Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Cemburu kali!


__ADS_3

"Jangan harap ya bisa sok baik pada Imah!" Zahra segera memberi peringatan pada suaminya itu membuat sang suami mengerutkan keningnya.


"Enggak dek, mas kan memang baik."


"Alah, paling alasan aja tuh motornya bocor biar bisa ketemu sama mas ustad, atau jangan-jangan memang biasanya begini ya!?"


"Begini apanya?" ustad Zaki tampak bingung.


"Ya begini, kalian suka diam-diam janjian di sini."


"Astaghfirullah, dek_!"


Belum sampai ustad Zaki melanjutkan ucapannya, Fatimah sudah berjalan ke arah mereka.


"Beneran nggak pa pa, aku ikut ustad?" tanya Imah sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.


sok manis banget jadi orang, caper banget ..., gerutu Zahra dalam hati. Ia pun mewakili ustad Zaki untuk mengangukkan kepalanya. Sepertinya karena ucapan yang di keluarkan oleh Zahra sesaat sebelum Imah kembali membuat ustad Zaki berpikir ribuan kali untuk bersikap manis pada Imah.


"Hmmm!" jawab ustad Zaki pelan.


Imah pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku belakang, ustad Zaki segera melajukan kembali mobilnya.


"Ini mobil ustad ya?" tanya Imah saat mobil sudah mulai berjalan.


"Bukan, ini mobil sewaan!"


"Ohhh, tapi ustad pantes deh kalau naik mobil kayak gini!"


"Masak sih!? Insyaallah nanti cari yang kayak gini!"


"Imah doain deh ustad!"


Ya ampun, serasa jadi obat nyamuk aku ...


Zahra hanya jadi pendengar diantara percakapan mereka.


"Oh iya Imah, mungkin dua hari ini aku nggak ke madrasah dulu nggak pa pa ya? Tapi aku sudah minta Amir sih untuk mengantikan aku sementara!?"


"Ada apa ustad? Nggak biasanya!"


"Nggak pa pa, hanya di rumah ada Abi sama umi!"


"Orang tua ustad Zaki?"


"Iya!"


"Ya Allah jadi pengen ke rumah ustad, pengen ketemu Abi sama uminya ustad Zaki."


"Nggak boleh!?" ucap Zahra dengan reflek membuat ustad Zaki dan Imah menatap ke arahnya. "Ehhh maksudnya, jangan dulu. Kan Abi sama umi sedang ke rumah bapak, iya kan mas?"


"Iya benar, Imah. Lagi pula Zahra juga sekolah, takutnya kalau main ke rumah hanya ada aku malah jadi fitnah!"

__ADS_1


"Nggak kok ustad, maksud Imah juga gitu. Imah kalau mau main ke rumah ustad pasti juga nunggu Zahra di rumah!"


Hingga akhirnya mobil berhenti di lampu merah,


"Oh iya, dek. Aku antar kamu dulu baru antar Imah ya. Takutnya kamu telat!" ucap ustad Zaki.


"Nggak, nggak!? Zahra nggak keburu telat kok, antar aja mbak Imah duluan!" Zahra segera menolak, ia sudah membayangkan hal-hal yang tidak di inginkan saat ada dua orang yang bukan mahram duduk berdua dalam satu mobil.


"Nggak pa pa, nanti Imah turun di depan sana saja. Kasihan Zahra kalau sampai terlambat." Imah pu. segera memberi usul.


"Nah itu lebih bagus!" Zahra cukup senang dengan usulan Imah, setidaknya ia tidak perlu khawatir suaminya duduk dalam satu mobil bersama wanita lain.


"Tapi bukankah pertigaan itu masih jauh dari kampus?"


"Kenapa mas yang keberatan, mbak Imah aja nggak keberatan. Iya kan mbak?"


"Iya, benar!" jawab Imah dengan sedikit kecewa, padahal ia berharap ustad Zaki akan memaksanya untuk tetap memberi tumpangan sampai kampus.


"Ya sudah."


Setelah mobil berjalan sebentar, akhirnya mobil pun kembali berhenti di pertigaan utnkn menurunkan Imah,


"Terimakasih ustad atas tumpangannya!"


"Sama-sama!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


"Dek, mas lihat dek Zahra kesal banget sama Imah, ada apa?" tanya ustad Zaki sambil fokus dengan kemudinya.


Emang keliatan banget ya? Zahra menatap pantulan wajahnya dari kaca kecil yang tergantung di depan.


"Siapa bilang, enggak!"


"Kelihatan loh, dek! Mas cuma khawatir jika Imah sampai tersinggung!"


Mendengar hal itu, dengan cepat Zahra menoleh pada ustad Zaki dengan tatapan yang tajam sedikit amarah,


"Jadi maksudnya perasaan mbak Imah lebih penting?"


Yah salah ngomong lagi aku ..., ustad Zaki segera menepuk dadanya.


"Bukan gitu dek! Tadi mas cuma_!"


"Cuma apa? Cuma mau bilang kalau mbak Imah itu wanita yang cantik, baik, kalem, pinter agama nggak kayak Zahra yang urakan, gitu?"


"Dek Zahra kok jadi membandingkan dek Zahra sama Imah sih!? Bukan gitu maksud mas, sampai kapanpun dek Zahra tetap yang terbaik untuk mas!"


"Gombal!"

__ADS_1


Akhirnya mobil sampai juga di depan sekolah Zahra, Zahra pun dengan kesal membuka pintu mobil dan segara turun. Ia menutup pintu mobil itu dengan kasar membuat ustad Zaki terkejut,


Saat hendak melangkah, ia kembali mengetuk pintu mobil membuat ustad Zaki menurunkan kembali kaca mobilnya,


"Satu lagi, nanti nggak usah deh jemput-jemput. Jemput aja tuh sih Imah yang paling baik!"


Setelah mengatakan hal itu, Zahra pun segera berbalik. Ia tidak peduli dengan panggilan ustad Zaki yang sudah turundl dari mobil,


"Dek, dek! Tunggu!"


"Bodo!"


Akhirnya Zahra benar-benar masuk ke sekolah meninggalkan ustad Zaki yang berdiri di depan gerbang sekolah,


"Padahal uang sakunya masih belum kebawa." gumam ustad Zaki sambil memegangi uang saku yang seharusnya ia berikan pada Zahra.


"Assalamualaikum ustad!?" sapaan seseorang dari belakang membuat ustad Zaki sedikit terkejut. Udnatd Zaki segera membalik badannya, melihat siapa yang menyapanya.


"Waalaikum salam, bu_!" ustad Zaki tampak mengingat guru perempuan muda yang berdiri di depannya itu.


"Bu Chusna, Chusna, ustad!"


"Iya Bu Chusna. Maaf saya lupa!"


"Tidak pa pa, memang kita baru bertemu beberapa kali saja. Oh iya, ustad ada masalah apa?"


"Kebetulan sekali ketemu ibu guru. Boleh tidak saya minta tolong?"


"Pasti ustad, apa aja!"


"Saya titip uang saku dek Zahra sama ibu, nggak pa pa ya?" ustad Zaki berbicara sambil menyerahkan uangs aku milik Zahra dan tampak Bu Chusna begitu senang menerimanya.


"Nggak pa pa, saya senang bisa bantu ustad. Saya terima ya!"


"Terimakasih ya Bu, kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ternyata hanya beberapa langkah dari gerbang, Zahra teringat dengan uang sakunya hingga membuatnya berbalik. Tapi ia begitu kesal saat melihat ustad Zaki yang tengah berbicara dengan Bu Chusna. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.


"Sok ganteng banget sih jadi orang, sini iya, sana juga iya. Sudah mesum suka tebar pesona lagi!" gerutu Zahra sambil terus berjalan menyusuri lorong depan kelas menuju ke kelasnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2