Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Berkorban


__ADS_3

Suasana di ruang itu begitu haru begitu juga dengan orang-orang yang tengah menunggu di luar, mereka mendengarkan percakapan antara Zahra dan ustad Zaki. Bahkan Amir yang biasa tampil murah senyum kini tak mampu menahan air matanya agar tidak jatuh meskipun ia langsung mengusapnya sebelum benar-benar jatuh.


Setelah merasa sedikit tenang, ustad Zaki melepaskan pelukannya pada sang istri,


"Zahra terima mas jika memang Zahra hamil!" ucapan Zahra sedikit melegakan bagi ustad Zaki, karena setidaknya bebannya sedikit berkurang. Ia tidak harus takut jika sang istri tidak menerima kehamilannya.


Tapi sekarang yang menjadi masalah_, bagaimana caranya mengatakan pada Zahra kalau dia tengah hamil kembar dan salah satu janinnya berada di luar kandungan.


"Dek, sebenarnya ada satu lagi yang belum dek Zahra ketahui!" ucapnya sambil menakup kedua pipi Zahra yang terlihat sembab dengan sisa air mata.


"Apa?" tanya Zahra dengan suara lemahnya.


"Sebenarnya dek Zahra hamil kembar!"


"Kembar?" Zahra cukup terkejut karena silsilah keluarganya tidak ada yang mempunyai riwayat kembar baik dari bapak maupun ibuknya.


"Iya dek, tapi sayangnya salah satu janinnya berada di luar kandungan!"


"Astaghfirullah!?" Zahra benar-benar terkejut hingga ia tidak lagi bisa menahan air matanya, ustad Zaki kembali memeluk sang istri menenangkannya dengan mengusap punggung Zahra.


Zahra menangis sembari menahan nyeri di perutnya yang semakin menjadi, ia tahu semuanya pasti tidak akan baik-baik saja dan mungkin ia harus menerima hal terburuknya,


"Sekarang harus gimana?" tanyanya di sela Isak tangisnya, tangan kanannya yang tidak terhubung dengan dlang infus terus memegangi perutnya yang di rasa semakin terasa sakit, bahkan kini tangan kirinya tengah mencengkeram sprei yang menutupi ranjang.


"Kata dokter, salah satu janin harus di keluarkan!"


"Apa mereka tidak bisa tumbuh bersama di dalam sini?" Zahra tidak bisa terima begitu saja, rasanya sangat sulit merelakan salah satu. Kenapa harus ada yang berkorban demi yang lainnya? Kenapa tidak bisa semuanya berjalan berdampingan? begitulah yang tengah di pikirkan Zahra saat ini.


"Ini menyangkut keselamatan dek Zahra juga, dek! Lagi pula jika di luar kandungan sudah pasti tidak bisa di selamatkan, janinnya harus di keluarkan!"


"Lalu bagaimana dengan yang ada di dalam?" tanya Zahra lagi, walaupun mungkin ia belum siap menjadi seorang ibu, tapi ia juga tidak yakin siap jika harus kehilangan kedua-duanya.


Ustad Zaki terdiam, hal yang membuatnya berat selama ini ya yang di tanyakan oleh Zahra saat ini.

__ADS_1


Anak yang sangat ia harapkan kehadirannya, tapi ia tidak punya jamina. untuk keselamatannya. Walaupun ia tahu segala sesuatunya milik Allah, tapi ia tetaplah manusia biasa yang tidak bisa begitu legowo dengan segala cobaan, ada kalanya hatinya begitu lemah hingga ia lupa dengan kuasa Allah yang begitu besar pada setiap hamba-Nya yang mau bersyukur.


"Tim medis tak bisa memberi jaminan kalau janin lainnya akan bisa diselamatkan." ucapnya tanpa berani menatap Zahra tapi segera ia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya, ia segera menatap Zahra dengan pasti. Ia tengah berusaha untuk memberi kekuatan pada sang istri. Jika dia sendiri lemah lalu bagaimana dengan istrinya?


"Tapi dek Zahra percaya kan sama kuasa Allah, apapun yang menjadi kehendaknya, pastilah itu yang terbaik buat kita dek_!"


"Aughhhh!?"


Belum sampai ustad Zaki menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Zahra mengeram kesakitan, cengkeramannya semakin kuat dan keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.


"Dek_!?" ustad Zaki begitu terpaku hingga ia bingung harus melakukan apa sekarang.


"Aughhhh, sakiiitttt masss!" sekarang tubuh Zahra sampai gemetar seperti akan kejam.


"Dek tahan dek!" dengan cepat ustad Zaki menekan tombol panggilan darurat hingga beberapa kali, tangan kirinya terus merangkul tubuh Zahra.


Hingga beberapa menit akhirnya tim dokter datang. Zahra sudah mulai kejang,


"Tolong ke ruang administrasi untuk menandatangi surat persetujuan!" ucap dokter lagi dan beberapa perawat sudah memindahkan Zahra ke rejang dorong.


Mereka pun mendorong tubuh Zahra, membawanya keluar dari ruangan itu untuk di bawa ke ruang operasi melewati orang tua Zahra, Nur dan Amir.


Mereka tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi di dalam, barulah setelah ustad Zaki yang keluar paling belakang barulah pak Warsi berani menghentikannya,


"Ada apa nak? Zahra kenapa?" tanyanya sambil menggoyangkan bahu ustad Zaki.


"Zahra harus di operasi sekarang juga pak!" ucapnya dengan mata yang tidak fokus,


Pak Warsi pun melepaskan bahu ustad Zaki setelah mendapatkan jawabannya,


"Saya permisi ke ruang administrasi dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"

__ADS_1


Tidak ada yang berani mengikuti ustad Zaki karena mereka tahu saat ini ustad Zaki sedang sangat terguncang.


Mereka pun memilih menyusul Zahra dan menunggu di depan ruang operasi.


"Budhe, pak Dhe, Nur neng kantin disek Yo, pak Dhe Karo budhe mesti durung maem, tak tumbasne maem Yo (Nur ke kantin dulu ya, pak Dhe dan budhe pasti belum makan, saya belikan makan ya)!" ucap Nur, ia cukup khawatir melihat keadaan orang tua Zahra, apalagi ia tahu tadi pas ia ke rumah Zahra dan memperitahu keadaan Zahra, pak Warsi baru saja pulang dari sawah dan belum sempat makan siang. Apalagi keadaan pak Warsi belum sehat betul.


"Nggak usah nduk, budhe urong luwe (Nggak usah nduk, budhe belum lapar)!" jawab Bu Narsih, sebenarnya ia memang lapar tapi ia tidak mau merepotkan Nur.


"Tak tumbasne kopi ae Yo budhe, pakdhe kerso kopi to? (saya belikan kopi saja ya budhe, pakdhe mau kopi kan?" tanyanya pada pak Warsi dan pak Warsi pun mengangukkan kepalanya, tenggorokannya memang kering sekarang.


"Tak kancani Nur (Tak temani Nur), sekalian mau sholat ashar!" ucap Amir yang sebenarnya mengkhawatirkan Nur jika berkeliaran sendiri,


"Ayo, mas!" Nur menerimanya dnagn senang hati. "Nur permisi riyen (disek), assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


"Disik o (Kamu duluan!" pinta Amir tapi Nur sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.


"Sampean Lo mas mestine seng nek ngarep, ora elok lek wong lanang mlaku nek mburine wong wedok (Kamu Lo mas harusnya yang di depan, tidak baik jika orang laki-laki berjalan di belakang seorang perempuan)! Kan hadist nabi juga di jelaskan bahwa wanita tidak boleh berjalan mendahului seorang laki-laki!"


"Iya ustadzah, iya ...!" ucap Amir sambil berjalan mendahului Nur yang menahan tawa di belakangnya.


Bersambung


Maaf ya beberapa hari ini tidak bisa up karena cuaca lagi nggak bagus, kemarin kehujanan jadi kena flu. Alhamdulillah berkat doa kalian semua, sekarang sudah lebih sehat. Maaf lagi, karena nggak bisa up banyak, tapi sebagai gantinya aku kasih judul baru aku yang sebenernya rencana mau aku up bulan depan, tapi nggak pa pa deh aku up sekarang, nanti langsung di favoritin ya, judulnya "Ustad, Nikahi aku!" di favoritin kalau sudah muncul, kalau belum sabar ya.


Kalau tanya kenapa kok malah up judul baru, bukan ini di hanyakin babnya?


Jawabannya, karena yang judul baru sudah punya simpenan bab dari beberapa Minggu lalu, kalau yang duo Z masih belum punya simpenan bab, doain ya nanti insyaallah bisa nulis banyak, kalau ada acara kurang enak badan kayak gini bisa tetap up🙏🙏🙏


Semoga 1 bab ini bisa mengobati kangen kalian.


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2