Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
bonschap 13


__ADS_3

Ustad Zaki baru saja kembali dari masjid, sedangkan Zahra memilih pulang lebih dulu dengan Nur.


"Assalamualaikum ," sapa ustad Zaki yang tengah berjalan menghampiri sang istri yang tengah mengaduk susu hangatnya,


"Waalaikum salam," jawab Zahra ketus tanpa berniat menatap kedatangan sang suami.


Dan masih seperti biasa, sepertinya ambekan Zahra sudah menjadi makanan sehari-hari bagi ustad Zaki, ia seakan tidak merasa jika saat ini sang istri tengah merajut, ia pun masih berjalan menghampiri sang istri dan meninggalkan kecupan di kening sang istri,


"Kok tadi nggak bilang sih dek kalau pulang dulu, untuk Amir lihat jadi mas nggak sampai cari-cari dek Zahra,


"Nggak sempat tadi," ucap zahra sambil berlalu dan duduk di kursi yang ada di samping meja makan dan ustad Zaki pun masih membuntutinya, ia mengambil s atau kursi lagi dan menggesernya agar dekat dengan sang istri.


"Jadi pengen minum kopi," ucapnya sambil mengedarkan pandangannya ke arah lain, meskipun ngambek Zahra tidak pernah melupakan kopi untuk sang suami.


Benar saja, tangan Zahra langsung otomatis membuka tudung saji di depannya lalu mengeluarkan secangkir kopi yang masih terlihat mengepul asapnya dan menggeser ke arah sang suami,


Bilang aja sudah mencium aroma kopi, pakek basa basi lagi ..., batin Zahra yang masih sangat kesal.


"Makasih sayangku!?" ucap ustad Zaki sambil menampakkan wajah yang sengaja di imut-imut kan.


"Nggak pantes, lebay."


Mendapat tanggapan ketus dari Zahra, ustad Zaki malah tersenyum dan menyeruput kopinya sambil memejamkan matanya seolah tengah menikmati kenikmatan kopi yang luar biasa,


"Kenapa tidak ada kopi yang lebih enak dari ini ya," ucapnya setelah kembali membuka matanya sambil mengedipkan matanya pada Zahra.


Zahra mencebirkan bibirnya kemudian memilih menikmati susu hangatnya yang sudah mulai dingin.


Kemudian Zahra teringat sesuatu, ia pun segera menoleh kepada sang suami yang terlihat begitu santai menikmati kopinya seperti biasa,


"Nggak mules tuh perut!?" tanya Zahra memastikan, pasalnya tidak mungkin jika suaminya itu membuang sambal yang sudah ia beli,


"Emmmm, ....," tampak ustad Zaki ragu untuk menjawabnya.


Flashback on


Ustad Zaki memastikan sang istri masuk ke dalam masjid begitu sampai, ia melihat Muazin baru saja mengumandangkan azan jadi masih ada waktu untuk melakukan sesuatu.


Dengan cepat ustad Zaki kembali keluar dan berjalan ke seberang jalan, ia menghampiri penjual batagor yang baru saja membuka lapaknya,


"Assalamualaikum,"

__ADS_1


Melihat kedatangan ustad Zaki, penjual batagor pun menghentikan kegiatannya,


"Waalaikum salam, eh ustad Zaki."


"Tumben pak jam segini baru buka?"


"Iya ustad, tadi ada pesanan di kampung sebelah."


"Syukurlah, jadi tinggal sedikit ya?" tanya ustad Zaki sedikit lega mengetahui kemungkinannya.


"Enggak ustad, soalnya karena kemarin tahu kalau ada pesanan, jadi buatnya dua kali lipat."


"Ohhh, jadi gini kalau saya mau borong batagornya, maksudnya sambal batagornya boleh?"


"Memang ustad mau berapa porsi?"


"Emmm, sepuluh mungkin."


"Tapi kalau hanya buat sepuluh porsi, sambalnya masih banyak ustad."


"Begini saja, sambalnya aku borong trus sisakan satu porsi saja. Nanti kalau istri saya ke sini, kasih yang nggak ada sambalnya."


"Maaf, tapi bapak yang belum faham sifat istri saya. Jadi saya tetap dengan pilihan yang pertama. Boleh kan pak?"


"Ohhh, boleh ustad. Boleh."


"Ya sudah, tolong antar ke masjid setelah sholat ya pak."


"Njeh ustad."


Setelah urusannya beres, ustad Zaki segera kembali ke masjid.


Dan benar saja seperti rencananya, penjual batagor sudah mengantarkan batagor pesanannya lengkap dengan sambalnya ke masjid tempat ustad Zaki dan pengurus masjid yang lain bermusyawarah.


"Mari silahkan di makan bapak-bapak," ucap ustad Zaki mempersilahkan bapak-bapak pengurus masjid untuk mulai memakan batagornya.


Sedangkan di kedai batagor, terlihat Zahra dan Nur baru saja duduk di sana.


Beberapa dari mereka langsung mengucapkan terimakasih karena ustad Zaki sudah menyediakan konsumsi untuk mereka walaupun musyawarah nya hanya sebentar tidak lupa mereka juga mendoakan kebaikan untuk ustad Zaki dan keluarga.


"Aamiin!" ucap ustad Zaki sambil menakupkan kedua tangannya di wajah,

__ADS_1


"Monggo, Monggo di makan Pumpung masih hangat.


Satu persatu mulai mengambil makanan untuk dirinya. Terlihat ada Amir juga diantara para pengurus itu.


"Sambalnya sisa, biar aku kembalikan n ke penjualnya dulu, ucap Amir yang hendak meraih mangkuk sambil tapi lebih dulu tangannya di tahan oleh ustad Zaki,


"Jangan, kebetulan hari ini aku sedang pengen makan pedas." ucap ustad Zaki sambil meraih mangkuk sambel itu dan menuangnya ke dalam piring batagornya.


"Astaghfirullah ustad, itu nggak kebanyakan?" tanya Amir terkejut ulah sang ustad.


"Enggak, ini sudah biasa "


Akhirnya ustad Zaki memakan makanannya meskipun dengan menahan pedas yang luar biasa.


Hingga acara musyawarah selesai, ustad Zaki hendak menghampiri Zahra tapi Amir segera mencegahnya,


"Zahra sudah pulang sama Nur loh ustad."


"Sudah pulang ya, naik apa?"


"Nur tadi yang baik motor."


.Ustad Zaki mulai memijit perut nya sudah mulai mules karena sambel yang ia makan terlalu banyak,


"Zahra aman kan?" tanya ustad Zaki memastikan sekali lagi dan Amir membenarkannya.


tapi perut mulas ustad Zaki tidak bisa di tahan lagi,


"Mir, Carikan obat untuk perutku ya, ini darurat." ucap ustad Zaki sambil memegangi perutnya.


Flashback off


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2