Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Acara sekolah


__ADS_3

Pagi ini Zahra sudah bersiap-siap pergi ke sekolah, tapi ada yang beda karena ustad Zaki hari ini juga akan datang ke sekolah Zahra.


Penampilan Zahra juga tampak beda dengan seragam barunya, meskipun tidak memakai jilbab setidaknya ia sudah sedikit anggun dengan seragam serba panjangnya.


"Ini bagus ya?" tanyanya pada sang suami. Tapi karena belum terbiasa ia merasa aneh dengan seragam barunya itu.


"Bagus, apalagi kalau_!" ucapnya ustad Zaki tapi segera ia potong karena ia sudah tahu apa kelanjutannya.


"Tahu, itu nanti aja!" ucapnya, rasanya ia belum siap untuk mengenakan hijab. Ia berharap suatu saat nanti, saat ia sudah benar-benar siap, ia akan mengenakan bukan karena siapapun kecuali karena Allah.


"Ya sudah, sudah siap kan? Ayo berangkat!"


Seperti biasa mereka berboncengan menggunakan motor. Ustad Zaki tidak mungkin menggunakan mobilnya, takut jika sampai Zahra tidak nyaman. Tapi kali ini ada yang beda, ia tidak perlu membawakan kain penutup untuk kaki zahra. Rok panjang Zahra cukup melindungi kakinya.


"Memang nggak pa pa berangkatnya barengan sama Zahra? Kan pasti nanti acaranya belum mulai!" Zahra sebenarnya begitu keberatan membayangkan suaminya akan jadi pusat perhatian teman-temannya di sekolah.


"Nggak pa pa, lagi pula mas kan bisa ngobrol-ngobrol dulu sama guru-guru kamu!"


"Maksudnya Bu Chusna?" Zahra langsung menebaknya, ia benar-benar tidak suka jika suaminya sampai mengobrol dengan wali kelasnya itu.


"Iya mungkin, kan mas cuma kenal Bu Chusna!"


Pasti nih ntar Bu Chusna curi kesempatan ..., batin Zahra tidak suka.


"Lebih baik jangan deh, begini aja deh. Mas ustad kemana dulu gitu setelah nganter Zahra!" ucapnya berusaha untuk mencari alasan.


"Memang kenapa dek?"


"Nggak pa pa,"


"Tapi mas sudah membatalkan semua acara pagi ini demi ke sekolah kamu!"


Sok sibuk banget sih jadi orang, heran aku ....


"Ooh iya Zahra kan kebetulan Zahra sudah punya seragam panjang, tapi belum punya jilbabnya, Pumpung pagi di aneka seragam kan nggak antri mas, bisa lah belikan jilbabnya!"


"Ini serius?" ustad Zaki begitu antusias mendengarkan ucapan Zahra.


"Iya, kan siapa tahu Zahra dapat pencerahan setelah dengar ceramahnya mas ustad nanti!"


Akhirnya setelah menurunkan Zahra di depan sekolah, ustad Zaki pun memutuskan untuk pergi ke toko anka seragam untuk mencarikan jilbab seragam untuk Zahra.


Zahra juga merasa lega, karena setidaknya ustad Zaki tidak akan berlama-lama dengan Bu chusna yang memang menaruh perasaan pada suaminya.


"Nur," sapanya pada Nur saat baru masuk ke dalam kelas, nur yang melihat penampilan baru Zahra segera menghampirinya dan mengelilingi Zahra yang tengah berdiri,


"Ada apa sih Nur?" tanyanya penasaran dengan sikap Nur.


"Ya Allah, Zahra! Ini benar-benar penampilan yang luar biasa!"


"Biasa aja kali nur, kayaknya malah terlihat aneh. Anak-anak satu sekolah sedari tadi ngeliatin aku terus!"


"Ya iya lah, biasanya kamu pakek rok kurang bahan dan sekarang tiba-tiba_, ada angin apa ini!"


"Nuuuuuur! Aku nggak suka ya!"


"Tapi aku suka, akhirnya teman aku ini bisa berubah juga!"


"Sialan!"


"Kok sialan sih, Alhamdulillah Zah!"


"Terserah kamu lah!"


Mereka pun akhirnya kembali duduk,


"Ehhh kemarin di Carikan Bayu loh, katanya kalau ketemu di Surabaya!?"


"Iya, nggak tahu kenapa tuh anak sampai di Surabaya!"


"Gimana sih kamu, sudah pacaran dua tahu masih belum tahu. Kakaknya Bayu kan punya usaha di Surabaya!"


"Ohhhh!"

__ADS_1


"Kamu sudah jujur sama.Bayu tentang hubunganmu dengan ustad Zaki?"


"Belum!"


"Kenapa?"


"Belum ada waktu Nur!"


"Kalau nggak di sempetin nggak bakalan sempet, jangan sampai Bayu semakin marah sama kamu kalau di sampai tahu dari orang lain Zah!"


"Iya, nanti!"


"Jangan di tunda!"


"Iya, bawel ih, lagi pula hari ini pasti dia nggak masuk kan?" ucapnya dengan begitu yakin, biasanya dia pun juga akan bolos jika ada acara sekolah seperti ini, ia tahu di mana Bayu saat ini tengah nongkrong karena tempat itu menjadi tempat favorit mereka.


"Ya iya lah, takut kebakar dia kalau ikut pengajian!"


Mereka terdiam sejenak hingga kembali Zahra bertanya pada Nur.


"Hari ini sibuk nggak?"


"Lumayan sih, mau ke mushola sekolah soalnya dapet tugas menata mushola sebelum acara di mulai!" Nur benar-benar aktif di segala kegiatan, ia mengikuti apapun kegiatan itu.


"Padahal aku pengen curhat!" ucap Zahra dengan. wajah parahnya.


"Yahhh, gimana dong. Atau kalau enggak tunggu sampai acara selesai!" Nur memberi saran, ia juga merasa tidak enak mengabaikan temannya itu.


"Aku kan pasti di ajak pulang sama mas ustad!"


"Trus gimana dong?"


"Boleh ikut nggak?"


Nur mengerutkan keningnya, ia tidak percaya Zahra akan ikut dengannya.


"Boleh, ayo!"


"Tadi ikut, mau bicara apa?" tanya nur saat melihat suasana masih sepi, beberapa panitia lainnya tengah mempersiapkan Snack dan yang lainnya.


"Nur, aku sudah nggak perawan!" bisiknya di telinga Nur agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Hahhhhh!?" Nur sampai teriak di buatnya.


"Jangan kencang-kencang!" Zahra dengan cepat membekap mulut Nur agar tidak semakin memancing anak-anak lain mendekat.


"Maaf, maaf, aku terkejut! Maksudnya kalian, kamu dan ustad Zaki sudah MP, di mana?"


"Iya, di hotel."


"Gimana rasanya?" Nur tampak begitu penasaran sampai ia menjatuhkan karpetnya,


"Nggak tahu!"


"Kok bisa nggak tahu sih?"


"Soalnya memang nggak ada rasanya!"


"Hahhh, nggak mungkin!"


"Kamu nggak percaya?"


"Bukannya gitu, pasti ada rasanya!"


"Lihat, ini buktinya!" Zahra memperlihatkan jejak kepemilikan yang di buat oleh suaminya yang sudah hampir memudar,


"Wahhhh, iya! Ya Allah, otak mesumku langsung berlari an! Tapi bukan itu deh kayaknya yang di maksud?"


"Yang mana?"


"Bagian intim kamu sakit nggak?" bisik Nur.


"Memang sakit ya kalau habis MP itu?" tanya Zahra polos.

__ADS_1


"Kalau menurut buku yang aku baca, biasanya cewek akan merasakan sakit yang luar biasa di bagian intim karena robekan selaput dara!"


"Tapi aku nggak ngerasain apa-apa tuh!?"


"Gini deh, pas kamu bangun, kamu lihat sprei ada bercak darah nggak?"


Zahra tampak kembali mengingat dan sepertinya ia tidak melihat hal itu,


Zahra pun segera menggelengkan kepalanya.


"Berarti belum, zah!"


"Tapi kata mas ustad sudah!"


"Kamu tanyain lagi deh, atau mungkin ada yang terlewat dari yang aku baca!"


"Ihhh kamu kenapa bacanya begituan?"


"Di salah satu kita ada yang bahas kayak gitu, zah!"


"Emang iya?"


"Tanya saja sama ustad Zaki!"


"Jadi mas ustad ngajarnya gituan juga?"


"Iya lah, ada bab tentang hubungan suami istri, nifas, haid dan masih banyak lagi namanya kitab_!" nur tampak berpikir tapi sepertinya ia lupa judulnya, "Aahhh aku lupa!"


"Ihhh, aku penasaran!"


Pantas banget dia lihai dalam hal begituan ....


"Makanya ikutan ngaji ba'dha magrib, asyik kok ngajinya. Ustadnya juga bukan hanya ustad Zaki!"


"Ya bener?"


"Iya!"


"Tapi setiap hari mas ustad ke masjid?"


"Kan ada tiga kelas, jadi bisa ngajar di kelas sebelah juga! Nggak usah negatif thinking sama suami!"


"Husstttt, jangan keras-keras kalau bicara soal suami!"


"Maaf, maaf lupa!"


NB :


Sedikit wawasan aja, kemarin yang nggak tahu tentang tempe menjes ya



ini penampakan setelah di goreng, sedangkan ini,



Penampakan mentahnya ,


Tempe gembus adalah salah satu makanan tradisional yang merupakan hasil fermentasi ampas tahu.


Tempe gembus belum dikenal orang sebelum terjadinya perang dunia kedua dan baru mulai dimakan penduduk di Jawa sekitar tahun 1943 ketika persediaan makanan di perdesaan mulai menipis.


Ampas tahu, yakni sisa bahan padat dari proses pengolahan kedelai menjadi tahu, umumnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan atau untuk membersihkan lantai rumah. Di Banyuwangi tempe ini juga dikenal dengan nama témpé gajès; sedangkan di Jawa timur termasuk Blitar sebutannya adalah tempe menjes.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2