin ustadzah Nafis sendiri!"
"Besok mas temenin, sekarang sudah malam, kita tidur ya. Nggak baik malam-malam di luar!" ustad Zaki segera merangkul bahu Zahra dan membawanya masuk ke dalam kamar tidak lupa ia juga menutup dan mengunci dulu pintu kamarnya , tapi sebelum itu ia sempat menatap ke seberang dan rupanya wanita itu juga tengah menatap ke arahnya, entah sedari tadi atau memang baru saja tapi tatapan mereka sepertinya saling bertemu. Dengan cepat ustad Zaki menutup jendela kamarnya dan menyusul sang istri yang sudah lebih dulu duduk di atas tempat tidur.
Ia segera mengambilkan segelas susu coklat yang sudah mulai kehilangan asapnya, sepertinya memang sudah agak dingin,
"Agak dingin dek, atau biar mas buatkan lagi!?" hampir saja ustad Zaki mengurungkan niatnya untuk memberikannya pada sang istri tapi segera ditahan oleh Zahra,
"Nggak usah mas, lagi pula Zahra nih masuk apa aja, mau panas, mau hangat, mau dingin, Zahra tetep suka!" ucapnya lalu meraih gelas yang ada di tangan sang suami dan meneguk isinya hingga habis tak bersisa,
"Gini beres kan? Sudah tidur aja, Zahra pengen di temenin nggak usah wira Wiri terus!?" keluh Zahra karena sedari tadi suaminya malah sibuk sendiri mempersiapkan ini itu, Zahra menepuk tempat kosong di sampingnya dan ustad Zaki pun menurutinya, ia segera naik ke atas tempat tidur setelah meletakkan kembali gelas kosong di atas meja.
Ia duduk di samping Zahra dan dengan cepat Zahra meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang suami,
"Usap kepala Zahra sampai Zahra tertidur ya mas, pengen di elus!?" ucapnya manja.
"Lebih juga boleh!?" ucap ustad Zaki dan langsung mendapat tatapan tajam dari Zahra,
"Nggak usah macam-macam ya mas, Zahra lagi ngantuk!"
"Enggak kok dek, mas hanya becanda. Sudah tidurlah, mas akan elus kepala dek Zahra sampai dek Zahra tertidur!?"
Ya Allah berilah kekuatan untuk hamba agar tetap bisa menjaga keutuhan rumah tanggaku, menjaga hubungan ini dan menjaga wanita yang Engkau pilihkan untukku ...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...