
Kini mobil yang di tumpangi ustad Zaki dan rombongannya tengah berhenti tepat di tempat di bahu jalan alon-alon kota Blitar.
"Kalian turun saja dulu, Zaki mau cari tempat parkir dulu!" ucap ustad Zaki dan mereka pun setuju untuk turun lebih dulu.
Zahra berjalan mengiringi kedua mertuanya,
"Rame ya kalau sore,"
"Iya umi, memang kalau jam jam segini sampai nanti jam delapan biasanya rame, apalagi nanti di taman pecut situ ada pertunjukan air mancur!" Zahra menunjuk pada taman yang berada di seberang jalan dari alon-alon kota Blitar.
"Ohhh itu ya, umi baru lihat sekarang!" umi terlihat takjub dengan patung pecut samandiman yang ada di tengah taman.
"Jadi kebayang nanti kalau Zaki dan kamu sudah punya momongan, pasti lucu seperti anak-anak itu!" ucap umi saat melihat anak-anak kecil yang tengah berlarian di lapangan alon-alon.
Zahra hanya bisa tersenyum hambar dengan ucapan umi, ia tidak tahu harus menanghapi bagaimana.
Jangankan untuk memikirkan punya anak, Zahra bahkan belum begitu siap menerima status barunya sebagai seorang istri.
"Nanti sabar dulu umi, Zahra kan masih sekolah!" ucap Abi menengahi pembicaraan mereka.
"Kan nggak ada larangan sekarang, asal sudah menikah punya anak sambil sekolah kan nggak pa pa. Lagi pula sebentar lagi Zahra kan sudah lulus, jangan sampai gadis-gadis lain mencari celah dalam hubungan kalian!"
Zahra cukup tercengang dengan ucapan umi yang terakhir, ia pun menoleh pada umi ustad Zaki dengan tatapan penasaran.
"Banyak gadis yang mungkin menginginkan posisi kamu saat ini nak!"
"Maksud umi?"
"Ya kita tidak tahu isi hati orang, apalagi Allah yang maha membolak-balikkan perasaan seseorang. Mungkin kita bisa percaya sama Zaki, tapi bagaimana dengan yang lain! Umi cuma mau berpesan sama kamu, mungkin sesekali kerikil tajam itu akan menghampiri pernikahan kalian, tapi tetaplah percaya pada pasanganmu!"
"Iya umi."
"Umi, jangan membuat Zahra takut seperti itu. Lihat wajahnya jadi murung karena ucapan umi!" sang Abi segera menasehati istrinya itu.
"Ya umi kan cuma bicara yang mungkin bisa terjadi, Abi. Namanya tidak akan ada yang tahu!"
"Kita bicara yang pasti-pasti saja sekarang!"
__ADS_1
"Iya Abi, umi kan cuma berharap yang terbaik untuk hubungan mereka!"
Zahra hanya bisa menyimak pembicaraan mereka, ia tidak tahu apa dan siapa yang tengah kedua orang tua itu bahas hingga akhirnya ustad Zaki datang menghampiri mereka.
"Bagaimana? Kita sholat dulu baru cari makan atau makan dulu?" tanya ustad Zaki saat melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore, setengah jam lagi tiba waktu magrib.
"Biar tenang makannya, lebih baik sholat dulu. Nggak pa pa kan nak?" tanya abi meminta pendapat dari Zahra.
"Iya Abi, nggak pa pa!"
Selagi menunggu yang lain sholat, Zahra memilih untuk duduk di kursi panjang yang ada di depan masjid. Abi dan umi sudah terlihat masuk ke dalam masjid,
"Mas ustad, kenapa nggak masuk?" tanya Zahra saat ustad Zaki bukannya ikut masuk ke dalam masjid malah duduk di sampingnya.
"Sebentar, kamu tidak pa pa di tinggal sendiri di sini?"
Zahra menggelengkan kepalanya, "Zahra kan bukan anak kecil lagi, memang Zahra akan hilang apa?"
"Ya mas kan khawatir, kalau ada yang bawa pergi dek Zahra gimana?"
"Memang siapa yang mau bawa pergi Zahra?"
"Mas ustad aneh!"
Ustad Zaki hanya tersenyum dengan ucapan Zahra, ustad Zaki menunggu hingga azan berkumandang baru masuk. Ia tidak tega meninggalkan Zahra sendiri.
"Sudah azan, mas masuk dulu ya!"
"Hmmm!"
"Jangan kemana-mana sebelum mas kembali!"
"Iya!"
Ustad Zaki terlihat begitu berat meninggalkan Zahra,
Hingga sholat magrib usai, ustad Zaki sudah hendak beranjak dari duduknya tapi saat melihat sang umi lebih dulu menghampiri Zahra, ustad Zaki pun mengurungkan niatnya untuk berdiri. Ia melanjutkan zikirnya.
__ADS_1
"Umi!?" Zahra melihat ke arah belakang umi, baik ustad Zaki maupun abinya belum terlihat.
"Jangan khawatir, mereka masih di dalam untuk berzikir, biasa para pria zikirnya lama. Umi sengaja segera keluar , kalau enggak pasti Zaki sudah lari ke sini."
"Maksud umi?"
"Umi tahu anak umi, sayang! Dia pasti sangat khawatir sama kamu! Makanya umi segera temani kamu, biar dia tenang zikirnya!"
Zahra tersenyum setelah mengerti maksud dari sang umi, umi pun akhirnya duduk di samping Zahra.
"Seger ya udaranya!"
"Iya umi! Langitnya juga cerah!"
Penampilan Zahra begitu kontras dengan penampilan umi. Umi memakai pakaian syar'i sedangkan Zahra memakai celana panjang dlengan jaket hudie yang menutup tubuhnya tentu tanpa jilbab.
"Zahra!"
"Iya umi!"
"Dulu umi seumuran kamu juga belum pakek hijab!" ucap umi kemudian berhasil membuat Zahra menoleh pada wanita yang telah melahirkan suaminya itu,
"Tapi saat usai umi dua puluh tahun, Abi kamu meminang umi. Seorang putra kyai meminang gadis seperti umi, awalnya umi syok dengan perbedaan kebiasaan yang kami miliki tapi waktu telah merubah semuanya. Umi justru merasa beruntung karena Allah memberikan jodoh sebaik dan sesholeh Abi kamu."
Terlihat umi memberi jeda pada ceritanya,
"Kamu tahu, umi akhirnya memutuskan untuk memakai hijab! Dan umi berharap suatu saat nanti, Zahra juga akan seperti umi. Tidak pa pa sekarang jika masih ingin mencari jati diri, tapi ada hal yang harus kamu ingat. Ada suami dalam hidup kamu sekarang!"
"Iya umi!"
"Jadi, setelah ini apapun yang terjadi jangan pernah berkecil hati, atau mungkin merasa orang lain lebih baik dari kamu. Karena yang tahu baik buruknya seseorang hanya Allah!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...