
Ustad Zaki tampak tidak tenang, ia terus menghubungi Zahra tapi wanita yang telah resmi ia nikahi itu nyatanya tidak menjawab telponnya.
"Kalau ustad khawatir, ustad bisa pulang dulu. Biar anak-anak, Imah yang urus!"
"Kamu yakin?"
"Iya, dari pada ustad di sini tapi pikirannya di tempat lain. Zahra memang sejak kecil sikapnya seperti itu, jadi ustad jangan kaget."
"Iya, terimakasih atas nasehatnya. Kalau gitu aku pergi dulu, kamu beneran nggak pa pa?"
"Insyaallah, iya. Imah sudah biasa sendiri, ustad!"
"Besok kamu boleh deh nggak datang, biar saya saja."
"Nggak pa pa, jangan sungkan. Imah pasti datang."
"Sekali lagi terimakasih ya, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Fatimah tetap manatap kecewa dengan kepergian ustad Zaki. Padahal dalam hatinya ia berharap ustad Zaki tidak akan pergi.
Hingga motor ustad Zaki tidak terlihat lagi, Fatimah masih tidak beranjak dari tempatnya.
"Dek Imah, biar saya bantu saja ya!?" ucapan seseorang menyadarkannya. Ternyata Amir, entah dari mana datangnya pemuda itu tiba-tiba sudah di belakangnya saja.
"Ehhh mas Amir. Kalau mas Amir tidak sibuk, nggak pa pa!"
"Baiklah, aku bantu ngajar yang kecil aja ya, soalnya ilmuku nggak seperti kamu yang sudah tinggi."
"Apa sih mas Amir, sama saja. Imah juga masih belajar! Ya sudah Imah ke anak-anak dulu ya mas!"
"Oh iya, silahkan!"
...***...
Sesampai di rumah, ustad Zaki segera memarkirkan motornya dan mengucapkan salam.
Setelah basa-basi sedikit dengan Bu Narsih, ustad Zaki pun menanyakan keberadaan Zahra.
Ternyata Nur juga sudah pulang dan Zahra tengah di kamarnya.
"Assalamualaikum!" sapa Ustad Zaki. Tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar, ustad Zaki membuka pintu kamar yang tidak di kunci itu dan ia bisa melihat Zahra yang tengah duduk di lantai sambil memakan camilannya.
Ustad Zaki kembali menutup pintunya, kali ini ia menguncinya dari dalam, suara kunci itu sebenarnya menarik perhatian Zahra, ia mendongakkan kepalanya sebentar tapi segera kembali sibuk dengan camilannya.
__ADS_1
Ustad Zaki perlahan mendekat, ia duduk tepat di depan Zahra tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya,
"Kenapa pulang? Kan enak di sana bisa ketawa-ketawa bareng sama cewek shalihah, nggak seperti Zahra yang selalu bikin kesel." omel Zahra masih dengan terus menyemil camilan pedasnya.
"Assalamualaikum!" lagi, ustad Zaki mengucapkan salam tapi dengan rona wajah yang sama.
"Waalaikum salam!" jawab Zahra dengan kesal.
Srekkkkk
Tiba-tiba ustad Zaki menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya membuat Zahra terdiam. Lebih tepatnya terkejut.
"Biarkan begini dulu, aku sedang marah sama kamu. Jangan bicara dulu sampai marahku reda!"
Kok ada sih marah malah meluk ..., akumah ngomel, Zahra masih tidak mengerti dengan cara marah pria yang telah menikah dengannya itu.
Dan benar saja, cukup lama hingga lahirnya ustad Zaki melepaskan pelukannya,
"Jangan ulangi lagi!"
"Hahhh?"
"Jangan lakuin itu lagi!"
"Apa sih? Nggak jelas deh!?"
Jadi dia lihat tadi, baguslah ....
"Sayangnya nggak bisa, aku bukan gadis kaleng seperti Fatimah. Jadi maaf, apa yang kamu inginkan nggak aku terkabul."
"Kenapa sedari tadi membawa-bawa nama Fatimah dalam urusan kita?" ustad Zaki sudah kembali bicara dengan lembut. Rupanya pelukan Zahra berhasil membuat emosinya reda.
"Ya siapa tahu, mas ustad mengidamkan wanita sekalem dan sebaik Fatimah buat jadi istrinya, kalau saja Zahra nggak minta mas ustad buat nikah sama Zahra, mungkin sekarang mas ustad sudah ngelamar Fatimah."
Srekkkkk
Sekali lagi, ustad Zaki menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya,
"Aku tahu sekarang!?" ucap ustad Zaki pelan, tapi kali ini ada senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
"Tahu apa?"
"Tahu kalau dek Zahra cemburu sama Fatimah!"
Srekkkk
__ADS_1
Dengan cepat Zahra mendorong tubuh ustad Zaki,
"Astaghfirullah hal azim, nggak ya!?"
Tapi lagi-lagi ustad Zaki tersenyum, "Nggak pa pa kok nggak mengakui sekarang, memang sulit mengakui semuanya dengan cepat. Tapi ada satulah yang harus dek Zahra ingat. Mas sudah mengikat dek Zahra dalam ikatan suci, perjanjian yang langsung terhubung sama Allah. Dan sejak saat itu, sejak ijab Qabul itu, mas sudah bertekat untuk mencintai dek Zahra dengan segala kelebihan dan kekurangan dek Zahra. Jadi jangan khawatir jika mas akan berpindah ke lain hati, kita sama-sama belajar untuk mencintai kelebihan dan kekurangan masing-masing."
Seketika ucapan ustad Zaki berhasil membuat Zahra terdiam, dengan segala keterbatasan otaknya ia mencoba mengurai dari per satu.
Tiba-tiba tangan ustad Zaki mengusap puncak kepala Zahra,
"Jangan marah lagi ya, maaf kalau mas sudah buat dek Zahra kesal. Lain kali kalau dek Zahra nggak sukaas dekat-dekat dengan Imah, mas akan minta bantuan Amir untuk mengajar!"
"Nggak perlu, tadi Zahra cuma_!"
"Cuma?" ustad Zaki tampak penasaran dengan kelanjutan ucapan Zahra.
"Cuma lagi PMS aja, emosinya suka labil. Ya udah sana, bentar lagi juga magrib. Pergi sana!"
"Nggak pa pa, mas ke masjid lagi?"
"Memang Zahra nglarang?"
"Boleh cium dikit nggak?" tanya ustad Zaki sambil menunjuk ke arah pipinya yang berlesung itu.
"Jangan mesum ya!" Zahra sudah siap melempar satu bungkus camilannya ke arah sang suami,
Ustad Zaki tersenyum lebar dan berdiri,
"Lain kali boleh ya, mas berangkat lagi ke masjid. Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Entah kenapa tiba-tiba Zahra merasakan pipinya begitu panas, bahkan sekarang bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum,
Ya ampun Zahra, kamu kenapa sih? Jangan gila ya ..., Zahra mencoba untuk mengendalikan perasaanya, tapi kembali lagi saat mengingat senyum ustad Zaki, rasanya jantungnya berdetak lagi.
Dia memang tampan sih, dia juga lembut, tidak pernah marah sama aku, beda sama Bayu, batin Zahra lagi tapi ia segara tersadar telah menbandingkan mereka.
Kenapa jadi begini?
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...