
kini mereka sudah berada di sebuah penginapan, cukup jauh dari penginapan Zahra dan Imron.
"Mas, kenapa tidak di tempat Zahra tadi saja?" tanya Zahra saat sudah berada di depan sebuah penginapan yang terlihat lebih besar dari penginapan Zahra.
Ustad Zaki mengerutkan keningnya, "Maaf, mas tidak tahu. Kalau dek Zahra tidak nyaman di sini, kita pindah ke sana!"
"Hmmm!"
Ustad Zaki pun segera memanggil pria yang tadi bersama mereka,
"Mas Dul, tolong ambilkan tasku di kamar ya, saya mau menginap di tempatnya mas Imron. Mas Dul di sini saja!"
"Baik ustad!"
Zahra hanya mengamati cara mereka berinteraksi, hingga pria yang di panggil Dul itu pergi meninggalkan mereka.
"Mas,"
"Hmmm?"
"Dia tadi siapa?"
"Oh iya, mas belum cerita. Dia namanya mas Abdul, beliau yang menemani mas dari Blitar, kebetulan mas minta bantuannya untuk mengantar ke sini."
"Ohhhh!?"
Hanya butuh waktu sepuluh menit dan mas Abdul kembali lagi dengan membawa tas rangsel yang biasa di bawa ustad Zaki jika bepergian cukup jauh.
Mereka pun kembali ke mobil, dan masih sama mas Abdul yang mengemudikan mobilnya, hingga tidak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai di penginapan Zahra,
"Mas Abdul kembali saja ke sana, dan besok jemput kami di sini!"
"Baik ustad, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Saat mereka hendak masuk, Imron rupanya sudah berada di sana,
"assalamualaikum," sapanya.
"Waalaikum salam, mas sudah kembali?" tanya zahra.
"Iya, kalian kenapa kembali ke sini?" tanyanya.merasa heran, seingatnya tadi ustad Zaki mengatakan kalau Zahra akan menginap di tempatnya.
__ADS_1
"Iya, dek Zahra pengen di sini." ucap ustad Zaki, "Zaki mengantar dek Zahra ke kamar dulu, setelah ini Zaki ingin bicara sebentar dengan mas Imron!"
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di depan ya!?"
"Hmmm!"
Ustad Zaki pun akhirnya mengantar Zahra ke kamarnya,
"Dek tidurlah, ini sudah malam. Mas keluar dulu menemui mas Imron!"
Zahra hanya mengangukkan kepalanya saat ustad Zaki menggiringnya ke tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Tapi jangan lama-lama ya mas, Zahra takut!" ucap Zahra saat ustad Zaki hendak meninggalkannya, ia menahan tangan ustad Zaki.
Ustad Zaki mengusap kepala Zahra yang masih tertutup hijab,
"Hmmm!" kemudian ia tersenyum begitu menyadari sesuatu, "Kamu cantik pakek ini!" pujinya lalu beranjak meninggalkan Zahra sendiri di kamarnya.
***
Ustad Zaki dan Imron kini sudah berada di teras depan penginapan. Mereka duduk berdua di temani dua cangkir kopi yang sudah menghilang asap panasnya, tidak terasa mereka sudah satu jam berada di sana, begitu banyak yang telah mereka bicarakan.
"Jadi kemungkinan besar itu ada?" tanya Imron lagi setalah mendengarkan keterangan dari ustad Zaki.
"Insyaallah begitu, saya hanya bisa berharap semoga semuanya berjalan lancar besok!"
"Kalau begitu saya masuk dulu, kasihan dek Zahra sendiri!"
"Iya, kamu benar."
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Ustad Zaki pun beranjak dari duduknya, meninggalkan Imron yang masih sendiri di tempatnya.
Perlahan ustad Zaki membuka pintu kamar yang sengaja tidak di kunci oleh Zahra, dan benar saja ternyata Zahra sudah tertidur pulas, ustad Zaki tersenyum dan menghampirinya. Rasanya begitu merindukan wanita itu, ia tidak menyangka hanya berada jauh darinya beberapa hari saja sudah membuatnya rindu.
"Mas mencintaimu!" bisiknya sambil meninggalkan kecupan di bibir Zahra, bibir milik wanita yang telah berhasil mengalihkan dunianya, seandainya saja ia bisa memilih, mungkin ia tidak akan memilih menjauh. Keadaan ini benar-benar menyiksanya, tapi ia harus tetap bersabar demi yang terbaik.
Perlahan ia mulai membawa tubuhnya naik ke atas tempat tidur dan menyusup di balik selimut yang sama dengan Zahra. Ingin rasanya meluapkan rasa rindunya, tapi untuk saat ini sepertinya bisa menikmati wajah cantik Zahra istrinya sudah cukup baginya.
Sepanjang malam bahkan ustad Zaki memilih terjaga untuk menatap wajah cantik istrinya, seolah-olah jika saja ia tertidur maka istrinya akan menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Ia hanya tertidur sejenak sebagai syarat untuk menjalankan sholat tahajud, mengadukan segala permasalahannya pada sang kuasa, dan meminta keutuhan rumah tangganya agar selalu dilindungi dari segala prasangka.
Zahra yang mulai terbiasa terbangun di malam hari, tersenyum menatap seseorang yang tengah duduk di atas sajadahnya, ia merindukannya beberapa hari ini,
Ya Allah ini rasanya seperti mimpi, aku takut saat seperti ini tidak akan pernah aku lalui lagi dalam hidupku ...
Rupanya ustad Zaki menyadari jika Zahra sudah terbangun dan tengah memperhatikannya,
"Dek, kamu pasti terganggu. Tidurlah lagi aku akan segera matikan kembali lampunya!"
Zahra segera menggelengkan kepalanya, ia juga segera merubah posisinya menjadi duduk. Ustad Zaki segara beranjak dari tempatnya dan menghampiri sang istri,
"Nanti akan jadi hari yang panjang, tidurlah lagi!" ucapnya sambil mengusap rambut Zahra yang berantakan karena bangun tidur, ia bahkan tidak sadar jika jilbabnya sudah terlepas dari kepalanya, ia tidak ingat sudah melepasnya semalam.
Cup
Sekali lagi sebuah kecupan mendarat di keningnya,
"Tidurlah!" perintah ustad Zaki lirih tapi Zahra kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku juga ingin sholat tahajud!?" ucapnya kemudian membuat ustad Zaki mengerutkan keningnya tidak percaya,
"Aku ingin belajar banyak dari mas ustad!"
"Maksud dek Zahra?"
"Aku dan mas ustad tahu ini hanya cobaan, tapi mas ustad tidak pernah menyalahkan Allah atas apa yang menimpa mas ustad, aku malu jika berpikir jika Allah tidak adil. Iya kan mas?"
Ustad Zaki tersenyum dan mengangukkan kepalanya,
"Ambilah wudhu, aku akan menunggumu!"
"Hmmm!"
Zahra pun dengan semangat turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi,
Mereka akhirnya sholat tahajud bersama dan di lanjut sholat subuh, di tempat asing ini ustad Zaki enggak meninggalkan sang istri sendiri.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...