
Setelah membantu sang umi, ustad Zaki bergegas ke kamar, ia berharap bisa melanjutkan apa yang hampir saja terjadi,
"Assalamualaikum!" tidak ada jawaban dari dalam kamar, perlahan ustad Zaki pun membuka pintu.
Hehhhhhh ....
Sebuah helaan nafas reflek keluar dari mulutnya mana kala melihat Zahra yang sudah tertidur pulas di balik selimutnya.
"Yahhh, gagal!" gumamnya pelan sambil mendekati Zahra.
Ia segera duduk di sisi tempat tidur,
"Dek!?" tangannya menggoyang pelan tubuh mungil Zahra, tapi percuma karena sudah terlihat nafas teratur dari wanita yang telah resmi ia nikahi itu.
Akhirnya ustad Zaki pun memutusakan untuk menyusulnya tidur.
***
Ini hari libur, Zahra terlihat sibuk di dapur bersama umi. Umi begitu telaten mengajari Zahra, walaupun Zahra hanya bisa mengupas bawang atau memotong wortel.
Mereka tengah memasak untuk makan siang.
Ustad Zaki dan abinya tengah pergi, mereka sedang ada urusan di luar.
"Zaki itu enak kok orangnya, dia nggak macem-macem mintanya. Jadi jangan khawatir!" ucap umi sambil menumis beberapa sayuran di dalam wajan.
"Tetap saja umi, Zahra bahkan motong bawang aja sambil nangis!" keluh Zahra,
Umi tersenyum dan mengusap bahu menantunya itu,
"Justru itu yang jadi nilai plus buat kamu, Zaki sayang banget sama kamu karena kamu begitu membutuhkannya. Zaki pinter masak, jadi jangan khawatir!"
Umi ini dari tadi minta aku jangan khawatir aja ...., batin Zahra heran.
"Assalamualaikum!" suara salam.terdengar dari luar rumah membuat kegiatan Zahra dan umi terhenti.
"Ada tamu kayaknya!" ucap umi.
"Biar Zahra saja umi yang buka pintu!"
Zahra pun segera melepas clemeknya dan berjalan cepat menuju ke pintu,
"Waalaikum salam!" ucapnya begitu membuka pintu, tapi segera ia terhenyak ketika melihat siapa yang datang.
"Siang Zahra!"
"Mbak Imah!" ucap Zahra terkejut, "Ngapain ke sini?"
"Maaf ganggu kamu, uminya ustad Zaki ada?"
"Ada, tapi dia sedang_!" Zahra bingung harus bicara apa. Ia jelas tidak terlalu suka dnahan kedatangan Imah di rumahnya.
"Boleh nggak aku masuk? Aku sudah janjian sama umi kemarin!"
"Hahhh?"
Umi yang mendengar Zahra tengah berbincang dengan seseorang pun akhirnya bertanya,
__ADS_1
"Siapa Zahra tamunya?" tanyanya pada Zahra tapi Imah segera menyahutnya.
"Ini Imah umi!"
"Masuk, Imah!"
Imah pun segera menerobos tubuh Zahra begitu saja.
Jadi umi sama Imah sudah pernah bertemu, tapi kapan? Apa kemarin? batin Zahra sambil menatap punggung Imah yang semakin berlalu.
Zahra pun terpaksa menyusul Imah menghampiri umi.
"Assalamualaikum umi, lagi masak apa?" sapa Imah dengan begitu manis.
Ya ampun, cari muka sekali nih anak. batin Zahra kesal, ingin sekali menarik jilbab panjangnya itu agar kapok tapi ada umi di sana.
Enak aja main masuk rumah orang, awas aja kalau nanti nggak ada umi, jangan harap bisa masuk sembarangan rumah orang.
"Waalaikum salam, ini umi.lagi masak tumis kangkung, ayam tepung sama sambal terasi."
"Wah aromanya menggoda umi!"
"Biasa aja, cuma masakan seperti ini juga!"
"Oh iya umi, Imah sengaja ke sini bawain umi sayur tewel"
"Sayur tewel? Umi suka nih sayur tewel!"
"Kebetulan Imah sendiri yang masak tadi, coba di cicipi umi!" Imah terlihat membuka rantangnya dan mengambil sendok seperti di rumahnya sendiri.
"Gimana umi?"
"Enak!" umi pun segera menoleh pada Zahra yang masih diam di tempatnya, "Zahra, sini!"
Zahra pun segera mendekat,
"Iya umi!"
"Kamu coba deh!" umi menyuapkan sayur yang di bawa Imah pada Zahra, "Gimana?"
"Lumayan sih umi, tapi Zahra nggak suka ini terlalu pedas!" ucap Zahra sambil melirik pada Imah.
"Memang sedikit pedas sih!" ucap umi kemudian.
"Kok sepi umi, ustad Zaki kemana?" tanya Imah mengalihkan pembicaraan.
"Lagi ada keperluan di luar sama abinya!"
"Ohhhh!"
"Zahra, tolong bantu umi menata semuanya di meja ya!" perintah umi pada Zahra.
"Iya umi!"
"Biar Imah bantu ya, umi!"
"Nggak usah, kamu kan tamu di sini. Akan lebih baik jika kamu duduk saja di sana, ini rumah Zahra!"
__ADS_1
Zahra tersenyum puas mendengar ucapan umi.
Hingga ia selesai menyiapkan makanan di atas meja, Abi dan ustad Zaki pulang.
"Assalamualaikum!" sapa Ustad Zaki dan Abi.
"Waalaikum salam!" jawab Zahra, ia segera mengulurkan tangannya pada ustad Zaki dan mencium punggung tangan suaminya.
"Umi kamu di mana?" tanya abi.
"Ada di dapur, Abi!" jawab Zahra yang juga menyalami abinya.
"Sudah kangen aja sama umi!" goda ustad Zaki.
"Kayak kamu enggak! Jalan aja cepet-cepet, jangan di kira Abi nggak tahu." Abi membalas godaan ustad Zaki.
Tapi saat hendak menyusul ke dapur, Abi terkejut saat melihat ada orang lain yang berjalan bersama umi,
"Umi, ini siapa?" tanyanya. Tapi belum sampai umi menjawab ternyata ustad Zaki tidak kalah terkejut.
"Imah!?"
Abi pun menoleh pada ustad Zaki,
"Assalamualaikum kyai!" sapa Imah kemudian.
"Waalaikum salam!"
"Saya Imah, kyai. Saya rekan mengajar ustad Zaki!"
"Ohhhh, ayo duduk duduk, kita makan bersama!" akhirnya Abi pun mengajak Imah untuk ikut bergabung dengan mereka makan siang.
"Jadi kamu lulusan pondok?"
"Iya kyai, kebetulan sekarang sedang kuliah!"
"Hebat kamu, kuliah jurusan apa?"
"Tarbiyah, kyai!"
"Memang sudah cita-cita jadi ustadzah?"
"Insyaallah begitu, kyai!"
Ustad Zaki terlihat sibuk memandangi Zahra, ia berharap Zahra tidak tersinggung dengan ucapan abinya. Ia pun menggengam tangan Zahra yang berada di atas meja dan memberi senyuman termanisnya.
Hal itu membuat Imah sedikit kesal, ia merasa cemburu dengan Zahra.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1