
"Ustad, terimakasih nya makanannya!?" ucapan beberapa warga yang setelah menyelesaikan makannya.
"Sama-sama, Alhamdulillah tadi dapat rezeki lebih. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya bapak-bapak, Zahra sedang sakit nggak enak kalau di tinggal sendiri."
"Pak ustad nggak makan dulu?"
"Nggak usah, tadi di rumah sudah ada."
"Tapi ini masih sisa loh ustad!?"
"Biar nanti ada yang datang belakangan, buat ikut makan. Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setelah membantu sebentar, ustad Zaki pun bergegas pulang. Ia juga belum sempat sarapan.
Ia sengaja ingin makan di rumah dan menemani Zahra, ia khawatir jika Zahra tidak makan karena kurang enak badan.
"Assalamualaikum!" sapanya begitu kembali sampai di rumah.
Tapi tidak ada sahutan dari dalam, ustad Zaki pun melanjutkan langkahnya. Ia bergegas ke belakang untuk mencuci kakinya yang terkena tanah karena habis mencangkul. Setelah memastikan kakinya bersih, ustad Zaki masuk melalui pintu belakang.
"Assalamualaikum, dek." tetap tidak ada sahutan hingga ia mendengarkan gemericik air di dalam kamar mandi, "Ohh dia dia kamar mandi."
Ceklek
"Astaghfirullah hal azim, datang nggak pakek salam. Ngagetin aja!!" ucap Zahra sambil memegangi letak jantungnya saat melihat ustad Zaki yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar mandi.
Ustad Zaki tersenyum seperti biasanya, "Assalamualaikum dek Zahra."
"Waalaikum salam," jawab Zahra ketus, "Kenapa cepat sekali pulangnya?"
"Pengen memastikan kalau dek Zahra baik-baik saja, bagaimana perutnya? Apa masih sakit?"
__ADS_1
Zahra tersenyum dan mengusap perutnya, "Setelah kenyang ternyata nggak sakit!"
"Syukurlah kalau begitu. Dek Zahra berarti sudah makan kan?"
"Sudah!?"
"Baiklah, kalau gitu biar gantian mas yang makan!?" ustad Zaki tidak sabar untuk segera menuju ke dapur.
Maksudnya dia mau makan? Kan makanannya aku habiskan, bagaimana ini?
Zahra hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan mengikuti ustad Zaki.
Ustad Zaki segera membuka tudung saji, tapi ia tidak menemukan apapun di sana.
Mungkin dek Zahra menyimpannya di lemari,
Ustad Zaki pun berjalan menuju ke lemari dapur dan membuka satu per satu pintu lemari itu, tapi tidak menemukan apapun.
Kemudian ia menoleh pada Zahra,
Zahra sudah menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ada sedikit sata bersalah dalam dirinya,
"Maaf mas ustad, tadi aku sangat lapar jadi makanannya aku habiskan!!"
Ustad Zaki terdiam dan menelan salivanya,
Setelah tidak mendapat jawaban dari sang suami, Zahra pun segera mendongakkan kepalanya menatap ustad Zaki, memastikan jika pria itu tidak marah padanya,
"Ya tadi kan aku pikir mas ustad sudah ikut makan sama bapak-bapak, tadi kan banyak banget pesannya, nggak mungkin kan kalau mas ustad nggak kebagian!"
Ustad Zaki tidak menanghapi, ia memilih diam dan mengambil segelas air, ia hanya sedang mengendalikan emosinya karena rasa lapar. Ia duduk dan meminum air putihnya.
Zahra kali ini benar-benar merasa bersalah, ia pun ikut duduk. Ia sedang mencari cara agar ustad Zaki tidak marah padanya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Zahra masak buat mas ustad!?" ucapan Zahra berhasil membuat ustad Zaki menatap ke arah Zahra sambil mengerutkan keningnya.
"Ya memang sih aku nggak bisa masak, tapi kalau masak mie instan aku bisa. Itu pun kalau mas ustad mau!"
"Mau, kalau dek Zahra mau memasak buat mas, mas sangat senang!"
Akhirnya Zahra pun mengambil sebungkus mie instan dari laci meja dapur dan mulai mengeksekusi dengan menambahkan telur juga sawi. Kalau memasak mie instan, sudah menjadi keahlian Zahra karena setiap malam saat ia kelaparan, ia akan membuat mie instan untuk mengganjal perutnya.
"Mie sudah jadi!?" ucap Zahra sambil meletakkan semangkuk mie di depan ustad Zaki.
Tampak sekali ustad Zaki begitu bersemangat mengambil sendok dan garpu,
"Bismillahirrahmanirrahim!?" ucap ustad Zaki dan mulai menyantapnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Zahra penasaran, walaupun ia tahu rasa mie instan di mana pun juga sama.
"Ini makanan terenak yang pernah aku makan!?"
"Ihhh lebay, mie instan kan di mana-mana rasanya sama!"
"Tapi ini beda."
"Apa bedanya?"
"Yang buat beda, karena mie ini ada lebel buatan istri, jadi rasanya begitu nikmat!? Apa lagi makananya di temani sama istri begini, bahkan ayam bakar aja masih kalah sama ini."
Seketika ucapan ustad Zaki berhasil membuat Zahra salah tingkat, ia sampai bingung harus menyembunyikan senyumnya bagaimana. Ia memilih menatap ke tempat lain dan membuatkan sang suami memakan mie nya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰 ...