Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Kelakuan ustad Zaki


__ADS_3

Zahra yang menyadari arah tatapan ustad Zaki, segera menarik tangannya.


Dengan cepat Zahra menarik tangannya dari genggaman Bayu, jantung Zahra seketika. berdegup kencang rasa nyeri di perutnya seakan berpindah ke dadanya.


Ya ampun, dia marah nggak ya ..., jantung Zahra semakin tak karuan saat melihat tahapan pria yang perlahan mendekat padanya. Seolah-olah ia menjadi pencuri yang ketahuan.


Kemudian tatapan ustad Zaki beralih pada paha mulus Zahra yang terekspose hampir setengahnya, dengan cepat Zahra mengambil selimut yang masih terlipat rapi di sampingnya dan menutupnya pada kakinya walaupun hanya sampai bawah lutut,


"Assalamualaikum!" Sapa Ustad Zaki, sepertinya ia baru sadar jika belum mengucapkan salam karena terlalu khawatir.


"Waalaikum salam." jawab zahra dengan suara yang bahkan tersekat di lehernya.


Kemudian tatapan ustad Zaki beralih pada anak laki-laki yang bahkan tidak berpindah dari kursinya,


Setelah menyadari arah tatapan tajam itu di tujukan padanya, dengan cepat Bayu menggeser duduknya dan berdiri. Memberi tempat pada pria berpeci yang baru saja datang.


"Maaf mas, mas ini pasti masnya Zahra ya? kenalkan saya Bayu!" Bayu mengulurkan tangannya tanpa berdosa dan masih dengan tatapan yang sama ustad Zaki menyambut tangan Bayu.


"Saya Zaki!?" ucap ustad Zaki tanpa mengubah mode tatapannya, sebuah tatapan yang sulit di terjemahkan.


"Saya_!" ucap Bayu lagi tapi segera di potong oleh Zahra.


Gawat nih, jangan sampai Bayu ngomong macam-macam, bisa mati aku ....


"Dia teman Zahra, mas. Dulu satu kelas pas kelas satu! Iya kan Bayu?" tanya Zahra pada Bayu agar Bayu menyetujui ucapannya.


"I_iya!"


"Bayu tadi yang bawa Zahra ke sini, karena Zahra pingsan di kelas."


Ustad Zaki benar-benar tidak berniat melepas tangan Bayu,


"Terimakasih karena sudah memperhatikan dek zahra." Tangan ustad Zaki semakin menekan keras pada tangan Bayu bersamaan dengan tatapan yang keras itu juga membuat anak laki-laki itu sedikit meringis.


"Tapi karena saya sudah datang. Sampean boleh kembali ke kelasnya!? Karena saya yang akan memperhatikan dek Zahra."


"I_iya mas!" ucap Bayu dengan gugup bersamaan dengan ustad Zaki yang melepas genggaman tangannya.

__ADS_1


"Zahra, aku pergi dulu ya. Cepat sembuh!" ucap Bayu dan tangannya hendak mendarat di kepala Zahra tapi segera terhenti di udara karena ucapan ustad Zaki.


"Kamu bukan muhrim dek Zahra, akan lebih baik jika tidak ada kontak fisik pada dek Zahra."


Bayu menatap tangannya yang masih melayang di udara dan kembali menariknya,


"Saya permisi!"


"Silahkan!"


Bayu pun beranjak dari tempatnya,


"Waalaikum salam!?" ucapan ustad Zaki berhasil menghentikan langkah Bayu yang baru mencapai ambang pintu dan anak itu pun kembali menoleh ke belakang,


"Assalamualaikum!" ucap Bayu sambil tersenyum kikuk.


"Waalaikum salam."


Kini di ruangan itu tersisa Zahra dan ustad Zaki dengan suasana yang hening.


Dia marah ya ...


"Mas ustad, tadi_!"


"Sudah jangan pikirkan macam-macam, kita pulang. Biar aku ambil tasmu di kelas." ustad Zaki langsung berbalik dan dengan suasana yang masih dingin.


Tepat saat ia langkah ustad Zaki sampai di ambang pintu, pintu itu terbuka dari luar.


"Maaf, mengagetkan!?" ucap wanita yang masih seumuran dengan ustad Zaki dengan pakaian khas guru itu saat melihat ustad Zaki memundurkan langkahnya dengan tiba-tiba.


Ustad Zaki pun menundukkan pandangannya dan memberi jarak sedikit lebih lebar dari sebelumnya,


"Tidak pa pa Bu."


"Saya Chusna, wali kelas Zahra." ucap Bu Chusna, wali kelas Zahra sekaligus merangkap sebagai guru bahasa Indonesia. Guru cantik nan killer.


"Saya Zaki. Saya_!"

__ADS_1


"Pasti kakaknya Zahra ya, katanya Zahra mempunyai kakak laki-laki. Senang bertemu dengan mas Zaki."


Ustad Zaki hanya bisa tersenyum tipis hingga memperlihatkan lesung pipinya.


Kenapa Bu Chusna wajahnya kayak gitu? batin Zahra saat melihat tingkah Bu Chusna yang sepertinya salah tingkah.


"Oh iya, mas_, Zaki. Saya ke sini mau mengantar tasnya Zahra. Zahra mendapat Dispen hari ini, kalau masalah ulangan, Zahra bisa mengikuti ulangan susulan."


"Baik Bu, terimakasih. Kalau begitu saya ijin membawa dek Zahra pulang."


"Iya silahkan! Ini tasnya!" Bu Chusna menyerahkan tas milik Zahra, sejenak ustad Zaki menoleh ke arah Zahra lalu mengambil tas itu di ujungnya agar tidak bersentuhan dengan Bu Chusna.


Ustad Zaki pun kembali menghampiri Zahra,


"Bisa jalan sendiri, atau perlu Ama gendong?"


"Jalan sendiri saja!" ucap Zahra lalu turun dari atas tempat tidur, tapi baru memakai sepatunya saja tiba-tiba Zahra sudah mengaduh sambil memegangi perutnya.


Ustad Zaki segera menenteng tas Zahra di punggungnya dan dengan cepat menarik tubuh Zahra dalam gendongan ustad Zaki membuat Zahra terpekik karena terkejut, dengan reflek ia mengalungkan tangannya ke leher ustad Zaki.


"Mas, aku mau jalan sendiri!" rengek Zahra.


"Biar mas gendong saja."


Bu Chusna yang masih berada di tempatnya sampai terpana di buatnya, ia bisa membayangkan bagaimana jika dirinya berada di posisi Zahra saat ini, di gendong oleh pria setampan ustad Zaki.


"Kami permisi dulu Bu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" bahkan pandangan Bu Chusna tidak beralih dari menatap kepergian ustad Zaki dan Zahra.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2