
Cahaya jingga menghiasi langit Bandung sore ini, pria yang identik dengan peci dan kemeja putihnya tengah menikmati kopi panas di salah satu sudut sebuah kedai lalapan. Sesekali terlihat bibirnya tersenyum menatap lalu lalang jalanan yang cukup pada di sore hari, waktu sibuk para karyawan yang pulang dari tempat kerjanya, beberapa ada yang menyempatkan singgah di kedai pinggir jalan hanya sekedar untuk mencari makan atau membungkus makanan untuk di bawa pulang.
Rasanya sudah lama sekali ...
Begitulah yang di rasakan pria itu, terlalu menikmati kehidupan tenang di pedesaan nyatanya tidak membuat dia lupa bagaimana sibuknya kota kelahirannya, kota yang telah memberinya banyak pelajaran.
Dulu sepertinya aku terlalu takut untuk kembali ...
Rasa takut tidak bisa di terima kembali membuatnya tidak berani kembali untuk waktu yang lama. Kesalahan di masa lalu membuatnya membayar banyak, jauh dari keluarga, jauh dari orang yang ia cintai.
Tapi nyatanya, semua tidak bisa di sesali karena tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua ada porsinya masing-masing.
Ya Allah, terlalu banyak waktu yang sudah aku buang sia-sia selama ini, maka untuk kedepannya jadikan aku hambaMu yang bermanfaat untuk banyak orang ...
"Zaki ya?" seseorang tiba-tiba menghampirinya membuat ustad Zaki terkejut, pria dengan tato penuh di bagian lengannya itu, samar-samar ia masih bisa mengenali wajahnya, "Beneran Zaki kan?"
"Assalamualaikum,"
"Biasa aja bro, aku boleh duduk kan?" tanyanya tanpa menjawab salam dari ustad Zaki. "Masih ingat aku kan, aku Antok kita dulu sering main bareng, sudah lama sekali kan kita nggak ketemu, kalah nggak salah sudah hampir lima tahunan ya, kemana aja kamu?"
Ustad Zaki tersenyum ramah, "Alhamdulillah saya baik! Bagaimana dengan kamu?"
"Aku ya gini-gini aja, masih seneng keluyuran." pria bernama Anto itu pun kemudian mengamati penampilan ustad Zaki, "Lo tobat sekarang, Zak? Jadi beneran gosip yang aku denger kalau kamu sekarang jadi ustad?"
"Alhamdulillah, tapi masih belajar!"
"Kamu jadi aneh Zak, nggak asik kayak dulu! Ya sudahlah, aku pergi dulu. Lain kali kita ketemu lagi ya, aku buru-buru sekarang!"
Pria bernama Anto itu pun akhirnya meninggalkan ustad Zaki sendiri.
Ustad Zaki masih tercengang sambil menatap kepergian pria itu, ia tidak menyangka satu persatu dipertemukan kembali dengan masa lalunya.
Mengingat masa lalunya, ia juga jadi teringat tentang surat yang di berikan abinya tadi pagi.
Ia pun segera meraih tasnya yang sedari tadi ia letakkan di kursi kosong yang ada di sebelahnya, ia mencari benda kecil yang ia selipkan di saku tas.
Perlahan tangannya membuka amplop putih itu dan ia keluarkan secarik kertas yang terlipat rapi dari dalam amplop itu.
Assalamualaikum, ustad Zaki
Mungkin saat ustad membaca surat ini, Nafis dan keluarga Nafis sudah tidak di rumah lagi,
Nafis belum sempat menyampaikan maksud ustad sama Abi Nafis, maaf. Bukan karena Nafis sengaja tapi karena belum ada kesempatan.
Sekiranya, mungkin Nafis berdosa karena masih memiliki perasaan ini, sekali lagi maafkan Nafis, Nafis terlalu sibuk dengan perasaan Nafis.
Tapi Nafis tidak pernah menyesal telah menunggu ustad selama ini, meskipun kenyataan takdir berkata lain, bukan Nafis yang menjadi takdir ustad Zaki.
Nafis senang dengan ustad sekarang, dan Nafis tidak pernah menyesal telah memanggil mu ustad semenjak dulu, dan ternyata tanpa Nafis sadari itu adalah doa. Semoga ustad Zaki bisa Istiqomah
Percayalah Nafis tidak pernah menyesal pernah mengenal ustad, pernah menyisihkan waktu Nafis untuk mencintai ustad.
Kalaulah Nafis kumpulkan saat-saat gembira dalam hidup Nafis, semuanya tidak akan dapat menyamai indahnya waktu yang Nafis habiskan untuk menantu ustad.
Nafis akan selalu menyimpan cinta ini di sisa hidup Nafis, walaupun penantian ini begitu lama, jika engkau memang bukan takdir Nafis, maka Nafis bahagia pernah memilih ustad Zaki sebagai satu-satunya pria yang pernah ada di setiap doa Nafis.
__ADS_1
Nafis hanya berharap suatu saat nanti Nafis bisa dipertemukan dengan gadis yang begitu beruntung itu, gadis yang mampu mematahkan doa Nafis.
Nafis harap, ustad tidak merasa bersalah pada Nafis, karena semua yang pernah Nafis lakukan adalah hal terindah dalam hidup Nafis, Nafis tidak pernah menyesal,
Salam sayang Nafis, untuk yang terakhir kali dan setelah ini Nafis akan berusaha untuk melepaskan semuanya, doakan Nafis di beri kekuatan untuk melaluinha tanpa ustad.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi
Tangan ustad Zaki terlihat sampai bergetar membaca surat itu, ia tidak menyangka wanita itu mencintainya begitu dalam.
Rasanya ingin sekali minta maaf, seandainya ia tahu dari awal mungkin ia bisa mencegahnya dari awal juga.
Kringgg kringgg kringgg
Tiba-tiba ponselnya berdering membuat ustad Zaki dengan cepat menyimpan kembali suratnya dan mencari benda pipih yang tengah mengeluarkan suara itu.
Sebuah nama terpampang di layar ponselnya,
'My wife'
Tiba-tiba sebuah perasaan bersalah muncul, ia merasa telah mengkhianati sang istri dengan memikirkan perasaan wanita lain.
Matanya yang berkaca-kaca, penuh dengan air mata dengan. cepat ia mengusapnya agar jangan sampai sang istri melihatnya.
Setelah menyiapkan senyum termanisnya ia segera menggeser tombol terima,
"Assalamualaikum, dek!" sapanya sambil tersenyum, perasaan gundahnya tiba-tiba hilang begitu melihat wajah cantik sang istri dengan jilbab yang menutupi kepalanya itu.
"Waalaikum salam, mas ustad lagi di mana? Kenapa terlihat ramai?"
"Ohhh, Zahra kira masih di tempat seminar!"
"Tadi mas sudah kirim pesan kan, mas sudah selesai dari siang, mau telpon mas takut ganggu kerjaan kamu."
"Nggak juga mas, nih Zahra juga santai. Orang-orang di sini semuanya baik, masak ngasih kerjaan nggak masuk akal sama Zahra!" keluh Zahra seketika kening ustad Zaki berkerut,
"Nggak masuk akal gimana?" tanyanya terlihat khawatir.
"Ya masak Zahra cuma di suruh nunguin pesenan orang aja, setelah itu suruh duduk-duduk. Katanya ini pekerjaan penting,"
Ustad Zaki tampak tersenyum lega, "Itu namanya juga pekerjaan dek, memang penting!"
"Pentingnya apa, semua orang bisa melakukan itu!"
"Ya emang bisa, tapi kan dek Zahra yang di beri tugas itu, seharusnya dek Zahra bersyukur karena itu pekerjaan paling penting dek!"
"Kok bisa gitu!?" tanya Zahra tidak mengerti.
"Coba bayangi, kalau nggak ada yang menerima pesanan dari pelanggan, pelanggan kan jadi kebingungan trus mereka kesal dan memilih pergi saja, nggak jadi makan. Kan kedainya juga yang rugi, menyambut pelanggan itu merupakan salah satu bentuk pelayanan pada pelanggan, jadi nggak usah minder dek!"
"Ohhh gitu ya!?" Zahra terlihat mengangukkan kepalanya mengerti. "Oh iya, mas ustad maksudnya apa nih, aku akan sudah bilang kemarin kalau aku mau bareng sama Weni aja, eh malah sekarang weni yang ikut sama pak Dul, ini pasti kerjaan mas ustad kan?" protesnya begitu ingat.
"Iya dek, maaf! Mas memang sengaja!"
"Buat apa coba? Kan ada Weni, aku nggak mungkin macam-macam lah!"
__ADS_1
"Yakin?" tanya ustad Zaki memastikan.
"Ya_, ya yakin!?"
"Tapi mas nggak percaya!"
"Sama istrinya sendiri kok malah nggak percaya sih!?" protes Zahra lagi karena ia harus kehilangan kesempatan untuk sedikit terbebas dari pengawasan sang suami.
"Ya, habis mau gimana lagi. Mas terlalu khawatir!"
"Mas ustad terlalu mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi!"
"Mas hanya tidak ingin kecolongan aja dek!"
"Issttttt!" Zahra hanya bisa berdecak, sudah bisa di pastikan ia pasti akan kalah jika berdebat dengan suaminya.
Kemudian Zahra kembali fokus pada sang suami, ia menatap wajah sang suami, terlihat ada yang beda dari ustad Zaki,
Apa ya yang beda ..., ia sengaja mengamati wajah suaminya, hingga akhirnya ia menemukannya,
"Mas, mata mas ustad merah, kenapa? Sakit ya?"
Ustad Zaki baru menyadarinya, "Oh ini," ia pun berusaha mencari alasan yang pas, "Enggak dek, tadi kelilipan di jalan. Bentar lagi juga hilang merahnya!"
"Cepet di obati mas, takutnya iritasi!" tampak Zahra berubah khawatir, ternyata begini rasanya berada jauh dari orang yang dicintai, sedikit saja luka akan membuatnya khawatir yang lebih besar.
"Iya nanti mas cari obat tetes mata!" ustad Zaki berusaha menenangkan Zahra.
"Jangan nanti-nanti mas, sekarang aja, takutnya tambah parah!"
Ustad Zaki tersenyum, "Kan sekarang mas masi telponan sama dek Zahra."
."Ahhhh iya, ya udah Zahra tutup ya. Tapi beneran mas cari obat."
"Iya sayang!"
Zahra terlihat malu-malu mendapat panggilan itu, "Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Ustad Zaki pun segera mematikan sambungan telponnya.
Maafin mas ya dek, mas belum bisa cerita semuanya sama kamu, semoga nanti kamu bisa menerimanya ...
Kalau engkau aku ibaratkan dengan sinar jingga yang menghiasi langit sore, berarti aku mengurangi hakmu sebab engkau lebih indah dan lebih menarik untuk aku pandang
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...