
Setelah mengobrol ringan tiba-tiba pak Yatno meminta istrinya untuk memanggil putri bungsunya dan zahra sangat kenal dengan yang tengah di panggil.
"Buk, cepet panggil Ina biar bisa cepet di mulai."
"Iya pak,"
Zahra masih dalam mode menduga-duga ia berharap dugaannya tidak benar.
Hingga Tidka berselang lama, istri pak Yatno keluar dengan Ina yang sudah berdandan cantik, sepetinya itu hasil kerja MUA.
Ina tersenyum membuat Zahra malah semakin kesal dengan gadis itu.
Memang aku bakal luluh apa kalau dia senyum manis begitu, nggak ya ..... Nggak ingat apa beberapa bulan lalu mengataiku ..., keluh Zahra dalam hati. Ia masih tidak terima dengan ucapan Ina beberapa bulan lalu yang membuat Zahra bertekad untuk kuliah lagi.
"Sudah bisa di mulai sekarang?" pertanyaan pak Yatno kembali menggugah penasaran Zahra.
"Baiklah, saya mulai ya pak." ucap ustad Zaki yang ternyata menjadi pembicara.
"Monggo silahkan ustad."
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatu, puji syukur kita haturkan kepada Allah Subhana wa ta'ala yang telah memberi kita nikmat sehat hingga kita semua bisa berkumpul di sini, kedua kalinya sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam, saya mewakili keluarga pak Warsi datang ke sini yang pertama yaitu untuk silaturahmi dan yang kedua kami ingin mengutarakan niat baik kami untuk melamar putri bapak, yaitu dek Ina untuk mas saya, mas Imron. Semoga kedepannya kita semua bisa menjalin silaturahmi lebih baik lagi."
Deg
Zahra benar-benar tidak terima, hampir saja ia membuka mulutnya tapi segera ustad Zaki menahan tangannya hingga membuat Zahra tidak bisa berkutik apalagi saat mendapat tatapan tidak suka dari sang suami.
Segera pak Yatno membalas ucapan panjang dari ustad Zaki,
"Waalaikum salam, saya selaku bapak dari Ina mengucapkan banyak terimakasih atas kedatanganya, dan juga niat baiknya. Sebelumnya kita sudah membicarakan ini secara keluarga, Ina dan ibunya juga saudara-saudara Ina dan kami pun memutuskan untuk menerima lamaran dari mas Imron. Semoga selanjutnya kita bisa menjadi keluarga yang utuh, diberkahi oleh Allah.
"Aamiin," segera langsung di sambut oleh semua yang ada di ruangan itu kecuali tentunya Zahra, rasanya Zahra ingin sekali menolak dengan lantang jika tidak ada suaminya yang menahannya.
"Baiklah, untuk selanjutnya sebaiknya kita bicarakan tentang hari baiknya." ucap pak Warsi memberi wewenang pak pak Yatno untuk memilih lebih dulu yang menurutnya hari baik.
__ADS_1
Setelah melewati rembukan yang cukup panjang, akhirnya urusan hari selesai. Rombongan pak Warsi pun pamit undur diri.
"Biar Zahra sama saya saja mas, Amir sekalian ikut mas Imron nggak pa pa ya." ucap ustad Zaki.
"Iya ustad, kalau begitu kamu dulua . Assalamualaikum."
"Waalaikum salam,"
Mobil yang di tumpangi Imron bersama keluarga pun berlalu meninggalkan ustad Zaki dan Zahra.
Ustad Zaki sengaja ingin pulang hanya berdua saja dengan sang istri karena ia tahu sang istri pasti akan seger melayangkan protes.
Tepat seperti dugaannya, baru beberapa menit mereka berada di dalam mobil, Zahra sudah ngomel-ngomel tidak jelas.
"Kenapa sih mas Imron nglamar orang nggak tanya-tanya dulu?"
"Lagian mas ustad juga mau-mau aja di suruh menenin gitu,"
Ustad Zaki masih diam hingga mereka sampai di dekat rumah, dengan sengaja meminggirkan mobilnya kemudian berhenti di bahu jalan yang cukup sepi membuat Zahra menoleh pada suaminya,
"Kenapa berhenti di sini?" tanyanya dengan penuh penasaran.
Srekkk
Tanpa ba bi Bu tiba-tiba ustad Zaki mencondongkan tubuhnya dan mengungkung tubuh Zahra hingga membuat posisi Zahra condong ke belakang.
"Dek, dek Zahra percaya sama jodoh?"
Zahra pun mengangukkan kepalanya dengan ragu,
"Atau dek Zahra mau menyalahkan Allah atas jodoh seseorang?"
Sekali lagi Zahra hanya menggelengkan kepalanya mencoba mencerna ucapan suaminya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana kalau Allah memang menjadikan Ina sebagai jodoh mas Imron, apa dek Zahra mau protes sama Allah?"
"Ya enggak_, tapi kan masih ada perempuan lain yang jauh lebih baik dari Ina."
"Jadi dek Zahra merasa punya hak untuk menilai seseorang diatas penilaian Allah?"
"Ya_ bukan gitu."
"Lalu?"
"Maksud Zahra itu_,"
"Dek Zahra nggak suka sama Ina, apa itu berarti mas Imron, atau Allah harus juga nggak suka?"
"Ya enggak."
"Trus apa masalahnya? Yang akan menjalani kehidupan berumahtangga itu mas Imron dan Ina, kita sebagai kerabat, saudara hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka. Jadi apa dek Zahra bisa memahami ucapan mas?"
Walaupun sebenarnya masih berat untuk bersikap ikhlas, tetap saja ia tidak punya pilihan selain mengiyakan ucapan suaminya. Jika di pikir-pikir memang benar yang di katakan oleh sang suami. Ia tidak punya hak apapun untuk menolak ataupun menerimanya.
Akhirnya Zahra hanya bisa mengangguk pasrah.
"Alhamdulillah," ucap ustad Zaki sambil mengusap puncak kepala zahra yang tertutup hijab.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1